Apakah Anda pernah bertemu seorang anak yang mampu berbicara tentang tata surya, dinosaurus, sejarah, atau teknologi dengan pengetahuan yang mengagumkan, tetapi di saat yang sama sering lupa mengerjakan tugas sekolahnya? Atau anak yang tampak sangat cerdas ketika berdiskusi, namun kesulitan membaca, memahami teks panjang, menulis, mempertahankan fokus, atau mengatur pekerjaannya sendiri? Mungkin pula ia terlalu banyak bertanya, tidak bisa diam di kelas, sering melamun, mudah bosan dengan pelajaran yang dianggapnya terlalu mudah, atau menunjukkan kemampuan luar biasa hanya pada bidang-bidang tertentu yang diminatinya. Atau bisa juga anaknya pendiam, kurang percaya diri, meragukan kemampuannya sendiri, padahal memiliki pemikiran yang matang, atau kemampuan berpikir kritis yang tajam.
Bagi sebagian orang, anak-anak seperti ini terlihat membingungkan. Mereka tidak sepenuhnya sesuai dengan gambaran tentang anak berbakat atau gifted, tetapi juga tidak selalu tampak seperti anak yang membutuhkan bantuan khusus. Di balik paradoks tersebut, terdapat sebuah kondisi yang dikenal sebagai twice-exceptional atau 2E.
Anak-anak 2E memiliki dua karakteristik yang hadir secara bersamaan, yakni kemampuan intelektual atau bakat yang luar biasa di satu sisi, serta tantangan belajar, perkembangan, atau neurologis tertentu di sisi lain. Karena kecerdasan dan kesulitan tersebut sering saling menutupi, banyak dari mereka luput dari perhatian orang tua, guru, bahkan para profesional yang membersamai mereka.
Masyarakat kini relatif mulai mengenal berbagai kondisi perkembangan anak seperti gifted (anak berbakat atau cerdas istimewa), ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), autisme, maupun disleksia. Anak dengan ADHD, misalnya, sering mengalami kesulitan mempertahankan perhatian, mengendalikan impuls, atau duduk tenang dalam waktu lama. Sementara itu, anak dengan disleksia mengalami hambatan dalam membaca dan mengolah simbol bahasa meskipun memiliki kecerdasan yang normal bahkan tinggi.
Namun, bagaimana jika semua karakterikstik tersebut hadir dalam diri anak yang sama? Disinilah konsep twice-exceptional hadir memberikan penjelasan pada kondisi tersebut. Istilah ini memang terdengar relatif baru, tetapi gagasannya telah muncul lebih dari satu abad yang lalu.
Pada tahun 1990-an, seorang psikolog pendidikan, Leta Hollingwoth, mulai mengamati bahwa terdapat anak-anak yang menunjukkan kemampuan intelektual sangat tinggi sekaligus mengalami kesulitan belajar tertentu. Kemudian pada tahun 1940-an, Hans Asperger pun mendeskripsikan anak-anak yang memiliki kemampuan kognitif luar biasa bersamaan dengan karakteristik yang kini dikenal sebagai bagian dari spektrum autisme. Baru beberapa dekade kemudian istilah twice-exceptional diperkenalkan oleh James J. Gallahger untuk menggambarkan individu yang berbakat sekaligus memiliki disabilitas atau kesulitan belajar.
Sejak saat itu, penelitian mengenai 2E mulai berkembang di berbagai negara, meskipun kajiannya masih terbatas dan belum memperoleh perhatian yang luas hingga saat ini. Para peneliti menemukan bahwa kelompok 2E merupakan salah satu kelompok yang paling sering tidak teridentifikasi dalam sistem pendidikan.
Mengapa anak 2E sering luput dari perhatian? Salah satu penyebabnya adalah fenomena yang dikenal sebagai masking effect. Kecerdasan yang tinggi seringkali menutupi kesulitan yang dimiliki anak. Sebaliknya, kesulitan yang mereka alami juga dapat menutupi kecerdasannya. Sebagai akibatnya, banyak anak 2E tampak biasa-biasa saja.
Mereka mungkin mampu berdiskusi tentang astronomi, sejarah, atau teknologi pada tingkat yang jauh melampaui teman-teman seusianya. Namun, pada saat yang sama mereka lupa membawa buku, gagal menyelesaikan pekerjaan rumah, tidak mampu mengorganisir barang pribadi, sulit membaca dan memahami teks panjang, atau kesulitan mengikuti instruksi berurutan.
Karena kecerdasan dan kesulitan tersebut saling menutupi, mereka sering tidak masuk kategori anak berbakat atau cerdas istimewa maupun anak berkebutuhan khusus. Mereka berada di area abu-abu yang nyaris tidak terlihat oleh orangtua, guru, maupun sistem pendidikan secara keseluruhan. Para peneliti bahkan menyebut bahwa giftedness dan disability pada kondisi ini dapat saling ‘menghapus’ sehingga anak tampak rata-rata, padahal sebenarnya memiliki kebutuhan yang sangat spesifik. Tidak heran jika pada akhirnya banyak anak 2E akhirnya diberi label yang keliru, seperti anak malas, tidak disiplin, pembangkang, kurang motivasi, atau tidak serius belajar.
Sebenarnya, perhatian terhadap anak berbakat atau cerdas istimewa bukanlah hal yang baru di Indonesia. Sejak tahun 1980-an pemerintah telah mulai mengembangkan berbagai kebijakan untuk mendukung pendidikan bagi anak-anak tesebut. Program percepatan belajar dan berbagai bentuk layanan Pendidikan khusus pernah dikembangkan sebagai bagian dari upaya mengakomodasi kebutuhan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia telah mengakui pentingnya layanan khusus bagi siswa berbakat sebagai aset bangsa.
Di kalangan akademisi Indonesia, konsep twice-exceptionality juga sudah diperkenalkan cukup lama. Salah satunya oleh Prof. Conny R. Semiawan dan Prof. Frieda Mangunsong pada tahun 2010 dengan menerbitkan buku berjudul “Keluarbiasaan Ganda (Twice Exceptionality): Mengeksplorasi, Mengidentifikasi, dan Menganganinya. Buku ini menjadi salah satu referensi awal yang memperkenalkan konsep anak-anak yang memiliki kecerdasan atau bakat luar biasa sekaligus mengalami kesulitan belajar atau perkembangan tertentu. Melalui buku tersebut, kedua pakar pendidikan dan psikologi Indonesia ini mengajak para pendidik, orang tua, dan praktisi untuk lebih peka dalam mengenali karakteristik anak 2E serta memahami kebutuhan pendidikan mereka yang unik.
Sayangnya, dibandingkan pembahasan mengenai giftedness atau ADHD secara terpisah, pemahaman mengenai anak 2E ini masih sangat terbatas. Akibatnya, banyak guru yang mengenali ADHD tetapi tidak melihat potensi luar biasa yang dimiliki anak tersebut. Sebaliknya, ada pula yang melihat kecerdasannya tetapi mengabaikan kesulitan belajar yang dialami sehingga anak tidak memperoleh dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Anak 2E bisa saja duduk di kelas anak kita. Mereka mungkin adalah siswa yang sering ditegur karena melamun. Mereka bisa menjadi anak yang sangat fasih menjelaskan topik tertentu tetapi gagal mengerjakan tugas sederhana. Mungkin mereka terlihat sangat dewasa dalam berpikir, tetapi kesulitan mengatur emosi atau mengorganisasi pekerjaan sekolah.
Meskipun konsep 2E relatif baru dikenal masyarakat luas, berbagai literatur tentang neurodiversity sering mendiskusikan sejumlah tokoh yang diduga memiliki karakteristik yang konsisten dengan kondisi tersebut. Salah satu nama yang paling sering disebut adalah Nikola Tesla, ilmuwan dan penemu yang memberikan kontribusi besar pada pengembangan sistem listrik arus bolak-balik. Berdasarkan berbagai catatan biografis, Tesla menunjukkan karakteristik yang saat ini sering dikaitkan dengan neurodivergensi, seperti kemampuan visualisasi yang luar biasa, fokus yang sangat intens pada bidang yang diminatinya, sensitivitas sensorik tertentu, serta kecenderungan terhadap rutinitas yang kaku. Meskipun tidak ada diagnosis formal yang dapat ditegakkan secara retrospektif, mengingat konsep neurodiversity maupun twice-exceptionality belum dikenal pada masanya, banyak peneliti memandang kisah Tesla sebagai ilustrasi bagaimana kemampuan luar biasa dapat hadir bersamaan dengan tantangan perkembangan tertentu.
Contoh yang lebih kontemporer dapat ditemukan pada Dr. Scott Barry Kaufman (lahir tahun 1979), seorang psikolog kognitif, penulis, podcaster, dan peneliti kreativitas asal Amerika Serikat. Kaufman secara terbuka menceritakan pengalaman masa kecilnya yang diwarnai berbagai kesulitan belajar sehingga ia sempat mengikuti layanan pendidikan khusus ketika masih bersekolah. Meskipun demikian, ia kemudian tumbuh menjadi salah satu ilmuwan terkemuka yang meneliti kecerdasan, kreativitas, dan potensi manusia. Karena perjalanan hidupnya tersebut, Kaufman sering dijadikan contoh bagaimana individu dengan karakteristik yang konsisten dengan profil twice-exceptional dapat berkembang secara optimal ketika kekuatan dan tantangan yang mereka miliki dikenali dengan baik.
Pelajaran penting dari kisah-kisah tersebut bukanlah bahwa setiap anak twice-exceptional akan tumbuh menjadi ilmuwan, penemu, atau tokoh terkenal. Pelajaran yang jauh lebih penting adalah bahwa potensi luar biasa dapat berkembang ketika lingkungan mampu memahami, menerima, dan mendukung kebutuhan unik mereka. Sebaliknya, tanpa dukungan yang tepat, banyak anak 2E mengalami frustrasi, kehilangan motivasi belajar, rendah diri, bahkan menjadi underachiever, yaitu individu yang pencapaiannya jauh berada di bawah potensi yang sebenarnya mereka miliki.
Karena itu, mengenali anak twice-exceptional bukanlah sekadar persoalan memberikan label, melainkan upaya untuk memastikan bahwa potensi mereka tidak terkubur oleh kesulitan yang belum dipahami. Bisa jadi, anak yang selama ini kita anggap bermasalah sesungguhnya sedang menunggu seseorang yang mampu melihat potensi luar biasa yang tersembunyi di dalam dirinya.
Dibutuhkan observasi yang cermat, asesmen yang komprehensif, kolaborasi antara guru, psikolog, terapis, dan terutama keterlibatan orang tua yang aktif serta terus belajar. Namun, langkah pertama sesungguhnya sangat sederhana, yakni mulai memperhatikan anak-anak di sekitar kita dengan lebih seksama. Mungkin itu anak kita sendiri. Mungkin murid kita. Mungkin keponakan, cucu, tetangga, atau teman bermain anak kita. Atau bisa jadi kita sendiri?
penulis:
Arini Nurul Hidayati
Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris










