Ketika Kecerdasan Buatan Membantu Guru Menyusun Asesmen yang Bermakna

Pendidikan43 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan berinteraksi. Dunia pendidikan pun tidak luput dari perubahan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, AI semakin mudah diakses oleh siapa pun, termasuk guru sekolah dasar yang sehari-hari berhadapan dengan beragam karakteristik peserta didik. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan digunakan di sekolah, melainkan bagaimana guru dapat memanfaatkannya secara tepat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Perubahan paradigma tersebut sejalan dengan arah kebijakan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Edisi Revisi Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Dalam panduan tersebut ditegaskan bahwa asesmen merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran. Asesmen tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang dilakukan di akhir pembelajaran untuk memberikan nilai, tetapi menjadi proses yang berlangsung sebelum, selama, dan setelah pembelajaran guna memperoleh informasi tentang perkembangan belajar peserta didik. Oleh karena itu, asesmen formatif ditempatkan sebagai bentuk asesmen yang diutamakan, karena berfungsi memberikan umpan balik bagi guru dan murid untuk memperbaiki proses belajar secara berkelanjutan. Asesmen formatif juga menjadi dasar bagi guru dalam menyesuaikan strategi pembelajaran sehingga setiap peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna dan sesuai dengan kebutuhannya.

Kebijakan tersebut sekaligus memperkuat peran guru sebagai pengambil keputusan pembelajaran (instructional decision maker). Guru dituntut mampu merancang asesmen diagnostik di awal pembelajaran, melaksanakan asesmen formatif selama proses belajar berlangsung, memberikan umpan balik yang cepat dan konstruktif, serta menggunakan hasil asesmen sebagai dasar untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya. Dengan demikian, kualitas asesmen sangat menentukan kualitas pembelajaran itu sendiri. Tantangannya, penyusunan instrumen asesmen yang beragam, autentik, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik memerlukan waktu, kreativitas, dan literasi asesmen yang memadai. Dalam konteks inilah pemanfaatan kecerdasan buatan menjadi peluang yang patut dikembangkan, bukan untuk menggantikan guru, tetapi untuk membantu guru bekerja lebih efektif dan tetap berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran.

Menyikapi hal ini, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Siliwangi melaksanakan kegiatan dalam skema Program Penerapan Iptek Berbasis Masyarakat (PPIBM) bertajuk “Pelatihan Pengembangan Asesmen Formatif Berbantuan Artificial Intelligence untuk Meningkatkan Literasi Asesmen Guru-Guru SDN 01 Purbaratu (KKG Subanagara) Kota Tasikmalaya.” Kegiatan ini dilaksanakan pada 7–8 Juli 2026 di SDN 01 Purbaratu, Kota Tasikmalaya, dan diikuti oleh 25 guru yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) Subanagara. Pelatihan ini berfokus pada penyusunan instrumen asesmen formatif beserta prinsipnya menggunakan kecerdasan buatan (AI) yang sangat bermanfaat bagi para guru.

Program pengabdian ini diketuai oleh Dr. Metty Agustine Primary, M.Pd., dengan anggota tim dari dosen yaitu Rahmat, S.Pd., M.Hum., Neni Marlina, S.Pd., M.Pd., Dr. Aldha Williyan, M.Pd., dan Dr. Yulia Sofiani, S.Pd., M.Hum beserta dua mahasiswa Silji Agnia Salima dan Reishandy DokumenValiansa. Melalui program ini, tim berupaya memperkuat literasi asesmen guru sekolah dasar dengan memanfaatkan perkembangan kecerdasan buatan sebagai solusi untuk menyusun asesmen formatif yang lebih efektif, efisien, dan sesuai dengan karakteristik pembelajaran abad ke-21.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta memperoleh penguatan konsep mengenai asesmen formatif, mulai dari fungsi asesmen sebagai bagian dari proses belajar hingga strategi menyusun instrumen yang mampu memberikan umpan balik bagi peserta didik. Materi ini disampaikan oleh Ketua Tim Pengabdian. Selanjutnya, guru didampingi memanfaatkan berbagai platform Artificial Intelligence diantaranya Chatgpt, Learnt.ai, dan Conker.ai untuk mengembangkan tujuan pembelajaran, indikator ketercapaian, soal diagnostik, instrumen asesmen formatif, rubrik penilaian, serta contoh umpan balik yang konstruktif bersama narasumber lainnya yang merupakan salah satu anggota tim, Dr. Aldha Williyan, M.Pd. Seluruh materi dirancang berbasis praktik sehingga setiap peserta dapat langsung menerapkannya sesuai dengan mata pelajaran dan jenjang kelas yang diampu.

Pelatihan ini tidak hanya memperkenalkan berbagai platform AI, tetapi juga memberikan pendampingan kepada peserta agar mampu memanfaatkannya sebagai alat bantu profesional dalam merancang asesmen formatif. Guru diajak memahami bahwa AI bukanlah pengganti kemampuan pedagogis, melainkan teknologi yang dapat membantu meningkatkan efisiensi kerja tanpa mengurangi kualitas proses pembelajaran.

Disamping itu, para peserta memperoleh materi mengenai konsep asesmen formatif, prinsip-prinsip penyusunan instrumen yang berkualitas, teknik merancang prompt yang efektif, hingga praktik langsung menggunakan AI untuk menyusun indikator pencapaian tujuan pembelajaran, pertanyaan diagnostik, soal formatif, rubrik penilaian, lembar observasi, serta contoh umpan balik yang konstruktif bagi peserta didik. Antusiasme peserta terlihat sejak sesi pertama hingga akhir pelatihan. Banyak guru mengungkapkan bahwa sebelumnya mereka hanya mengenal AI sebagai alat pencari informasi atau pembuat teks. Setelah memperoleh pendampingan, mereka mulai memahami bahwa AI dapat dimanfaatkan sebagai mitra profesional dalam mempercepat penyusunan perangkat pembelajaran, sehingga waktu yang dimiliki guru dapat lebih difokuskan pada analisis hasil belajar, refleksi pembelajaran, dan pendampingan peserta didik.

Pelatihan ini juga menegaskan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan harus selalu diiringi kemampuan berpikir kritis. Hasil yang diberikan AI tidak dapat digunakan begitu saja tanpa melalui proses validasi. Guru tetap memegang peran utama dalam memastikan bahwa setiap instrumen asesmen sesuai dengan capaian pembelajaran, karakteristik siswa, konteks sekolah, serta nilai-nilai pendidikan yang ingin dibangun. Dengan demikian, teknologi menjadi alat bantu, sementara keputusan profesional tetap berada di tangan guru.

Lebih jauh, kegiatan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam mendorong inovasi pendidikan. Melalui skema Program Penerapan Iptek Berbasis Masyarakat, hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan di perguruan tinggi dapat diterapkan secara nyata untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Kolaborasi seperti ini memperkuat fungsi tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam menghadirkan solusi yang berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas pendidikan.

Pemanfaatan AI dalam pembelajaran tentu bukan tanpa tantangan. Masih diperlukan pendampingan berkelanjutan agar guru semakin percaya diri menggunakan teknologi secara etis, bertanggung jawab, dan sesuai dengan prinsip asesmen yang baik. Selain itu, peningkatan literasi digital guru perlu terus menjadi perhatian berbagai pihak agar transformasi pendidikan berlangsung secara inklusif dan berkelanjutan.

Pelatihan di SD Negeri 01 Purbaratu menjadi contoh bahwa transformasi pendidikan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, yaitu meningkatkan kapasitas guru dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung praktik pembelajaran. Ketika guru memiliki kemampuan menyusun asesmen formatif secara lebih efektif melalui bantuan AI, mereka akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk memahami kebutuhan belajar peserta didik, memberikan umpan balik yang lebih berkualitas, dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna.

Pada akhirnya, kecanggihan teknologi tidak akan pernah menggantikan peran guru. Justru di era AI, profesionalisme guru semakin dibutuhkan untuk memastikan bahwa teknologi digunakan secara tepat, bijaksana, dan berpihak pada perkembangan peserta didik. AI hanyalah alat, sedangkan guru tetap menjadi sosok yang menginspirasi, membimbing, dan membentuk generasi masa depan. Melalui kolaborasi antara teknologi dan kompetensi guru, harapan untuk menghadirkan pendidikan dasar yang lebih berkualitas bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan sebuah keniscayaan yang mulai terwujud dari ruang-ruang kelas di sekolah dasar.

 

Penulis: Dr. Metty Agustine Primary, M.Pd.

Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Siliwangi

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *