Sukses dan Gagal, Dua Kata Sederhana yang Ternyata Tidak Sederhana

Ragam Opini20 Dilihat

Dalam iklim akademis maupun kehidupan sosial sehari-hari, kita sering kali mendengar klaim keberhasilan atau vonis kegagalan dijatuhkan secara mutlak. “Program ini sukses besar,” atau “Penelitian itu gagal total,” menjadi label-label hitam-putih yang dengan mudah berseliweran. Namun, sebagai insan yang bergerak di dunia penelitian dan ilmiah, sebuah pertanyaan mendasar kerap mengusik nalar kritis kita: Bukankah sukses dan gagal itu memiliki indikator yang jelas dan terukur? Lalu, mengapa kita begitu gemar menyederhanakannya secara ekstrem?

Realitas di lapangan sering kali memperlihatkan fenomena psikologis dan metodologis yang menggelitik. Di satu sisi, ada kelompok orang yang dengan sangat mudah menyatakan diri atau kelompoknya telah mencapai kesuksesan mutlak hanya karena satu indikator berhasil terpenuhi. Mereka melakukan generalisasi sepihak, membesar-besarkan satu pencapaian kecil, sembari menghiraukan belasan parameter penting lainnya yang sebenarnya berantakan. Dalam ilmu logika, ini disebut sebagai Fallacy of Composition—sebuah sesat pikir yang mengasumsikan bahwa jika satu bagian kecil dari sebuah sistem berhasil, maka seluruh sistem tersebut otomatis dianggap berhasil.

Di sisi ekstrem yang lain, kita juga kerap menyaksikan fenomena yang tidak kalah ironis: seseorang atau suatu sistem divonis gagal total dan dinistakan secara menyeluruh hanya karena satu indikator meleset dari target. Padahal, jika dibedah secara objektif, belasan indikator lainnya menunjukkan performa yang luar biasa dan melampaui ekspektasi. Generalisasi yang destruktif ini tidak hanya mematikan motivasi, tetapi juga melahirkan bias kognitif yang disebut Overgeneralization, di mana satu titik cacat digunakan untuk menodai seluruh kain putih perjuangan.

Ketika berhadapan dengan situasi demikian, benturan idealisme sering kali terjadi, terutama bagi seorang peneliti. Saat melakukan sebuah kajian atau penelitian terhadap suatu fenomena, selalu saja ada tekanan dari lingkungan atau pihak tertentu yang memaksa agar hasil penelitian kita bersifat general, instan, dan mudah dibaca secara hitam-putih. Padahal, realitas lapangan bersifat multidimensi dan kompleks. Sangat sulit bahkan cenderung naif jika kita harus mereduksi kompleksitas tersebut demi memuaskan selera publik yang menyukai simplifikasi.

Bagi saya, objektivitas adalah harga mati yang harus dipertahankan dalam meneliti. Objektivitas ini dinilai dari ketegasan dan kejujuran kita dalam menguji setiap indikator yang dipakai. Jika suatu subjek setelah diuji terbukti memenuhi Indikator A, maka secara proporsional kita harus menyatakan ia sukses di parameter Indikator A. Sebaliknya, jika ia tidak teruji pada Indikator B, maka ia dinyatakan belum berhasil pada parameter Indikator B. Penilaian harus diletakkan secara adil pada porsinya masing-masing, bukan dipaksa untuk ditarik menjadi kesimpulan umum yang bias dan menyesatkan. Memaksa generalisasi pada sesuatu yang tidak general adalah bentuk pengkhianatan terhadap kejujuran ilmiah.

Namun, selain persoalan metodologis dan angka-angka di atas kertas, ada satu dosa kolektif yang jauh lebih besar yang sering kita lakukan sebagai manusia: kita sering kali menyembah hasil akhir dan melupakan proses yang ada di baliknya. Dalam mengejar pemenuhan indikator, ada perjuangan berdarah-darah, pengorbanan waktu, energi, dan pikiran yang luar biasa yang harus dilalui.

Tercapainya sebuah indikator seharusnya tidak hanya diukur secara kaku pada angka final, melainkan juga diapresiasi berdasarkan seberapa maksimal seseorang telah mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya (all-out) demi mencapai tujuan tersebut. Sayangnya, masyarakat kita cenderung mengalami outcome bias sebuah kecenderungan di mana apresiasi terhadap proses dikesampingkan, dan kegagalan pada hasil akhir langsung dianggap sebagai aib fatal. Hinaan dan sinisme terhadap kegagalan hasil dirasa lebih pantas dilayangkan daripada sebuah penilaian yang bijak terhadap kesungguhan perjuangan.

Ketidakadilan penilaian ini diperparah oleh fakta bahwa definisi kata “matang” dalam sebuah rencana itu sangat subjektif dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Sebuah perencanaan bisa saja dinilai sangat matang dari sudut pandang individu A, namun bagi individu B dan C, tolok ukur kematangan berada pada parameter yang sepenuhnya berbeda. Kecuali dalam rumpun ilmu pasti (exact) yang hukum sebab-akibatnya bersifat mutlak dan hasilnya tak tergoyahkan, hasil akhir dari setiap perkara yang rumit di dunia sosial dan manajemen selalu bersifat bias dan penuh ketidakpastian. Kepastian hasil akhir sangat bergantung pada variabel-variabel eksternal yang sering kali berada di luar kendali manusia.

Jika kita menilik dari kacamata spiritual, khususnya dalam nilai-nilai Islam, realitas ketidakpastian hasil ini justru mendudukkan manusia pada porsi yang semestinya sebagai makhluk. Manusia diperintahkan untuk melakukan ikhtiar atau usaha secara maksimal sebagai sebuah kewajiban moral dan bentuk ketaatan. Namun, kepastian mengenai tercapainya tujuan atau hasil akhir bukanlah wilayah makhluk; itu adalah hak prerogatif mutlak Tuhan.

Tugas kita sebagai manusia hanyalah berikhtiar dengan segenap kemampuan, membangun perencanaan seoptimal mungkin, senantiasa berprasangka baik (husnuzan) atas apa pun ketetapan-Nya, dan menerima hasil akhir tersebut dengan rasa syukur yang mendalam. Baik hasil itu berupa kesuksesan yang manis maupun kegagalan yang pahit, nilai seorang manusia tidak berkurang jika ia telah menuntaskan ikhtiarnya dengan jujur.

Sebab pada akhirnya, penilaian yang sejati dan patut diapresiasi tidak melulu tentang megahnya panggung hasil akhir yang tampak di permukaan. Sudah saatnya kita memperluas sudut pandang kita, melatih kelenturan berpikir untuk melirik dan menghargai proses, serta berhenti menyederhanakan realitas multidimensi dengan label sukses-gagal yang dangkal. Menilai sesuatu berdasarkan indikator spesifik dan menghargai kesungguhan proses di baliknya bukan hanya bentuk kejujuran ilmiah, melainkan juga bentuk kemanusiaan kita yang paling mendasar.*

Penulis: Muhammad Arfan,

Mahasiswa Program Pascasarjana Manajemen angkatan 2025, Universitas Siliwangi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *