RADAR TASIKMALAYA – “Ngaji Ngopi” merupakan pendekatan dakwah di era digital; dakwah yang tidak cukup hanya mengandalkan mimbar dan ceramah formal. Perubahan pola komunikasi masyarakat menuntut hadirnya pendekatan yang lebih terbuka, komunikatif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Masyarakat, khususnya generasi muda, membutuhkan ruang belajar agama yang tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga menghadirkan kenyamanan dan kebersamaan.
Salah satu contoh menarik adalah Majelis Ngaji Ngopi yang dipimpin oleh Hadad Abdussalam. Melalui konsep sederhana berupa kajian agama sambil menikmati secangkir kopi, majelis ini berhasil membangun suasana yang hangat dan akrab. Jamaah merasa bebas berdiskusi, bertanya, dan berbagi pengalaman tanpa rasa sungkan.
Kajian penulis dilaksanakan di Majelis Ngaji Ngopi yang berlokasi di Kelurahan Mulyasari, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya. Lokasi ini dipilih karena menjadi pusat kegiatan dakwah Hadad Abdussalam. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa metode bil hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujadalah mampu meningkatkan pemahaman agama, ukhuwah islamiyah, dan kepedulian sosial masyarakat. Pendekatan humanis yang diterapkan menjadikan majelis ini sebagai contoh dakwah yang relevan di era modern.
Jamaah yang mengikuti kegiatan Majelis Ngaji Ngopi tidak hanya berasal dari sekitar Kelurahan Mulyasari, tetapi juga datang dari berbagai wilayah di sekitar Kecamatan Tamansari. Selain itu, terdapat pula jamaah yang berasal dari beberapa kecamatan lain di Kota Tasikmalaya, seperti Kecamatan Cibeureum, Kawalu, Mangkubumi, Indihiang, Bungursari, dan Purbaratu. Dalam beberapa kesempatan, majelis ini juga dihadiri oleh jamaah dari wilayah Kabupaten Tasikmalaya, seperti Singaparna, Sukarame, Cisayong, Manonjaya, Rajapolah, dan Leuwisari.
Keberagaman asal daerah jamaah menunjukkan bahwa metode dakwah yang diterapkan Hadad Abdussalam mampu menarik minat masyarakat dari berbagai latar belakang. Perbedaan usia, pendidikan, pekerjaan, dan domisili tidak menjadi penghalang bagi jamaah untuk mengikuti kajian, sehingga Majelis Ngaji Ngopi berkembang menjadi wadah pembinaan keagamaan yang inklusif, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta memperluas jangkauan dakwah di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya.
Keberhasilan majelis ini tidak hanya terletak pada konsepnya, melainkan pada metode dakwah yang digunakan. Pendekatan al-hikmah diterapkan melalui penyampaian materi yang bijaksana dan sesuai dengan kondisi jamaah. Al-mau’izhah al-hasanah diwujudkan melalui nasihat yang menyentuh, memotivasi, serta disertai keteladanan. Sementara itu. Al-mujadalah tampak dalam budaya dialog yang menarik sehingga perbedaan pendapat menjadi sarana belajar bersama.
ERA BARU DUNIA DAKWAH
Penulis menyaksikan langsung bahwa metode dakwah yang dipilih seperti ini berdampak positif terhadap kehidupan jamaah. Partisipasi masyarakat dalam pengajian meningkat, kualitas ibadah menjadi lebih baik, ukhuwah Islamiyah semakin kuat, dan kepedulian sosial berkembang. Dakwah tidak hanya mengubah pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku keagamaan.
Majelis Ngaji Ngopi menghadirkan konsep dakwah yang berbeda dengan majelis taklim pada umumnya. Suasana kajian dikemas lebih santai melalui kebersamaan dalam kegiatan ngopi tanpa mengurangi kesakralan penyampaian ajaran Islam. Pendekatan ini menjadikan jamaah lebih nyaman untuk mengikuti kajian, berdiskusi, dan menyampaikan berbagai persoalan kehidupan yang mereka hadapi.
Dakwah tidak hanya menjadi media penyampaian ilmu agama, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi dan pembinaan karakter masyarakat. Dalam menyampaikan dakwahnya, Hadad Abdussalam menerapkan metode yang berlandaskan firman Allah dalam Surah an-Nahl ayat 125, yaitu bil hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujadalah. Ketiga metode tersebut diterapkan secara seimbang sesuai kondisi jamaah yang hadir dalam setiap kegiatan pengajian.
Metode bil hikmah diwujudkan melalui penyampaian materi secara bijaksana dengan mempertimbangkan latar belakang, usia, tingkat pendidikan, serta kondisi sosial jamaah. Bahasa yang digunakan sederhana, santun, dan mudah dipahami sehingga pesan-pesan keagamaan dapat diterima tanpa menimbulkan kesan menggurui. Pendekatan ini membuat jamaah merasa dihargai dan terdorong untuk terus belajar memperdalam ajaran Islam. Sementara itu, metode mau’izhah hasanah diterapkan melalui pemberian nasihat yang menyentuh hati. Materi dakwah sering disampaikan dengan kisah para nabi, pengalaman kehidupan sehari-hari, motivasi, dan penguatan akhlak. Cara penyampaian yang lembut membuat jamaah tidak hanya memahami isi kajian secara intelektual, tetapi juga terdorong untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, Hadad Abdussalam juga menerapkan metode mujadalah melalui dialog yang santun. Jamaah diberikan kesempatan bertanya, berdiskusi, bahkan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan adanya ruang dialog tersebut, proses dakwah menjadi lebih interaktif sehingga jamaah memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan tidak hanya menjadi pendengar pasif.
Pendekatan dakwah seperti ini menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah bukan semata-mata ditentukan oleh kemampuan berbicara seorang da’i, melainkan oleh kemampuannya membangun komunikasi yang baik dengan jamaah. Ketika dakwah dilakukan dengan penuh hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun, maka pesan-pesan Islam akan lebih mudah diterima dan diamalkan oleh masyarakat.
DAKWAH YANG BERDAMPAK
Berdasarkan pengamatan terhadap kegiatan Majelis Ngaji Ngopi, metode dakwah yang diterapkan memberikan dampak positif terhadap kehidupan jamaah. Terjadi peningkatan pemahaman keagamaan, tumbuhnya semangat beribadah, meningkatnya kepedulian sosial, serta terbentuknya hubungan yang lebih harmonis antaranggota masyarakat. Dakwah yang disampaikan tidak hanya berhenti pada penyampaian materi, tetapi mampu melahirkan perubahan sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam.
Di era digital saat ini, masyarakat membutuhkan dakwah yang menyejukkan, inklusif, dan mampu menjadi solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Majelis Ngaji Ngopi memberikan contoh bahwa dakwah dapat dilakukan melalui pendekatan yang sederhana namun tetap berpegang teguh pada ajaran Islam. Suasana yang akrab dan komunikatif justru menjadi kekuatan dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat.
Metode dakwah Hadad Abdussalam di Majelis Ngaji Ngopi menunjukkan bahwa dakwah yang berlandaskan bil hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujadalah mampu membangun kedekatan antara da’i dan jamaah serta mendorong lahirnya perubahan sosial yang positif. Dakwah seperti inilah yang relevan untuk terus dikembangkan sebagai ikhtiar membangun masyarakat yang religius, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Selain memberikan pemahaman keagamaan, Majelis Ngaji Ngopi juga berhasil membangun budaya literasi dan berpikir kritis di kalangan jamaah. Setiap kajian tidak hanya diisi dengan penyampaian materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada jamaah untuk mengemukakan pandangan, bertanya, dan mengaitkan materi dengan realitas kehidupan sehari-hari. Pola pembelajaran seperti ini menjadikan dakwah lebih hidup karena jamaah berperan aktif dalam proses belajar, sehingga nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga mampu diterapkan dalam berbagai persoalan sosial yang mereka hadapi.
Keberadaan Majelis Ngaji Ngopi juga menunjukkan bahwa dakwah mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai syariat. Pemanfaatan media sosial untuk menyebarkan dokumentasi kajian, kutipan-kutipan hikmah, serta informasi kegiatan menjadi salah satu strategi yang efektif dalam menjangkau masyarakat yang lebih luas, khususnya generasi muda. Dengan demikian, dakwah tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu, melainkan dapat hadir di berbagai platform digital sebagai media penyebaran nilai-nilai Islam yang menyejukkan dan penuh hikmah.
INKLUSIF, KOMUNIKATIF, KONTEKSTUAL
Metode dakwah yang diterapkan memberikan pengaruh nyata terhadap perubahan sosial masyarakat sekitar. Hadad Abdussalam umumnya menggunakan metode ceramah, keteladanan, dan pendekatan personal dalam menyampaikan pesan-pesan agama. Namun, ditemukan pula adanya sebagian jamaah yang hadir dengan penampilan bertato serta banyak jamaah yang memiliki masa kelam.
Implikasi yang terjadi di masyarakat dapat dilihat dari meningkatnya partisipasi warga dalam kegiatan keagamaan, perubahan sikap dalam berinteraksi sosial, serta meningkatnya kesadaran akan pentingnya akhlak dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, masih terdapat tantangan dalam upaya membentuk suasana dakwah yang sejuk dan santun.
Berdasarkan hasil kajian, Hadad Abdussalam menyatukan pola pikir jamaah di Majelis Ngaji Ngopi melalui pendekatan dakwah yang inklusif, komunikatif, dan kontekstual. Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa yang sederhana, disertai dialog interaktif, sehingga jamaah dari berbagai latar belakang dapat memahami pesan dakwah dengan baik.
Melihat keberhasilan pendekatan tersebut, metode dakwah yang diterapkan Hadad Abdussalam layak dijadikan inspirasi bagi para da’i dan lembaga dakwah lainnya. Pendekatan yang humanis, komunikatif, serta mengedepankan dialog membuktikan bahwa dakwah akan lebih mudah diterima apabila disampaikan dengan penuh empati dan memahami kondisi mad’u (target dakwah). Oleh karena itu, pengembangan model dakwah seperti Majelis Ngaji Ngopi diharapkan mampu melahirkan generasi muslim yang tidak hanya memiliki pemahaman agama yang baik, tetapi juga berakhlak mulia, toleran, peduli terhadap sesama, serta siap menghadapi tantangan kehidupan di era modern.
Oleh: Lutfi Hidayat
Mahasiswa Prodi KPI UNIK Cipasung






