PLP dan Lahirnya Calon Guru Hebat

Pendidikan34 Dilihat

Pendidikan merupakan pilar utama dalam mencerdaskan generasi bangsa. John Dewey, salah satu filsuf pendidikan paling berpengaruh di dunia, pernah menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar persiapan untuk kehidupan, melainkan kehidupan itu sendiri. Senada dengan itu, Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, mendefinisikan pendidikan sebagai upaya memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup. Artinya, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses membentuk manusia seutuhnya. Pendidikan adalah sebuah tempat bertemunya pengajar dan pelajar, wadah terjadinya perubahan tingkah laku, serta ruang transformasi dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dan dari tidak cakap menjadi cakap. Oleh karena itu, calon guru pun perlu mengalami proses pembelajaran yang nyata, bukan hanya memahami teori di ruang kuliah.

Menjadi guru di dunia nyata jauh lebih kompleks dari sekadar hafal teori. Pengalaman itulah yang saya rasakan secara langsung ketika menjalani Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) selama 4 bulan di sebuah sekolah menengah pertama di Kota Tasikmalaya, sebuah pengalaman yang membuka mata saya lebar-lebar tentang apa artinya benar-benar berdiri di depan kelas.

Selama hampir tiga tahun di bangku perkuliahan, saya belajar tentang teori belajar Piaget, pendekatan konstruktivisme, diferensiasi pembelajaran, hingga model-model pengajaran yang tampak begitu elegan di atas kertas. Di kelas, semua terasa logis dan terstruktur. Dosen menjelaskan, mahasiswa mencatat, diskusi berjalan lancar. Semuanya terasa terkendali. Lalu PLP datang, dan realitas menyambut saya dengan tangan terbuka dan sedikit tamparan keras.

Hari pertama menjalani kegiatan asistensi mengajar di kelas, pada jam pelajaran ke tujuh, saya menghadapi sekitar 34 murid kelas delapan yang energinya beragam. Perangkat pembelajaran yang sudah saya susun dengan rapi mendadak terasa seperti sekadar dokumen formalitas. Murid yang saya bayangkan duduk tenang dan antusias ternyata hanya sebagian, karena sebagian lainnya ada yang asyik mengobrol sendiri, ada yang menelungkupkan kepala seperti tidur, ada yang tiba-tiba minta izin ke toilet tiga kali dalam satu jam pelajaran, dan ada pula yang diam tapi ternyata tidak paham sama sekali apa yang sedang terjadi di depan kelas. Tidak ada teori yang mengajarkan saya cara menghadapi semua itu dalam waktu yang bersamaan.

Salah satu hal yang paling mengejutkan adalah betapa pentingnya kemampuan membaca suasana kelas, sesuatu yang tidak ada mata kuliahnya. Di kampus, kami diajarkan bahwa seorang guru harus mampu mengelola kelas dengan baik. Tetapi kenyataannya, mengelola kelas bukan sekadar memastikan murid duduk diam. Ia adalah seni membaca situasi, memahami siapa yang sedang lelah, siapa yang butuh perhatian lebih, siapa yang hatinya sedang gusar, siapa yang sebelum berangkat sekolah dari rumahnya kena omelan orang tua, siapa yang justru perlu ditantang, dan kapan waktu yang tepat untuk mengubah strategi mengajar di tengah pelajaran berlangsung.

PLP juga mengajarkan saya bahwa mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi. Ia soal membangun relasi. Ada seorang murid yang selalu duduk di pojok belakang, jarang berbicara, dan selalu mengerjakan tugas seadanya. Saya sempat mengira ia memang kurang termotivasi. Namun ketika saya mulai mendekatinya secara personal sekadar bertanya kabar, atau memuji hal kecil yang ia lakukan dengan benar, perlahan ia mulai membuka diri. Ternyata ia punya banyak potensi yang selama ini tersembunyi karena merasa tidak diperhatikan.

Momen itu tidak ada di buku teks manapun. Itu adalah pelajaran yang hanya bisa diperoleh dari lapangan. Tentu saja, PLP bukan hanya tentang tantangan. Ia juga tentang pertumbuhan. Setiap hari yang berat adalah pelajaran. Setiap kali saya gagal menyampaikan materi dengan baik, saya belajar untuk mengevaluasi diri. Setiap kali saya berhasil membuat satu murid yang sebelumnya bingung akhirnya mengerti, tumbuh kepuasan yang tidak bisa digantikan oleh nilai 100 di lembar penilaian.

Saya juga belajar berkolaborasi dengan guru pamong, yang pengalamannya bertahun-tahun memberikan perspektif yang tidak bisa saya dapat dari seminar manapun. Mereka mengajarkan hal-hal kecil yang ternyata berdampak besar, cara mengondisikan kelas, mengatur intonasi suara, cara memposisikan diri di ruang kelas, cara memberi instruksi yang jelas agar murid tidak kebingungan, cara memahami latar belakang murid yang tentunya berbeda, dan waktu yang tepat untuk bertindak tegas. Hal-hal yang terasa sepele ini, justru menjadi evaluasi bagi saya yang membuat saya dapat menjalani pertemuan demi pertemuan setiap harinya dengan lebih baik.

Maka, jika ada satu hal yang ingin saya sampaikan adalah program praktik lapangan seperti PLP bukan sekadar syarat kelulusan mata kuliah yang harus dilewati. Ia adalah salah satu jantung dari pendidikan calon guru. Di sinilah teori bertemu dengan kenyataan, dan di sinilah karakter seorang pendidik sesungguhnya dibentuk. Barangkali kampus memberikan fondasi, tetapi lapanganlah yang membangun rumahnya.

Menjadi guru yang hebat bukan soal menguasai semua teori pendidikan. Ia soal keberanian untuk terus mencoba, kerendahan hati untuk terus belajar, dan kepedulian yang tulus terhadap setiap anak yang duduk di depan kita. Dan semua itu hanya bisa dipelajari dengan cara terjun langsung ke dalamnya.

Pada akhirnya, guru hebat tidak hanya lahir dari ruang kuliah, tetapi dari keberanian menghadapi kelas nyata, memahami murid secara manusiawi, serta kesediaan untuk terus belajar dari setiap pertemuan di sekolah. Pengalaman itulah yang membuat saya semakin yakin untuk terus melangkah menjadi calon pendidik yang lebih baik.*

Penulis: Fitra Novitasari, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2023 Universitas Siliwangi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *