H.M. Djamhari: Perintis Muhammadiyah Garut, Cabang Pertama dan Tertua di Jawa Barat

Sejarah31 Dilihat

Di awal abad ke-20, Pasar Baru Garut merupakan salah satu tempat berjualan yang selalu ramai dan penuh kehidupan, tidak heran karena letaknya yang sangat strategis berada di pusat kota dan sampai sekarang pasar ini masih bertahan dengan berbagai aktifitas di dalamnya. Di tengah kesibukan pasar baru, ada seorang saudagar batik yang sangat kaya dan juga dermawan, Namanya  Haji Mas Djamhari, ia tidak hanya sibuk mengurus bisnisnya saja, tetapi ia juga merupakan salah satu tokoh yang membangun dan meletakan fondasi bagi gerakan Islam modern di wilayah Priangan yaitu Muhammadiyah. Ia menjadi salah satu tokoh utama yang berperan penting dalam pendirian Muhammadiyah Cabang Garut, yang merupakan cabang pertama di Jawa Barat kala itu.

H.M. Djamhari berasal dari keluarga pedagang pribumi yang sukses dan memiliki pengaruh yang sangat kuat. Ayahnya bernama Dasiman, yang mana orang orang lebih akrab memangilnya Bapak Masini, beliau berasal dari Kudus dan bekerja sebagai petani sekaligus pedagang. Keluarga ini memiliki hubungan erat melalui hubungan kekerabatan dan juga bisnis dengan Jaiman yang dikenal sebagai Bapak Masamah, yang merupakan seorang pedagang batik asal Pekalongan, serta Anwar atau Bapak Rukmanah yang memiliki usaha pabrik tahu dan juga  bioskop Orion di Jalan Ahmad Yani yang sekarang dekat dengan TK Aisyiah. Mereka adalah pendatang dari Jawa Tengah yang berhasil menetap dan bersaing dengan pedagang Eropa maupun Timur Asing pada masa itu di Pasar Baru. Perkembangan industri batik yang pesat saat itu tidak hanya mendukung perekonomian pemerintah kolonial, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat pribumi. Dari kalangan saudagar batik inilah muncul semangat filantropi yang kuat, yaitu kedermawanan yang menjadi ruh gerakan Muhammadiyah.

Sebagai distributor batik di Jawa Barat, H.M. Djamhari sejak awal abad ke-20 sering menjalin relasi atau hubungan dagang dengan saudagar batik di Kauman, Yogyakarta, dan kota-kota lainnya. Melalui hubungan  dagang inilah ia bertemu dengan K.H. Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri Muhammadiyah, di bebera kesempatan H.M Djamhari suka mengikuti kajian beliau dan juga bergaul dengan kalangan Muhammadiyah di Yogyakarta. Dari pergaulan dan interaksi inilah lahirlah pemikiran yang dibarengi keinginan untuk mendirikan gerakan serupa di Garut. Namun sayangnya pada pada tahun 1912 sampai dengan 1920, pemerintah Hindia Belanda membuat aturan yang membatasi izin gerak Muhammadiyah hanya di sekitar Keresidenan Yogyakarta, maka dari itu gerakan ini yang tampak  hanya di Yogyakarta saja. Para simpatisan K.H. Ahmad Dahlan di daerah lain terpaksa menyembunyikan nama Muhammadiyah dengan sebutan lain, seperti Sidik Amanah Tabligh Vatonah di Surakarta, Al-Hidayah di Garut, Nurul Islam di Pekalongan, dan Al-Munir di Makassar.

Pada 2 Maret 1919, H.M. Djamhari bersama rekan-rekannya mendirikan Madrasah Al-Hidayah di Kampung Lio dekat Pasar Baru Garut. Madrasah ini menjadi madrasah modern Islam pertama di Jawa Barat yang model pendidikan dan pengajarannya mencontoh apa yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Muhammadiyah Cabang Garut pun menjadi cabang pertama di Jawa Barat yang menggunakan nama Al-Hidayah sebagai bentuk penyamaran di masa pembatasan kolonial.

Walaupun dibatasi oleh kolonial perjuangan untuk memperluas gerakan terus dilakukan. Pada 7 Mei 1921, Pengurus Besar Muhammadiyah mengajukan permohonan resmi ke Pemerintah Hindia Belanda untuk peluasan wilayah gerakan menjadi seluruh Hindia Belanda. Proses pengajuan ini butuh waktu yang lumayan dan  baru dikabulkan empat bulan kemudian, dengan diterbitkannya Besluit (surat keputusan) Nomor 36 pada 2 September 1921pintu gerbang perluasan gerakan Muhammadiyah terbuka lebar.

Pada awal tahun 1922, bersamaan dengan acara Vergadering (pertemuan) SI Lokal Garut pada 1 April 1922, dua murid K.H. Ahmad Dahlan yaitu Haji Fachruddin dan Haji Hisyam datang ke Garut. Mereka menginap dan berdiskusi di rumah H.M. Djamhari sambil menjelaskan gerakan Muhammadiyah di Garut kedepanya akan seperti apa. Sejak saat itu, Muhammadiyah Garut mulai beroperasi secara de facto. Madrasah Al-Hidayah kemudian dikembangkan menjadi amal usaha pertama bernama Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. Setahun kemudian, tepatnya 30 Maret 1923, terbit surat keputusan resmi dari Pengurus Besar Muhammadiyah yang ditandatangani oleh K.H. Ibrahim sebagai ketua pengganti K.H. Ahmad Dahlan. H.M. Gazali Tusi ditunjuk sebagai ketua cabang Garut, sementara H.M. Djamhari menjadi bendaharanya.

Keberhasilan Muhammadiyah Cabang Garut tidak lepas dari peran penting kelompok saudagar batik di Pasar Baru Garut. Para saudagar ini menjadi pelopor dan penggerak utama dalam perintisan sekaligus pengembangan selanjutnya. Dengan dukungan finansial yang kuat dari mereka, termasuk melalui gerakan infaq dan sedekah, Muhammadiyah Garut mampu membangun banyak amal usaha, baik dalam ranah pendidikan, sosial, dan juga kesehatan yang mana semua itu semata mata atas dasar kepentingan dakwah . Gerakan filantropi ini memberi dampak besar terhadap perkembangan amal usaha Muhammadiyah pada periode 1922 sampai 1940.

Sejak pendiriannya, perkembangan Muhammadiyah Cabang Garut berjalan cukup pesat melalui dakwah yang dilakukan ke berbagai daerah pedalaman Garut. Hasilnya, pada tahun 1930-an cabang ini berhasil mendorong pendirian Muhammadiyah di Tasikmalaya, Ciamis, dan Singaparna. Cabang Tasikmalaya bahkan diresmikan oleh K.H. Sudja dari Pengurus Besar Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 1936. Garut benar-benar menjadi pembuka jalan bagi perkembangan Muhammadiyah di seluruh tanah Priangan.

H.M. Djamhari bersama para saudagar batik lainnya telah memberikan kontribusi yang sangat penting di zamannya. Ia menjadi katalisator sekaligus pelopor perkembangan Muhammadiyah Garut yang merupakan cikal bakal Muhammadiyah di Jawa Barat. Semangat filantropi dan kedermawanan yang mereka tanamkan dulu terus menginspirasi para penerusnya sampai sekarang, yang di buktikan dengan semakin bertambahnya amal usaha untuk kepentingan umat di Kabupaten Garut.(*)

Penulis merupakan Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Siliwangi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *