Bahasa Arab is The New Cool: Alasan Anak Muda Sekarang Hobi Pakai’Ana-Anta’ Di Sosmed

Ragam Opini15 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Fenomena penggunaan istilah bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari di media sosial kini tengah mencapai puncaknya, menciptakan tren estetika baru yang dikenal dengan istilah “gaul tapi taat”. Kata-kata seperti ana (saya), anta (kamu laki-laki), hingga sapaan akhi (saudara) dan ukhti(saudari) tidak lagi hanya terdengar di lorong-lorong pesantren, melainkan telah merambah ke kolom komentar TikTok dan Instagram anak muda.

Tren ini menunjukkan pergeseran di mana identitas religius kini ditampilkan secara bangga melalui pilihan bahasa yang dianggap memiliki “vibe” agamis sekaligus kekinian. Penggunaan istilah qadarullah, masya Allah, dan tabarakallah bahkan telah menjadi semacam “tagline” keren yang meningkatkan nilai estetis sebuah unggahan digital, menjadikannya bagian dari gaya hidup milenial dan Gen Z saat ini.   

Khusus di wilayah Tasikmalaya, Jawa Barat, fenomena ini menemukan tempat persemaian yang sangat subur mengingat predikat daerah ini sebagai “Kota Santri” yang telah melekat selama berabad-abad.

Di kota yang didominasi oleh ribuan pesantren ini, penggunaan bahasa Arab sebenarnya bukanlah barang baru, namun transformasi digital telah mengubahnya menjadi simbol identitas yang lebih populer di luar lingkungan akademik. Remaja Tasikmalaya kini melakukan negosiasi identitas dengan memadukan unsur bahasa Sunda, bahasa Indonesia, dan istilah Arab dalam praktik komunikasi harian mereka di media sosial.

Hal ini menciptakan dialek sosial baru di mana keshalehan tradisional bertemu dengan modernitas digital, memperkuat posisi Tasikmalaya sebagai pusat gravitasi budaya Islam yang adaptif di Priangan Timur.

Tren ini di platform digital seperti TikTok dan Instagram sangat dipengaruhi oleh kehadiran para ustadz muda selebritas yang mengemas materi dakwah dengan gaya yang lebih santai dan relevan bagi remaja.

Figur-figur seperti Ustadz Hanan Attaki telah berhasil membingkai religiusitas sebagai sesuatu yang modis. Dalam media sosial yang sangat visual, bahasa Arab berfungsi sebagai kode sosial yang memperkuat rasa kepemilikan terhadap kelompok atau komunitas hijrah tertentu.

Dinamika ini menunjukkan bahwa bahasa bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan untuk membangun citra diri sebagai muslim milenial yang modern namun tetap memegang teguh nilai-nilai islami.   

Secara ilmiah, fenomena ini dikategorikan dalam kajian sosiolinguistik sebagai praktik campur kode, di mana pembicara menyisipkan unsur-unsur bahasa Arab ke dalam struktur kalimat bahasa Indonesia.

Penelitian menunjukkan bahwa pola penyisipan adalah bentuk yang paling dominan digunakan oleh mahasiswa dan anak muda di media sosial. Praktik ini tidak hanya bertujuan untuk memperjelas makna keagamaan yang sulit diterjemahkan secara emosional ke dalam bahasa Indonesia, tetapi juga berfungsi sebagai strategi linguistik yang disengaja.

Penggunaan istilah Arab di media sosial merupakan bentuk “performativitas bahasa” yang secara sadar dilakukan untuk menegaskan posisi religius pembicaranya di hadapan publik.   

Ditinjau dari perspektif sejarah dan pengembangan bahasa, masuknya bahasa Arab ke dalam struktur bahasa Indonesia sebenarnya adalah proses pencampuran budaya yang sangat dalam dan telah berlangsung sejak abad ke-7 Masehi.

Menurut Prof. Dr. Tajudin Nur, Guru Besar Linguistik Arab UNPAD, bahasa Arab memiliki andil besar dalam pengayaan kosakata nasional, di mana terdapat sedikitnya 2.336 kosakata Arab yang telah diserap ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Kontribusi ini mencakup berbagai bidang pokok mulai dari ketatanegaraan, hukum, hingga konsep intelektual seperti kata “akal”, “makna”, dan “rakyat”. Oleh karena itu, tren penggunaan bahasa Arab saat ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari sejarah panjang integrasi budaya yang kini hadir dalam bentuk yang lebih pop dan terdigitalisasi.   

Namun, penggunaan bahasa Arab gaul yang meluas dan tidak terkontrol di media sosial juga memicu kekhawatiran dari lembaga bahasa terkait potensi penurunan standar literasi formal di kalangan generasi muda.

Penggunaan bahasa gaul yang cenderung memendekkan struktur kalimat dan mengabaikan kaidah tata bahasa Indonesia yang benar dapat mempersulit penguasaan bahasa baku di lingkungan akademik maupun profesional.

Dampak negatif yang sering diidentifikasi adalah munculnya kebiasaan berbahasa yang tidak lengkap dan ketidakmampuan generasi muda dalam membedakan situasi komunikasi formal dan informal.

Hal ini menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk memastikan bahwa kreativitas berbahasa di media sosial tidak mengikis kemampuan literasi dasar yang menjadi pondasi utama persatuan bangsa.   

Selain itu, intensitas penggunaan bahasa Arab dalam pendidikan agama di pesantren, seperti di MAN 1 Probolinggo atau pesantren-pesantren di Jawa Barat, sering kali menyebabkan terjadinya gangguan fonologis dan sintaksis dalam tuturan bahasa Indonesia siswa.

Bentuk gangguan ini dapat berupa perubahan bunyi atau penerapan pola kalimat Arab ke dalam bahasa Indonesia, yang terkadang dianggap lebih “islami” atau sopan oleh para penggunanya.

Meskipun hal ini memperkaya warna lokal dalam berkomunikasi, para ahli merekomendasikan perlunya pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar agar nilai-nilai keagamaan tetap dapat disampaikan tanpa merusak kaidah bahasa nasional. Keseimbangan antara pengadopsian istilah asing untuk identitas dan pelestarian bahasa baku menjadi kunci utama dalam menjaga integritas komunikasi di era digital.   

Menanggapi fenomena ini, menurut kami munculnya bahasa Arab sebagai tren “keren” adalah hal positif. Ini bukti kreativitas anak muda dalam mengekspresikan sisi religius mereka.

Di tengah gempuran budaya Barat, keberanian anak muda, khususnya di Tasikmalaya untuk tampil bangga dengan identitas “santri” di dunia digital adalah langkah yang patut diacungi jempol. Bahasa itu dinamis, dan kemampuannya menyerap hal baru menunjukkan masyarakat kita yang terus berkembang. Tapi ingat, jangan sampai tren ini cuma jadi kulit luar atau sekadar gaya-gayaan demi konten saja.

Lebih jauh lagi, tren “ana-anta” ini punya potensi besar jika bisa jadi pintu masuk untuk belajar agama lebih serius. Jika istilah-istilah Arab tadi dipakai dibarengi dengan pemahaman makna yang benar dan akhlak yang baik, fenomena ini justru akan memperkuat jati diri Tasikmalaya sebagai “Kota Santri” di era modern, bukan hanya sekadar label kosong.

Kita tidak mau bahasa Arab cuma jadi aksesoris digital buat gaya-gayaan, tapi harus tetap mengedepankan sikap terbuka dan ramah, sesuai nilai-nilai kita. Anak muda perlu diarahkan supaya bisa pakai bahasa sesuai tempatnya, tanpa harus kehilangan rasa bangga akan identitas religiusnya.

Intinya, kunci agar tren ini awet adalah bagaimana kita tetap menghargai bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, sambil tetap menikmati pengaruh bahasa Arab di dalamnya. Kami menyarankan para pendidik dan tokoh agama di Tasikmalaya lebih aktif lagi memasukkan unsur edukasi bahasa ke dalam konten dakwah digital mereka.

Dengan begitu, identitas “Kota Santri” nggak cuma jadi catatan sejarah, tapi bakal tetap relevan dan keren di mata anak muda zaman sekarang. Mari kita tunjukkan bahwa jadi modern dan religius itu bisa banget berjalan berdampingan dengan harmonis.

 

Oleh: Abila Apriliani Gempita

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab UNIK Cipasung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *