Merawat Jiwa yang Sedang Bertumbuh: Kesehatan Mental Mahasiswa dan Peran Kampus yang Tak Boleh Diam

Kesehatan33 Dilihat

Di ruang konseling kami, sering kali cerita dimulai dari hal yang terdengar sangat “akademik”. Seorang mahasiswa datang karena indeks prestasinya menurun. Mahasiswa lain mengeluh skripsinya mandek berbulan-bulan, atau merasa jenuh dan kehilangan gairah kuliah. Namun setelah beberapa sesi, ketika rasa aman mulai tumbuh, cerita yang sesungguhnya perlahan muncul: kelelahan yang tak kunjung reda, kecemasan setiap membuka laptop, kesepian di tengah keramaian, dan keyakinan diam-diam bahwa mereka telah mengecewakan semua orang. Nilai yang turun ternyata hanyalah permukaan. Di bawahnya, ada jiwa yang sejak lama menahan beban seorang diri. Kisah seperti ini bukan pengecualian. Ini justru menjadi pola yang berulang di meja konseling kampus mana pun. Dan pola itulah yang mendorong saya menuliskan satu hal secara terbuka: kesehatan mental mahasiswa adalah urusan kita bersama, dan keberadaan layanan bimbingan dan konseling di kampus bukan pelengkap, melainkan kebutuhan.

Generasi yang Tampak Baik-Baik Saja

Salah satu hal yang paling menipu dari persoalan kesehatan mental adalah wajahnya yang sering terlihat “biasa saja”. Mahasiswa yang tersenyum di kelas, aktif berorganisasi, dan rajin mengunggah momen bahagia di media sosial bisa jadi sedang berjuang keras di dalam dirinya. Di era digital, banyak dari mereka justru mahir menyembunyikan tekanan di balik unggahan yang tampak ceria. Kebahagiaan yang terpampang kerap hanyalah topeng, sementara kelelahan batin yang sesungguhnya tak pernah tersentuh.

Kita terbiasa menganggap kesehatan fisik dan kesehatan mental sebagai dua hal yang terpisah. Padahal manusia adalah satu kesatuan utuh. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merumuskannya dengan ringkas namun tegas: tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental. WHO memaknai kesehatan mental bukan sekadar ketiadaan gangguan jiwa, melainkan kondisi sejahtera yang membuat seseorang mampu mengenali potensinya, mengatasi tekanan hidup yang wajar, belajar dan bekerja secara produktif, serta berkontribusi bagi lingkungannya. Dengan definisi itu, seorang mahasiswa yang secara fisik sehat namun setiap pagi kehilangan tenaga dan makna untuk berangkat kuliah sesungguhnya sedang tidak baik-baik saja. Bukan persoalan sepele, secara global WHO mencatat gangguan seperti depresi telah menjadi salah satu penyumbang beban penyakit terbesar di dunia melampaui banyak penyakit fisik yang selama ini lebih kita takuti. Namun karena jarang terlihat dan sulit dibicarakan, ia kerap dibiarkan tumbuh dalam diam.

Angka yang Tidak Boleh Kita Abaikan

Data nasional memberi kita alasan untuk serius. Survei Kesehatan Mental Nasional Remaja Indonesia (I-NAMHS) tahun 2022—hasil kolaborasi Universitas Gadjah Mada, University of Queensland, dan Johns Hopkins—menemukan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir, dan satu dari dua puluh mengalami gangguan mental yang terdiagnosis. Yang lebih memprihatinkan, hanya sekitar 2,6 persen di antara mereka yang benar-benar mengakses layanan. Remaja-remaja inilah yang hari ini duduk di bangku kuliah, membawa serta beban yang belum sempat ditangani.

Survei yang sama menyingkap satu pola budaya yang penting: sebagian besar keluarga yang menyadari anaknya membutuhkan bantuan justru memilih menyelesaikannya sendiri atau cukup dengan dukungan keluarga dan teman. Ada semacam keyakinan bahwa persoalan jiwa adalah aib yang harus ditanggung diam-diam, atau ujian yang mesti dipikul seorang diri. Keyakinan itu, sayangnya, sering kali justru menunda pertolongan yang seharusnya datang lebih awal. Ketika masuk ke jenjang perguruan tinggi, tekanan tidak berkurang, melainkan berganti bentuk. Penelitian Astutik dan kolega (2020) yang dirujuk Fakultas Psikologi Universitas Indonesia mencatat bahwa di kalangan mahasiswa Indonesia, sekitar 51 persen mengalami kecemasan, 39 persen mengalami stres, dan 25 persen mengalami gejala depresi. Tuntutan prestasi, tenggat tugas yang bertumpuk, kesulitan mengatur waktu, kecemasan akan masa depan, hingga persoalan relasi dan keluarga menumpuk menjadi tekanan yang tidak selalu terlihat dari luar.

Yang Kami Temukan di Ruang Konseling

Ada alasan mengapa mahasiswa termasuk kelompok yang rentan. Masa kuliah adalah masa transisi besar dalam hidup seseorang, peralihan dari remaja menuju dewasa muda. Di fase inilah banyak mahasiswa untuk pertama kalinya hidup jauh dari keluarga, mengelola keuangan sendiri, menentukan arah hidup, dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan besar: siapa saya, akan menjadi apa saya, dan apakah saya cukup baik. Semua itu berlangsung bersamaan dengan tekanan akademik yang nyata dan ekspektasi sosial yang tinggi. Ironisnya, banyaknya peluang di kampus; organisasi, kompetisi, kepanitiaan, magang, kadang justru memicu kebingungan dan kelelahan karena mahasiswa merasa harus mengikuti semuanya agar tidak tertinggal. Di tengah pusaran itu, tidak mengherankan bila banyak yang kehabisan napas tanpa sempat meminta bantuan.

Pengalaman kami di Universitas Siliwangi mengonfirmasi gambaran itu. Mahasiswa yang mendaftar melalui formulir screening awal untuk kemudian dijadwalkan bersama konselor rata-rata berangkat dari keluhan akademik: IPK yang menurun, skripsi yang mandek, atau rasa jenuh terhadap perkuliahan. Namun tidak sedikit yang, setelah merasa cukup aman, mengangkat persoalan yang jauh lebih pribadi, relasi yang retak, tekanan keluarga, luka masa lalu, hingga rasa kesepian dan kehilangan makna.

Ini mengajarkan kami satu hal penting: masalah akademik dan masalah kejiwaan sering kali adalah dua sisi dari koin yang sama. Nilai yang anjlok bisa jadi bukan soal kecerdasan atau kemalasan, melainkan sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu didengarkan. Menyediakan ruang untuk didengar—tanpa dihakimi adalah langkah pertama pemulihan. Kita perlu jujur bahwa persoalan yang dibiarkan berlarut punya harga yang tidak murah. Tekanan yang tak tertangani dapat berujung pada prestasi yang terus merosot, studi yang terhenti, hubungan sosial yang renggang, dan pada kasus-kasus paling serius, hilangnya harapan untuk melanjutkan hidup. Justru karena taruhannya sebesar itulah, hadir lebih awal jauh lebih baik daripada menyesal terlambat.

Kampus yang Hadir, Bukan Sekadar Menuntut

Perguruan tinggi tidak bisa hanya menuntut prestasi tanpa merawat manusia yang menghasilkannya. Karena itu, layanan bimbingan dan konseling perlu dipahami bukan sebagai “tempat orang bermasalah”, melainkan sebagai bagian wajar dari ekosistem belajar yang sehat sama wajarnya dengan datang ke klinik kampus saat demam. Datang ke konselor bukanlah tanda seseorang gagal atau lemah; ia justru tanda keberanian untuk merawat diri. Di Universitas Siliwangi, kami berupaya menghadirkan dukungan itu secara berlapis. Layanan konseling individual terbuka bagi mahasiswa yang membutuhkan: cukup menghubungi kami dan mengisi formulir observasi awal untuk kemudian dijadwalkan bersama konselor. Selain itu, kami meyakini bahwa penanganan kesehatan mental tidak boleh hanya bertumpu pada segelintir konselor.

Karena itulah kami menjalankan program peningkatan kapasitas dosen penasihat akademik selama dua tahun berturut-turut, pada 2024 dan 2025. Dosen penasihat akademik adalah orang dewasa pertama yang paling sering berjumpa mahasiswa; membekali mereka untuk mengenali tanda-tanda awal dan merespons dengan tepat berarti memperluas jaring pengaman jauh sebelum persoalan membesar. Kami juga mengembangkan program dukungan sebaya bernama “Teman Ceria”, yang berangkat dari kenyataan sederhana bahwa mahasiswa sering lebih dulu bercerita kepada temannya sendiri sebelum kepada siapa pun. Teman yang terlatih untuk mendengar dan mengarahkan bisa menjadi jembatan pertama menuju bantuan profesional.

Menutup Jarak, Meruntuhkan Stigma

Pekerjaan terbesar justru bukan menyediakan layanan, melainkan memastikan mahasiswa tahu dan berani menggunakannya. Sebuah penelitian pada mahasiswa di salah satu perguruan tinggi tahun 2025 menemukan sekitar 57 persen mahasiswa tidak mengetahui adanya layanan konseling di kampus mereka (Febriani, D. A. N., dkk. (2025) . Kajian lain mencatat banyak mahasiswa merasa sungkan atau ragu untuk membicarakan persoalan pribadinya dengan konselor. Di antara ketidaktahuan dan keengganan itulah banyak jiwa muda tersesat sendirian.

Menutup jarak ini adalah tanggung jawab kita bersama. Untuk para mahasiswa: meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian untuk merawat diri, dan tidak ada persoalan yang terlalu kecil untuk dibicarakan. Kepada rekan dosen dan tenaga kependidikan: sebuah pertanyaan tulus, “Kamu baik-baik saja?”, kadang lebih berarti daripada yang kita duga. Kepada orang tua: nilai yang menurun tidak selalu menuntut teguran, kadang justru menuntut pelukan dan telinga yang mau mendengar. Dan kepada institusi pendidikan: kesehatan mental sudah semestinya menjadi bagian dari perencanaan kampus, bukan sekadar respons ketika masalah sudah telanjur besar.

Kampus yang unggul bukanlah kampus yang hanya melahirkan angka-angka indeks prestasi yang tinggi, melainkan kampus yang mampu mengantarkan manusia-manusia utuh yang sehat pikirannya, kuat jiwanya, dan siap berkontribusi bagi masyarakat. Merawat kesehatan mental mahasiswa adalah bagian tak terpisahkan dari misi itu. Sebab pada akhirnya, di balik setiap nilai yang turun, setiap tugas yang terbengkalai, dan setiap senyum yang dipaksakan, selalu ada jiwa yang sedang bertumbuh dan menunggu untuk didengar.

Penulis: Dr. Mega Nur Prabawati, M.Pd, Kepala Pusat Pendidikan Karakter, Layanan Bimbingan dan Konseling, serta Layanan Psikologi — Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Universitas Siliwangi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *