Pendidikan Keluarga Penentu Masa Depan Bangsa

Pendidikan24 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Belakangan ini, berita seputar orang tua dan anak dalam kaitannya dengan dunia pendidikan terus mengemuka. Peran besar dunia pendidikan tentu saja tidak bisa berdiri sendiri dalam mendidik peserta didiknya. Kementerian pendidikan dan dinas pendidikan di bawahnya juga tidak mungkin sukses menerapkan sistem pendidikan ideal tanpa kehadiran dan peran orang tua di rumah dalam menyiapkan anak-anak mereka sebagai generasi yang diharapkan. Sebagai sekolah pertama bagi anak, peran keluarga menjadi faktor paling penting bahkan penentu arah perkembangan dan masa depan anak.

Dalam berbagai kasus yang melibatkan peserta didik sebagai pelaku pelanggaran sosial, bahkan kejahatan, selalu didapatkan jawaban bagaimana relasi anak di tengah keluarga memiliki masalah. Keharmonisan keluarga memantapkan posisi dan fokus anak. Kondisi tidak nyaman dan kekurangan perhatian di keluarga sering menjadikan anak mencari pelampiasan di luar rumah. Jiwa yang terkoneksi dengan suasana di luar rumah memberi perasaan berbeda. Ia merasa eksistensinya dihargai. Ia menikmati dunianya dan ekspresi itu sering berwujud hal negatif dan perilaku melanggar aturan. Di titik itu, jarak dengan keluarga menjauh dan kehidupannya menjadi tanpa kendali.

PERAN PENTING KELUARGA

Keluarga berperan penting dalam memberikan pendidikan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Dalam menjalankan kehidupannya, seorang anak mesti memiliki pondasi yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh pergaulan negatif di luar lingkungan keluarga. Seorang anak akan dapat membedakan mana yang baik dan buruk untuk dirinya. Pendidikan keluarga adalah pendidikan pertama yang menjadi wadah bagi seorang anak dalam memberikan arah tujuan untuk membangun jati dirinya. Keluarga bisa megarahkan anak untuk mencapai keberhasilan dalam mendapatkan pendidikan sehingga dapat berkontribusi untuk membangun masa depan.

Pendidikan dan keluarga merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bagaimanapun, keluarga merupakan wadah pertama yang menjadi tumpuan  bagi seorang anak. Seorang anak secara tidak langsung menjadikan keluarga sebagai figur atau model pertamanya yang akan mereka tiru. Maka, keluarga harus bisa memberikan contoh dan tauladan yang baik dan dapat menumbuhkan rasa percaya diri, rasa menjadi seorang pemimpin, rasa bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, serta sopan santun kepada anaknya.

        Comenius adalah seorang filosof, pemikir, dan tokoh peletak dasar-dasar pendidikan. Di dalam bukunya yang terkenal, Informatium, Comenius mengemukakan beberapa pemikiran tentang pendidikan, terutama berkaitan dengan pendidikan keluarga. Ia menyatakan bahwa tingkat permulaan (awal) bagi pendidikan anak-anak dilakukan dan diajarkan semestinya sejak dalam keluarga. Comenius menyebut dengan “sekolah ibu” atau dalam bahasa latin disebut “Scolatmaterna”. Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia), pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Ki Hajar Dewantara (1961) menyatakan bahwa alam keluarga bagi setiap orang (anak) adalah alam pendidikan permulaan. Di situ untuk pertama kalinya orang tua (ayah maupun ibu) berkedudukan sebagai penuntut (guru), sebagai pengajar, sebagai pendidik, pembimbing, dan sebagai pendidik yang utama diperoleh anak.

Kebiasaan-kebiasaan yang terus dilakukan oleh setiap anggota keluarga, akan menjadi kaca pertama yang dijadikan cermin. Dengan kaca itu ia tahu harus bagaimana dan seperti apa yang akan dilakukan ketika menghadapi suatu hal atau berbagai masalah dan rintangan yang akan terus-menerus mereka hadapi ke depannya. Perilaku dan tindakan yang baiklah yang harus dicontohkan keluarga kepada seorang anak agar mereka meniru dengan baik ketika menghadapi suatu permasalahan.

Peran keluarga bukan hanya sekadar memberikan sandang, pangan, dan papan. Keluarga juga harus memberikan pendidikan kepada anaknya. Walaupun lembaga pendidikan sudah tersebar luas di mana-mana, dengan berbagai macam visi dan misi yang ditetapkan untuk membangun masa depan anak bangsa yang cerah. Namun tetap saja keluargalah yang akan menjadi penentu ke depannya.

MENYIAPKAN KELUARGA BERKUALITAS

 Ketika masing-masing keluarga menyiapkan anak yang berkualitas untuk masa depan bangsa ke depannya, tidak menutup kemungkinan bangsa kita akan menjadi bangsa yang lebih berkembang dari sebelumnya. Sebaliknya, ketika keluarga memberikan atau menyiapkan anak-anaknya yang tidak berkualitas, maka bangsa kita akan semakin terpuruk, bahkan mungkin menjadi negara miskin.

Mengapa keluarga menjadi penentu bangsa kita ke depannya, karena semua harus dimulai dari ruang lingkup terkecil yaitu keluarga. Ketika anak kita bisa mengatur atau mengendalikan apa-apa yang ada di lingkungannya, secara otomatis dia akan terbiasa sehingga ketika berada di lingkungan luar, mereka akan dengan mudah untuk melakukan apa yang menjadi kewajibannya dan tidak akan mengalami kesulitan. Keluarga bisa melakukan pendekatan kepada anaknya agar peendidikan itu tersalurkan tanpa adanya keterpaksaan. Ketika anak menerima pendidikan dan dibimbing menjadi generasi yang lebih baik untuk bangsa dan agama, maka arah masa depannya bisa terjamin. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan keluarga untuk bisa mengarahkan anaknya menuju masa depan gemilang:

Pertama, selalu menyempatkan untuk berinteraksi dengan anak. Dengan kita senantiasa berinteraksi dengan anak secara baik, maka orang tua akan mengetahui karakteristik dari seorang anak. Dengan mengetahui karakteristik anak, otomatis orang tua akan mengetahui titik kelemahan atau kelebihan seorang anak, sehingga orang tua akan lebih mudah mengarahkan anaknya serta bisa mengarahkan apa yang mesti dilakukan ketika anak merasa jenuh atau bosan ketika orang tua memberikan pendidikan.

Kedua, menjadi contoh baik agar anak bisa meniru atau mengikutinya. Bagaimana tidak, orang tua merupakan model pertama seorang anak. Dia akan melakukan apa saja yang biasa orang tuanya lakukan. Ketika orang tua memberikan perilaku atau contoh yang baik untuk anaknya, otomatis seorang anak akan mengikutinya, sehingga akan tertanam pada dirinya untuk melakukan hal-hal yang baik. Dari Abu Hurairah Radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Tidak ada dari seorang anak (Adam) melainkan dilahirkan atas fitrah (Islam). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya beragama Yahudi, beragama Nasrani, atau beragama Majusi (HR. Muttafaq ‘alaihi). Dapat diartikan bahwa bagaimana kehidupan anak ke depannya tergantung bagaimana orang tua mendidiknya. Ketika setiap keluarga mencetak generasi yang unggul, maka negara kita akan menjadi negara yang lebih maju dan berkembang.

Ketiga, dorong anak untuk mengambil risiko dan mengalami kegagalan. Dengan orang tua memberikan dorongan kepada anaknya dan memberikan kesempatan untuk setiap anak melakukan apa yang ia suka, walaupun kemungkinan dalam keberhasilannya sangat minim, namun dengan cara tersebut anak akan mempunyai rasa tanggung jawab dan memiliki rasa percaya diri karena telah diberi kepercayaan untuk melakukan sesuatu, sehingga anak akan terbiasa untuk melakukan hal baru.

Tentu saja setiap keluarga memiliki cara yang berbeda dalam mendidik anak-anaknya. Banyak improvisasi yang bisa dilakukan, apakah berbasis teori atau pun tidak. Yang pasti, mendidik anak di zaman sekarang tidak bisa dilakukan tanpa sinergitas yang baik antara keluarga dengan lembaga pendidikan.

Neng Pipit Sri Mulyani

Alumnus Prodi Pendidikan Agama Islam UNIK Cipasung

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *