Replikasi pengantin Gaya Seleb: Antara Tren dan Pakem

Seni dan Budaya18 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Fenomena tata rias busana dalam pernikahan selebriti di Indonesia telah mengalami pergeseran bentuk dan makna yang signifikan. Tidak lagi sekadar momen sakral penyatuan dua insan, melainkan menjadi panggung estetika yang ditonton, ditiru, dan bahkan “direplikasi” oleh publik. Dalam konteks ini, selebriti papan atas seperti Luna Maya, Maxime Bouttier, Syifa Hadju, dan El Rumi menjadi pusat perhatian. Gaya tata rias, tatanan rambut, hingga busana pengantin yang mereka tampilkan, khususnya dalam prosesi akad nikah, menjelma menjadi trendsetter yang berpengaruh besar terhadap industri tata rias dan busana pengantin di Indonesia.

Dalam banyak kasus, tampilan pengantin selebriti langsung menjadi referensi utama bagi para calon pengantin. Makeup artist (MUA) dan desainer pun berlomba-lomba untuk me-recreate tampilan tersebut, mulai dari complexion yang flawless, riasan mata yang lembut, pemilihan kontak lens yang khas hingga pemilihan lip color yang dianggap “ikonik”. Tidak hanya itu, tatanan rambut seperti sanggul dengan sentuhan modern, modifikasi paes, atau sentuhan headpiece juga ikut menjadi bagian dari tren yang menyebar luas. Busana tradisional yang dikenakan, seperti kebaya adat dengan sentuhan kontemporer, semakin memperkuat daya tarik visual yang kemudian diadopsi secara massal.

Sebagai contoh, gaya akad nikah yang ditampilkan oleh pasangan Syifa Hadju dan El Rumi menuai banyak perhatian publik. Dengan balutan busana tradisional solo putri yang dipadukan dengan sentuhan modern persembahan dari vera kebaya , mereka menghadirkan estetika yang dianggap segar dan elegan. Riasan wajah yang cenderung natural-glowing dengan penekanan pada kulit sehat polesan bennu sorumba, dengan tatan aksesoris alas alasan solo karya Rinaldy Yunardi yang menjadi ciri khas yang banyak ditiru. Tidak sedikit MUA yang kemudian menawarkan paket “look Syifa” kepada kliennya sebagai bentuk komodifikasi tren.

Namun, di balik derasnya arus reproduksi gaya ini, muncul persoalan yang cukup krusial: ketidaksesuaian dengan pakem atau aturan tradisional dalam tata rias dan busana pengantin. Dalam konteks budaya, setiap elemen dalam riasan dan busana pengantin tradisional memiliki makna filosofis yang mendalam. Misalnya, bentuk paes dan penggunaan aksesoris dalam pengantin Jawa tidak sekadar estetika, tetapi juga melambangkan nilai-nilai kehidupan seperti kesucian, kebijaksanaan, dan kesiapan memasuki fase baru.

Sayangnya, dalam praktik recreating yang marak dilakukan, aspek filosofis ini seringkali terabaikan. Banyak MUA dan desainer yang hanya berfokus pada visual akhir tanpa memahami struktur dan makna di baliknya. Akibatnya, terjadi distorsi penggunaan aksesoris alas alasan yang tidak tepat jika dikenakan dengan kebaya modern hal ini dianggap menyimpang dari kaidah pakem pengantin solo yang sudah ditetapkan keraton dan Harpi Melati. Ketika pernikahan Luna Maya pun menjadi perdebatan antara empu empu paes keraton dan harpi Melati karena paes yang digunakan Luna tidak menggunakan prodo emas yang sudah ditetapkan oleh aturan baku keraton dan harpi Melati. Kesalahan ini kemudian terus berulang karena dijadikan referensi oleh praktisi lain yang juga tidak memiliki pemahaman mendalam.

Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tren populer dan literasi budaya dalam industri tata rias dan busana pengantin. Di satu sisi, inovasi dan kreativitas memang diperlukan untuk menjaga relevansi tradisi di era modern. Namun di sisi lain, pengabaian terhadap pakem justru berpotensi mengikis nilai-nilai budaya yang seharusnya dilestarikan.

Industri kecantikan dan busana pengantin pun berada dalam posisi yang dilematis. Mengikuti tren selebriti dapat meningkatkan daya tarik pasar dan keuntungan ekonomi. Klien cenderung lebih tertarik pada gaya yang sedang viral dibandingkan dengan pakem tradisional yang dianggap “kuno”. Namun, jika tren ini terus diikuti tanpa filter, maka risiko homogenisasi gaya dan hilangnya identitas budaya menjadi semakin besar.

Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara inovasi dan pemahaman budaya. Para MUA dan desainer seharusnya tidak hanya menjadi “peniru tren”, tetapi juga edukator yang mampu menjelaskan makna di balik setiap elemen rias dan busana. Pelatihan, workshop, serta integrasi materi budaya dalam pendidikan tata rias menjadi langkah penting untuk meningkatkan kompetensi praktisi di bidang ini.Selain itu, peran media juga sangat besar dalam membentuk persepsi publik. Alih-alih hanya menampilkan sisi glamor pernikahan selebriti, media dapat memberikan konteks edukatif mengenai filosofi busana dan riasan yang digunakan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya terinspirasi secara visual, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Penata rias dan desainer harus mengedukasi calon pengantin dengan memberikan wawasan dan pemahaman mengenai pakem pada tata rias pengantin tradisional baik secara langsung Ketika melakukan konsultasi maupun memberikan edukasi secara tidak langsung kepada khalayak melalui postingan berupa konten edukasi mengenai tata rias pengantin pakem melalui media sosial. (Kholik Muslim Falah)

 

Penulis adalah mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Seni di Universitas Pendidikan Indonesia yang aktif sebagai praktisi, peneliti, dan aktivis seni. Kiprahnya dalam dunia pendidikan dan seni telah mengantarkannya menjadi narasumber serta pembicara pada berbagai workshop, seminar, dan pelatihan, khususnya di bidang tata rias pengantin dan pendidikan seni. Selain aktif dalam kegiatan akademik dan penelitian, Kholik juga dikenal sebagai perias busana pengantin yang tergabung dalam organisasi HARPI Melati. Berbekal pengalaman dan dedikasi yang tinggi, ia telah meraih berbagai prestasi dalam lomba tata rias pengantin, mulai dari tingkat daerah hingga nasional. Melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, Kholik Muslim Falah terus berupaya mengembangkan serta melestarikan seni dan budaya Indonesia, sekaligus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang seni dan tata rias pengantin. 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *