Piala Dunia 2026 di tengah Krisis Budaya Lokal dan Politik Global

Olahraga31 Dilihat

Piala Dunia tahun 2026 menjadi salah satu ajang pesta olahraga paling ambisius dalam sejarah sepak bola modern. Untuk pertama kalinya, turnamen diselenggarakan di tiga negara sekaligus, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan, faktor seperti perluasan pasar, peningkatan jangkauan audiens global, serta penguatan nilai komersial setidaknya menjadi justifikasi FIFA untuk menyelenggarakan ajang pesta olahraga ini pertama kali secara lintas negara. Tidak hanya itu, FIFA juga memperluas jumlah peserta dari 32 menjadi 48 negara, sebuah langkah yang diklaim mampu menghadirkan representasi sepak bola dunia yang lebih inklusif dan meningkatkan keterlibatan penonton lintas kawasan yang berimplikasi pada tingginya pendapatan hak pemasaran resmi (marketing rights). Penjualan hak siar televisi global adalah sumber pendapatan terbesar FIFA, dengan proyeksi pendapatan dari kesepakatan penyiaran meningkat dari $3,4 miliar di Qatar dan $3,1 miliar di Rusia empat tahun sebelumnya. Secara teoritis, kombinasi peningkatan keikutsertaan negara, skala geografis yang masif, serta kekuatan industri hiburan Amerika Serikat seharusnya mampu menciptakan euforia global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, realitas yang muncul justru menunjukkan paradoks: semakin besar skala penyelenggaraan, semakin terasa menurunnya kedekatan emosional publik terhadap Piala Dunia itu sendiri.

Meskipun secara komersil, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 ini berpotensi menguntungkan secara signifikan – bahkan presiden FIFA memproyeksikan pendapatan sebesar $13 miliar. Namun, harapan FIFA untuk menciptakan turnamen paling meriah nampaknya belum sepenuhnya terwujud. Berbagai indikator menunjukkan bahwa atmosfer Piala Dunia 2026 cenderung kurang “hype” dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. Sejumlah laporan media internasional menunjukkan bahwa penjualan tiket pada pertandingan pembuka dan beberapa pertandingan fase grup masih tersedia hingga mendekati hari pertandingan, situasi yang relatif jarang terjadi pada piala dunia edisi-edisi sebelumnya. Menurut laporan Express, hampir 180.000 tiket masih tersedia beberapa hari sebelum pertandingan pertama digelar. Bahkan, sekitar 15.000 tiket fase grup belum terjual melalui jalur resmi FIFA. Selain itu, tingkat okupansi hotel di beberapa kota tuan rumah juga tidak mengalami lonjakan ekstrem sebagaimana proyeksi awal industri pariwisata. Berdasarkan survei American Hotel and Lodging Association, sekitar 80% hotel melaporkan tingkat pemesanan yang masih di bawah ekspektasi hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai. Kondisi tersebut sangat kontras dengan Piala Dunia edisi sebelumnya seperti Qatar 2022 yang mencatat lonjakan okupansi hotel dan ledakan wisatawan internasional jauh sebelum laga pembuka dimulai. Lebih lanjut, opening ceremony yang diharapkan menjadi simbol kemegahan lintas budaya justru menuai kritik karena dianggap terlalu berorientasi pada format hiburan komersial khas Amerika Serikat dan minim identitas lokal yang kuat. Selain itu, lagu tema resmi Piala Dunia 2026 dinilai gagal membangun ikatan emosional global sebagaimana “Waka Waka” pada Afrika Selatan 2010 yang fenomenal dibawakan oleh Shakira atau “La La La” pada Brasil 2014 yang mampu melampaui sekadar lagu turnamen dan menjadi fenomena budaya populer dunia.

Intensitas pemberitaan media internasional pun terasa tidak sepadat era-era sebelumnya. Di ruang digital, gaung Piala Dunia 2026 juga dinilai tidak sedominan edisi-edisi sebelumnya. Percakapan publik global lebih banyak dipenuhi kritik terhadap mahalnya tiket, sistem dynamic pricing FIFA yang dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap akar sepak bola yang seharusnya menjadi olah raga rakyat, hingga kritik terhadap opening ceremony yang dinilai lebih menyerupai konser musik dibanding perayaan budaya sepak bola global. Sejumlah media Eropa bahkan menilai FIFA terlalu menonjolkan aspek hiburan ala Amerika dan komersialisasi berlebihan sehingga mengurangi esensi sepak bola sebagai pesta rakyat dunia. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kemegahan secara ekonomi dan teknologi tidak otomatis berbanding lurus dengan antusiasme kolektif masyarakat dunia.

Salah satu faktor penting yang menjelaskan fenomena tersebut adalah melemahnya peran budaya lokal sebagai identitas emosional Piala Dunia. Dalam sejarahnya, Piala Dunia selalu lebih dari sekadar kompetisi olahraga, melainkan festival budaya global yang memperlihatkan karakter unik negara tuan rumah. Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun 2010 dikenang melalui dentuman vuvuzela, tarian khas Afrika, dan semangat persatuan pasca-apartheid yang membentuk pengalaman kolektif penonton dunia. Brasil 2014 menghadirkan atmosfer samba, fanatisme sepak bola jalanan, dan ekspresi budaya Latin yang begitu hidup. Rusia 2018 memperlihatkan transformasi citra negara melalui simbol-simbol budaya seperti maskot serigala Zabivaka dan arsitektur stadion yang monumental, sedangkan Qatar 2022 menampilkan identitas Timur Tengah melalui kemegahan stadion Al Thumama yang bentuk desainnya terinspirasi dari gahfiya yaitu topi rajut tradisional hingga maskot La’eeb yang ikonik. Sebaliknya, Piala Dunia 2026 justru terasa kehilangan pusat identitas budaya yang jelas. Penyelenggaraan di tiga negara membuat narasi budaya menjadi terfragmentasi dan tidak memiliki simbol kolektif yang kuat untuk dikenang dunia. Di sisi lain, Amerika Serikat sebagai pusat utama penyelenggaraan dengan jatah 78 pertandingan dari 104 termasuk seluruh pertandingan quarter final, semi final, hingga partai puncak memang memiliki industri hiburan global yang sangat besar, tetapi budaya populer Amerika lebih identik dengan Hollywood, Super Bowl, NBA atau konser musik spektakuler dibandingkan tradisi sepak bola. Berbeda dengan negara-negara Amerika Latin, Eropa, atau Timur Tengah yang menjadikan sepak bola sebagai bagian dari identitas sosial masyarakat, sedangkan kultur olahraga di Amerika Utara lebih didominasi American football, baseball, dan basket. Akibatnya, atmosfer sosial yang biasanya lahir secara organik dari masyarakat lokal tidak terasa sekuat edisi-edisi sebelumnya.

Selain atmosfer sosial dan identitas tuan rumah, elemen budaya lain yang selama ini menjadi pengikat emosional Piala Dunia adalah lagu resmi turnamen. Dalam sejarahnya, anthem Piala Dunia bukan sekadar produk industri musik, melainkan simbol kolektif yang merepresentasikan semangat persatuan, perjuangan, dan gairah sepak bola dunia. Lagu seperti Waka Waka dari Shakira pada Afrika Selatan 2010 berhasil menjadi ikon global karena memadukan ritme Afrika dengan pesan persatuan yang kuat, sementara La La La pada Brasil 2014 menghadirkan nuansa emosional dan atmosfer karnaval khas Amerika Latin. Bahkan Dreamers yang dibawakan Jungkook pada Qatar 2022 dianggap lebih berhasil menangkap spirit inklusivitas dan mimpi kolektif sepak bola dunia. Sebaliknya, lagu resmi Piala Dunia 2026 berjudul Goals yang dibawakan Lisa bersama Anitta dan Rema justru menuai kritik luas karena dianggap terlalu berorientasi pada citra pop komersial dan kehilangan narasi emosional sepak bola. Banyak komentar publik menilai lirik dan visual lagu tersebut lebih menonjolkan gaya hidup, sensualitas, dan personal branding dibanding semangat kebersamaan lintas budaya yang selama ini identik dengan anthem Piala Dunia. Bahkan di berbagai forum daring dan media sosial, lagu tersebut kerap dibandingkan secara negatif dengan anthem-anthem legendaris era sebelumnya karena dinilai tidak mampu membangun memori kolektif publik dunia terhadap turnamen. Fenomena ini menunjukkan bahwa modernisasi dan komersialisasi industri hiburan global belum tentu mampu menggantikan kekuatan cultural bonding yang selama ini menjadi ruh utama Piala Dunia.

Dinamika politik global juga turut memperumit situasi dan berkontribusi terhadap menurunnya animo masyarakat internasional terhadap ajang pesta olahraga 4 tahunan ini. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu isu paling kontroversial menjelang turnamen. Situasi memanas setelah muncul spekulasi mengenai kemungkinan Iran menghadapi hambatan politik dan diplomatik untuk tampil penuh di turnamen yang sebagian besar digelar di wilayah Amerika Serikat. Kontroversi semakin membesar ketika muncul usulan dari lingkaran politik Amerika terkait kemungkinan pergantian Iran dengan Italia, meskipun Italia secara resmi gagal lolos kualifikasi. Wacana tersebut memicu kritik luas karena dianggap mencederai prinsip fair play dan independensi olahraga dari kepentingan politik. Selain itu, berbagai kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat yang kontroversial dalam beberapa waktu lalu seperti kebijakan imigrasi yang semakin ketat pada era kepemimpinan Donald Trump hingga penempatan agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang di tempatkan di kota-kota tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia turut memengaruhi persepsi sebagian publik global terhadap turnamen ini. Dalam konteks sosiologi olahraga, Piala Dunia tidak pernah benar-benar steril dari politik, tetapi ketika dimensi politik menjadi terlalu dominan, maka fokus publik terhadap romantisme sepak bola perlahan bergeser menjadi perdebatan ideologis dan geopolitik. Situasi tersebut membuat Piala Dunia 2026 terasa lebih “tegang” dan eksklusif dibandingkan edisi-edisi sebelumnya yang mampu membangun narasi persatuan global melalui sepak bola.

Faktor lain yang tidak dapat diabaikan adalah perubahan generasi dalam sepak bola dunia. Banyak pemain bintang yang selama satu dekade terakhir menjadi wajah utama Piala Dunia kini sudah memasuki akhir karier atau tidak lagi tampil di peak performance nya. Era Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, dua ikon terbesar sepak bola modern yang membentuk rivalitas global selama hampir dua dekade, perlahan mendekati penghujung karirnya. Rivalitas generasi baru memang mulai muncul seperti Erling Haaland dan Kylian Mbappe, tetapi belum sepenuhnya memiliki magnet emosional sebesar generasi sebelumnya. Piala Dunia pada akhirnya bukan hanya tentang pertandingan, melainkan juga tentang narasi heroik, budaya yang melekat, rivalitas personal, dan figur-figur yang membangun imajinasi kolektif penonton dunia. Ketika figur besar mulai menghilang, publik global membutuhkan waktu untuk membangun keterikatan baru dengan generasi penerus. Meski demikian, redupnya euforia pada fase awal bukan berarti Piala Dunia 2026 sepenuhnya gagal. Sepak bola selalu memiliki kemampuan menciptakan drama yang sulit diprediksi seperti terciptanya gol “tangan tuhan” Maradonna, tandukan Zidane, hingga gigitan Suarez. Bisa jadi, atmosfer turnamen akan berubah drastis ketika memasuki fase semifinal hingga final, terutama apabila lahir pertandingan klasik yang emosional dan ikonik sebagaimana Belanda melawan Spanyol pada tahun 2010 atau Jerman melawan Argentina pada tahun 2014. Pada titik itulah, Piala Dunia mungkin kembali menemukan ruhnya: melahirkan cerita besar dan sekali lagi menyatukan dunia melalui kekuatan budaya dan sepak bola.(*)

penulis: Miranda Seni Amara, S.I.Pol., M.M

Dosen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNSIL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *