Bukan Sekadar Promosi: Mengapa Public Relations Penting untuk Masa Depan Pariwisata Priangan Timur?

Komunikasi37 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Pariwisata sering kali dipahami sebatas persoalan destinasi, promosi, dan jumlah kunjungan wisatawan. Padahal, di balik sebuah destinasi yang dikenal publik terdapat proses komunikasi yang panjang: bagaimana pemerintah membangun hubungan dengan pelaku usaha, bagaimana masyarakat dilibatkan, bagaimana media menyampaikan informasi, hingga bagaimana sebuah daerah membentuk citra di mata wisatawan.

Perspektif tersebut menjadi semakin relevan bagi Priangan Timur yang memiliki beragam potensi wisata dan melibatkan beberapa wilayah, seperti Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar, dan Pangandaran. Rapat Koordinasi Korwil V Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Priangan Timur yang dilaksanakan di Hotel Sabda Alam, Kabupaten Garut, pada 23 September 2026 menjadi salah satu momentum untuk memperkuat kolaborasi tersebut. Dengan tema “Memperkuat Kolaborasi Pariwisata Priangan Timur yang Berkelanjutan dan Berdaya Saing”, forum ini mempertemukan pengurus PHRI dari berbagai wilayah Priangan Timur untuk membahas penguatan sinergi pariwisata.

Dari perspektif Public Relations (PR), forum semacam ini bukan hanya kegiatan koordinasi. Lebih dari itu, ia merupakan proses membangun stakeholder relations. Pariwisata tidak mungkin dikembangkan hanya oleh pemerintah atau pelaku usaha. Ada masyarakat, hotel, restoran, UMKM, komunitas, akademisi, media, hingga wisatawan yang memiliki kepentingan dan peran masing-masing.

Kebutuhan untuk membangun ekosistem bersama semakin penting melihat besarnya potensi pasar wisata domestik. Kementerian Pariwisata mencatat Jawa Barat menerima 18.706.822 perjalanan wisatawan nusantara pada Agustus 2026, meningkat 12,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara nasional, jumlah perjalanan wisatawan nusantara pada bulan tersebut mencapai 104,3 juta perjalanan.

Angka tersebut menunjukkan peluang yang besar, tetapi sekaligus menghadirkan pertanyaan: apakah setiap daerah sudah memiliki strategi komunikasi yang mampu menghubungkan potensi tersebut? Wisatawan pada dasarnya tidak mengenal batas administratif ketika merencanakan perjalanan. Mereka dapat mengunjungi beberapa destinasi dalam satu perjalanan. Karena itu, komunikasi pariwisata juga seharusnya tidak berhenti pada promosi satu destinasi, tetapi mulai membangun narasi kawasan.

Di sinilah peran PR menjadi penting. PR tidak hanya bertugas membuat publikasi atau mengejar pemberitaan positif. PR memiliki fungsi membangun hubungan, mengelola komunikasi dua arah, menjaga reputasi, memahami kepentingan stakeholder, serta menyusun strategi komunikasi berdasarkan kebutuhan publik.

Dalam konteks Priangan Timur, pendekatan tersebut dapat diwujudkan melalui collaborative public relations. Pemerintah daerah, PHRI, pelaku UMKM, komunitas, akademisi, media, dan pelaku ekonomi kreatif dapat membangun kampanye bersama yang memperkenalkan Priangan Timur sebagai sebuah ekosistem perjalanan.

Penelitian mengenai pengembangan Desa Wisata Tonjong Canyon di Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, lembaga masyarakat, karang taruna, sektor swasta, hingga masyarakat. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antarpemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam pengembangan destinasi.

Strategi PR yang dapat diterapkan pun cukup konkret. Pertama, membangun stakeholder mapping untuk mengetahui siapa saja pihak yang memiliki pengaruh dan kepentingan terhadap pariwisata kawasan. Kedua, menyusun destination storytelling yang menghubungkan berbagai destinasi dalam satu narasi. Ketiga, memperkuat media relations dan digital PR melalui media lokal, media sosial, content creator, serta komunitas. Keempat, membuat kampanye dan kalender kegiatan bersama sehingga wisatawan memiliki alasan untuk memperpanjang perjalanan mereka di Priangan Timur.

Selain itu, evaluasi juga penting. Setiap kampanye komunikasi harus diukur berdasarkan jangkauan, interaksi publik, sentimen, perubahan persepsi, hingga dampaknya terhadap kunjungan dan aktivitas ekonomi lokal. Dengan demikian, PR tidak berhenti sebagai fungsi publikasi, tetapi menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan strategis.

Pada akhirnya, daya saing pariwisata Priangan Timur bukan hanya ditentukan oleh seberapa indah destinasi yang dimiliki. Ia juga ditentukan oleh kemampuan para pemangku kepentingan untuk membangun hubungan dan menyampaikan cerita yang sama kepada publik.

Rakor PHRI di Garut dapat menjadi momentum untuk melihat pariwisata dari perspektif yang lebih luas. Jika kolaborasi hanya berhenti pada pertemuan, manfaatnya akan terbatas. Namun, jika komunikasi dilanjutkan menjadi hubungan, program bersama, dan narasi kawasan yang konsisten, Priangan Timur memiliki peluang untuk dikenal bukan sekadar sebagai kumpulan destinasi, tetapi sebagai satu pengalaman wisata yang utuh, berkelanjutan, dan berdaya saing. (Ujang Sulton)

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Informasi, Universitas Garut (Uniga).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *