RADAR TASIKMALAYA – Para pembaca yang senantiasa diberikahi oleh Allah Swt dalam setiap detik menjalani kehidupan, tulisan ini mengajak pembaca untuk sekedar kembali ke titik nol kesadaran sebagai makhluk ciptaan Allah. Di persimpangan jalan dengan hiruk pikuk teknologi, sains dan urusan ekonomi-sosial manusia, penulis sekedar ingin memaparkan bagaimana positioning kesehatan adalah bagian dari kewajiban manusia dalam mensyukuri nikmat karunia dari Allah. Secara etimologis dan terminologi, kata sehat memiliki makna mendalam yang bergeser dari sekadar kondisi fisik yang baik hingga menjadi konsep kesejahteraan yang utuh. Secara etimologis berasal dari kata yang diserap dari bahasa arab yaitu ash-shihhah yang berarti sembuh, benar, nyata, selamat dari cela atau cacat, serta sesuai dengan keadaan yang seharusnya. WHO mendefinisikan sehat dengan arti suatu keadaan sejahtera yang sempurna secara fisik, mental, dan sosial, dan bukan hanya bebas dari penyakit, cacat, atau kelemahan. Secara terminologi modern, seseorang belum bisa dikatakan sehat seutuhnya jika ia bebas dari penyakit fisik tetapi mengalami tekanan mental yang hebat atau dikucilkan dari lingkungan sosialnya. Sehat adalah sebuah keseimbangan holistik yang mencakup aspek tubuh, pikiran, spiritual, dan kemampuan berinteraksi di masyarakat.
Dalam literatur Islam kita mengenal redaksi sehat walafiat. Apakah redaksi ini sama dengan konsep yang selama ini dipaparkan oleh WHO dan para ahli-ahli kesehatan dunia? Atau sebaliknya memiliki konsep yang lebih jauh mendalam daripada sekedar sehat yang kita pahami bersama? Ungkapan sehat walafiat pada hakikatnya terdiri dari dua kata bahasa Arab yang berbeda maknanya, yaitu al-shihhah (sehat) dan al-‘afiyah (afiat). Meskipun sering diucapkan sebagai satu kesatuan, keduanya memiliki tingkatan dan dimensi yang sangat berbeda dalam perspektif Islam. Secara singkat, sehat merujuk pada berfungsinya fisik, sedangkan afiat merujuk pada difungsikannya fisik tersebut untuk ketaatan dan kebaikan. Dalam tangkapan pandangan umum bahwasanya sehat berfokus atau menitik beratkan pada aspek jasmani, organ tubuh, dan fungsi biologis. Cakupannya bersifat umum dan universal. Contohnya, seseorang memiliki mata yang tajam, jantung yang berdetak normal, dan kaki yang kuat untuk berjalan. Akan tetapi orang yang sehat belum tentu afiat. Seseorang bisa saja memiliki tubuh yang sangat bugar, namun tidak menggunakannya untuk hal-hal yang diridai Allah. Afiat memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi dan bersifat spiritual daripada sekadar sehat. Afiat dimaknai sebagai Perlindungan Allah bagi seorang hamba dari segala macam penyakit hati, keburukan mental, serta terpeliharanya organ tubuh untuk berfungsi sesuai dengan maksud penciptaannya. Keberkahan dan kemanfaatan dari kesehatan tersebut. Afiat berarti kesehatan tersebut digunakan sebagai modal untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Seseorang yang afiat jiwanya bisa saja secara fisik sedang diuji dengan penyakit. Contoh ekstremnya adalah orang yang secara fisik tidak bisa melihat (buta) namun hatinya dibimbing Allah hingga mampu menghafal Al-Qur’an—ia mendapatkan afiat pada jiwanya.
Oleh karena itu, ketika manusia mengucapkan atau mendoakan sehat walafiat, kita tidak hanya meminta agar tubuh kita terbebas dari penyakit, tetapi juga memohon agar kesehatan fisik tersebut Dibimbing oleh Allah agar selalu membawa keberkahan, amal saleh, dan keselamatan di dunia maupun akhirat. Hal inilah mengapa Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk sering memohon al-‘afiyah dalam doa-doa harian. Allah menitipkan berbagai potensi dalam diri manusia. potensi yang paling istimewa yang paling utama yaitu akal. Akal adalah instrumen sekaligus jalan bagi manusia untuk membangun dimensi dan tingkatan kesadarannya bahwa dirinya hanyalah suatu entitas ciptaan. Para pembaca yang berbudi luhur, kita pasti sudah tidak asing dengan istilah mental. Hanya apakah kita sudah mendalami apa arti spesifik tentang mental tersebut ? Secara etimologis, istilah mental berasal dari rumpun bahasa klasik Eropa yaitu berakar dari kata mens atau mentis yang berarti jiwa, nyawa, roh, sukma, semangat, atau pikiran. Pada intinya, bahwa mental merujuk pada segala sesuatu yang berada di ranah non-fisik manusia, yaitu entitas abstrak yang menggerakkan kesadaran, emosi, dan pemikiran. Secara terminologi, kata mental diartikan sebagai keseluruhan fungsi berpikir, emosi, watak, dan respons batin manusia dalam berinteraksi dengan dirinya sendiri maupun lingkungan luar. Di dalam dunia psikologi dan medis, mental adalah suatu kondisi dinamis dari pikiran yang mencakup persepsi, keyakinan, emosi, memori, serta kemampuan kognitif manusia untuk memproses informasi dan mengambil keputusan.
Apakah mental dan fisik manusia memiliki hubungan yang sangat erat? Hubungan antara pikiran (mental) dan tubuh (fisik) dipelajari dalam cabang ilmu medis yang disebut psikoneuroimunologi (PNI) dan psikosomatik. Secara ilmiah, proses kerja mental tidak terjadi di ruang hampa, melainkan melalui reaksi biokimia dan listrik di dalam otak yang kemudian direspons oleh seluruh organ tubuh. Lantas bagaimana kronologis proses kerja mental (seperti stres, cemas, atau bahagia) memengaruhi fisik manusia ?. Proses dimulai ketika pancaindra menerima stimulus. Informasi ini dikirim ke Amigdala (pusat pemrosesan emosi di otak). Amigdala menilai situasi tersebut, Apakah ini ancaman? Apakah ini membuat stres?. Jika amigdala menilai situasi sebagai tekanan atau ancaman, ia akan mengirim sinyal marabahaya ke Hipotalamus. Hipotalamus bertindak sebagai pusat kendali utama yang menghubungkan sistem saraf dengan sistem hormon (endokrin). Hipotalamus menyalakan alarm tubuh melalui jalur yang disebut HPA-Axis (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal Axis). Hipotalamus melepaskan hormon CRH, Kelenjar Pituitari merespons dengan melepas hormon ACTH ke dalam darah, Hormon ACTH sampai ke Kelenjar Adrenal (di atas ginjal), yang kemudian membanjiri tubuh dengan Kortisol dan Adrenalin. Begitu Adrenalin dan Kortisol membanjiri darah, Sistem Saraf Simpatik langsung mengambil alih tubuh untuk mode bertahan hidup (Fight-or-Flight). Efek fisik yang langsung terjadi adalah jantung berdetak lebih cepat dan kuat untuk memompa darah ke otot-otot besar, napas menjadi pendek dan cepat untuk memasukkan lebih banyak oksigen, asam lambung meningkat & pencernaan melambat, tubuh menghentikan energi untuk mencerna makanan karena fokus menghadapi “ancaman”. Ini alasan mengapa orang stres sering terkena maag atau mual. Otot menegang terutama di leher, bahu, dan rahang (memicu sakit kepala tegang). Jika tekanan mental berlangsung berhari-hari (kronis), kadar kortisol yang tinggi di dalam darah akan menekan sistem kekebalan tubuh (imunitas). Akibatnya, Sel darah putih menjadi kurang efektif melawan virus dan bakteri dan tubuh menjadi mudah terserang penyakit seperti flu, batuk, radang, atau luka yang lama sembuh.
Sebaliknya, jika proses mental Anda positif (bahagia, tenang, bersyukur), otak akan melepaskan hormon Endorfin, Dopamin, dan Oksitosin yang justru menurunkan detak jantung, merilekskan otot, dan memperkuat imun tubuh. Apakah ada hubungan antara spritualitas dan mental manusia? Hubungan antara spiritualitas (ketaatan kepada Allah) dan kondisi mental manusia sangat erat dan telah dibuktikan baik melalui pendekatan teologis (agama) maupun sains modern (psikologi agama dan neurosains). Dalam literatur Islam, ketaatan kepada Allah bukan sekadar ritual fisik, melainkan sebuah mekanisme pelindung dan penyembuh bagi jiwa manusia. Ketika seseorang taat dan mengenal Allah, cara pandangnya terhadap masalah hidup akan berubah. Konsep-konsep dalam Islam berfungsi sebagai penenang mental alami. Iman kepada Takdir (Qada dan Qadar), membuat seseorang tidak mudah larut dalam penyesalan masa lalu (depresi) dan tidak mencemaskan masa depan secara berlebihan (anxiety). Mereka percaya bahwa apa yang ditakdirkan untuk mereka tidak akan melewatkan mereka. Konsep ujian dan sabar di mana stres mental biasanya muncul saat manusia merasa penderitaannya sia-sia. Islam mengubah mindset tersebut. Setiap kesulitan adalah ujian untuk menggugurkan dosa dan menaikkan derajat. Ini memberikan kekuatan mental untuk bertahan (resiliensi). Aktivitas ibadah rutin memiliki dampak biologis langsung pada otak dan sistem saraf manusia. Shalat khusyuk di mana secara psikologis, salat adalah bentuk mindfulness (kesadaran penuh) tertinggi. Gerakan yang tenang dan fokus pada bacaan menurunkan aktivitas di Amigdala (pusat cemas di otak) dan mengaktifkan Korteks Prefrontal (pusat logika dan ketenangan). Zikir dengan mengingat Allah secara berulang terbukti mengaktifkan Sistem Saraf Parasimpatik, yang bertugas menurunkan detak jantung, merilekskan otot, dan menurunkan hormon stres (kortisol). “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Secara psikologis, manusia memiliki ruang kosong di dalam dirinya yang disebut spiritual vacuum (kekosongan jiwa). Jiwa manusia diciptakan dengan fitrah untuk bersandar pada kekuatan yang Maha Besar. Jika ruang ini tidak diisi dengan ketaatan kepada Allah, manusia akan mencari sandaran lain (harta, takhta, validasi manusia). Sandaran makhluk sifatnya rapuh dan tidak abadi, sehingga memicu kecemasan kronis karena takut kehilangan. Ketaatan kepada Allah mengisi ruang kosong tersebut, melahirkan perasaan aman, utuh, dan memiliki tujuan hidup yang jelas. Ketaatan kepada Allah dengan ikhlas, syukur, dan tawakal adalah penawar dari penyakit mental sosial. Manusia yang taat kepada Allah bukan berarti tidak bisa sedih atau kecewa, karena itu adalah emosi manusiawi. Namun, ikatan spiritual yang kuat membuat mereka memiliki jangkar yang kokoh, sehingga tidak akan hanyut atau hancur ketika badai hidup menerpa mental mereka.
“Di dunya mah darma wawayangan baé, anging Allah nu ngusik malikeun.” (Darwin Safiu, M.Kes)
Dosen di Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Siliwangi (Unsil).












