RADAR TASIKMALAYA – Sebuah kegiatan kaderisasi bisa meninggalkan kesan menyenangkan bagi pesertanya. Namun, apakah kesan baik itu cukup untuk menunjukkan bahwa kaderisasi telah mencapai tujuannya? Pertanyaan ini menarik untuk melihat Latihan Organisasi dan Kepemimpinan HIMAS (LOKH) 2026 di Universitas Siliwangi (UNSIL). Kegiatan yang diikuti mahasiswa baru Pendidikan Sejarah ini diselenggarakan pada Sabtu, 3 Oktober 2026, di Pasir Pataya, Cibeureum. LOKH tidak hanya menghadirkan aktivitas kebersamaan, tetapi juga memperkenalkan kehidupan organisasi dan proses musyawarah yang akan mereka temui selama menjadi mahasiswa.
Dalam keterangannya, Ketua Pelaksana LOKH 2026 menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan merupakan penutupan Masa Bimbingan Mahasiswa (MABIM). LOKH menjadi bagian dari proses pengukuhan yang berlanjut dari Orientasi Mahasiswa Baru UNSIL (OMBUS) dan MABIM. Salah satu tujuannya adalah mengenalkan M2PS kepada mahasiswa baru sebagai bagian dari kehidupan organisasi di lingkungan Pendidikan Sejarah.
Menurut Ketua Pelaksana, salah satu hal yang berkesan selama persiapan adalah kesempatan untuk melaksanakan kegiatan di luar ruangan. Perizinan dari pihak departemen menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi sebelum kegiatan berlangsung. Ia juga berharap mahasiswa baru angkatan 2026 dapat memahami tujuan kegiatan, memiliki ketertarikan terhadap kehidupan organisasi, serta mengenal proses persidangan.
Dari pengalaman peserta, LOKH meninggalkan kesan yang beragam. Aktivitas out bound menjadi salah satu bagian yang paling banyak diingat. Sejumlah peserta menggambarkan kegiatan tersebut sebagai pengalaman yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Di balik keseruannya, mereka merasa memperoleh pelajaran tentang kerja sama, empati, dan kebersamaan.
Salah seorang peserta juga menyampaikan pandangan bahwa menjadi mahasiswa Pendidikan Sejarah bukan perkara siapa yang paling mampu atau paling menonjol. Proses belajar tidak dapat bertumpu pada satu orang saja. Pandangan ini memperlihatkan bahwa kegiatan bersama dapat membuka ruang bagi mahasiswa baru untuk memahami pentingnya saling mendukung, terutama ketika mereka mulai menghadapi tugas dan tanggung jawab dalam organisasi.
Meski demikian, pengalaman LOKH tidak berhenti pada kegiatan luar ruangan. Simulasi persidangan turut memberikan kesan tersendiri bagi peserta. Mereka mulai mengenal bagaimana suatu forum berjalan, bagaimana pendapat disampaikan, serta bagaimana keputusan perlu diambil ketika terdapat pilihan yang tidak selalu dapat memuaskan semua pihak.
Salah satu peserta mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai kepemimpinan dan proses persidangan dalam M2PS. Ia melihat bahwa seorang pemimpin terkadang harus menentukan pilihan dengan mempertimbangkan konsekuensinya. Peserta lain menyebut bahwa materi yang diberikan mengubah pandangannya terhadap HIMAS. Organisasi mahasiswa tersebut mulai dipahami sebagai organisasi yang memiliki karakteristik dan proses tersendiri, bukan sekadar kelompok yang menyelenggarakan berbagai acara.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari kaderisasi. Kehidupan organisasi mahasiswa mudah dikenali melalui kegiatan yang terlihat, seperti acara, kepanitiaan, pertemuan, atau program kerja. Padahal, ada proses lain yang tidak selalu tampak dari luar, seperti menyampaikan pendapat, mendengarkan perbedaan pandangan, mempertanggungjawabkan keputusan, dan menjalankan kesepakatan bersama.
Dalam konteks itu, pengenalan terhadap persidangan memiliki arti lebih jauh daripada sekadar memahami tata cara forum. Persidangan memberi gambaran tentang bagaimana sebuah organisasi mengambil keputusan melalui mekanisme yang telah disepakati. Mahasiswa baru dapat belajar bahwa pendapat pribadi tetap penting, tetapi perlu disampaikan dengan mempertimbangkan kepentingan bersama. Mereka juga dapat memahami bahwa keputusan organisasi tidak selesai ketika forum ditutup, sebab hasilnya tetap membutuhkan tanggung jawab dari orang-orang yang terlibat.
Tentu saja, kesan positif peserta belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh tujuan kaderisasi telah tercapai. Pengalaman menyenangkan dan pemahaman baru merupakan awal yang baik, tetapi dampaknya perlu terlihat dalam keterlibatan mahasiswa setelah kegiatan
berakhir. Apakah mereka kemudian lebih berani menyampaikan pendapat? Apakah mereka bersedia mengambil tanggung jawab? Apakah pemahaman mengenai musyawarah benar-benar diterapkan ketika menghadapi perbedaan di lingkungan organisasi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut baru dapat dijawab melalui proses yang berlangsung setelah LOKH.
Karena itu, keberhasilan kaderisasi tidak semestinya hanya diukur dari kelancaran acara atau banyaknya pengalaman yang dibawa pulang peserta. Kegiatan dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal organisasi, tetapi kehidupan organisasi itu sendiri akan menjadi ruang belajar yang sesungguhnya. Di sana, mahasiswa bertemu dengan pekerjaan yang tidak selalu menyenangkan, pendapat yang berbeda, dan tanggung jawab yang harus diselesaikan bersama.
LOKH 2026 telah memberi mahasiswa baru kesempatan untuk mengenal HIMAS dari sisi yang mungkin belum mereka pahami sebelumnya. Ada yang mengingat keseruan outbound, ada yang mulai memahami persidangan, dan ada pula yang melihat organisasi dengan cara berbeda. Pengalaman itu patut menjadi bekal, tetapi maknanya akan lebih terasa ketika mahasiswa mulai terlibat dalam kehidupan organisasi setelah kegiatan selesai. Sebab, kaderisasi tidak selesai ketika peserta pulang. Prosesnya berlanjut ketika mereka mulai mengambil bagian, belajar bertanggung jawab, dan ikut menentukan bagaimana organisasi mereka berjalan. (Keyla Aprillia Iskandar)
Penulis adalah Mahasiswi Pendidikan Sejarah Universitas Siliwangi.






