RADAR TASIKMALAYA – Kita hidup di masa di mana membicarakan orang lain terasa lebih mendesak daripada mendengarkan anak sendiri. Aib orang lain bisa diingat dengan rinci, dibahas dengan penuh energi, bahkan diulang tanpa lelah. Sementara itu, cerita anak di rumah sering dipotong, ditunda, atau diselesaikan dengan jawaban singkat yang tergesa. Dan seperti banyak hal lain yang tidak kita sadari, anak-anak tidak pernah benar-benar melewatkan itu. Mereka mungkin tidak memahami isi pembicaraan kita. Tetapi mereka sangat memahami satu hal: posisi mereka di antara semua itu.
Sebagai pendidik anak usia dini, saya sering menjumpai kenyataan yang tidak selalu ingin kita akui. Orang tua hari ini tidak kekurangan kepedulian mereka hanya mendistribusikannya secara berbeda. Perhatian diberikan begitu besar pada hal-hal yang jauh, sementara yang dekat justru menunggu giliran. Anak menjadi pihak yang paling mudah ditunda. Bukan karena tidak dicintai, tetapi karena selalu dianggap ada.
Ada kebiasaan yang perlahan dianggap biasa: anak bisa dititipkan kapan saja, selama orang dewasa memiliki “urusan” yang dianggap lebih penting. Ironisnya, urusan itu tidak selalu tentang sesuatu yang mendesak. Sering kali ia hadir dalam bentuk percakapan panjang tentang orang lain, tentang kehidupan orang lain, bahkan tentang kekurangan orang lain. Kita menitipkan anak, lalu menghabiskan waktu membicarakan orang lain. Kita meninggalkan anak untuk sementara, tetapi tanpa sadar, kita sedang meninggalkan sesuatu yang lebih lama: kehadiran. Dan anak tidak pernah memprotes itu. Ia hanya belajar diam-diam.
AKTIVITAS GHIBAH
Yang lebih menggelisahkan, kebiasaan ini tidak lagi bersifat spontan. Ia mulai terstruktur, rapi, bahkan terasa wajar. Segelintir orang dewasa yang secara sosial terdidik, bahkan berstatus sebagai pendidik membentuk ruang-ruang percakapan tersendiri. Grup percakapan dibuat bukan untuk berbagi pengetahuan, bukan untuk saling menguatkan, tetapi untuk satu hal yang sama: membicarakan orang lain. Ironisnya, yang menjadi bahan bukan sekadar figur jauh. Sering kali justru orang-orang terdekat, rekan kerja, sesama orang tua, bahkan satu lingkungan profesional. Waktu diluangkan, energi dicurahkan, perhatian difokuskan untuk mengulas kehidupan orang lain secara detail, berulang, dan tanpa kehadiran mereka. Sementara itu, di saat yang sama, ada anak yang dititipkan, yang menunggu, yang perlahan belajar bahwa dirinya bisa digeser oleh sesuatu yang bahkan tidak menyangkut dirinya. Kita mungkin menyebutnya sekadar percakapan ringan. Namun bagi anak, itu adalah pelajaran serius tentang prioritas.
Kenyataan lain yang tidak kalah ironis: dalam ruang-ruang percakapan seperti itu, tidak semua yang paling vokal benar-benar memahami makna menjadi orang tua. Ada yang begitu lancar membicarakan kehidupan orang lain, tetapi belum pernah benar-benar merasakan tanggung jawab membesarkan seorang anak. Dan justru di situlah letak keganjilannya. Karena mengasuh anak bukan hanya tentang memiliki tetapi tentang belajar menahan diri, menjaga lisan, dan memahami bahwa setiap kata adalah teladan. Maka ketika seseorang begitu ringan membicarakan aib orang lain, barangkali yang belum hadir bukan sekadar anak dalam hidupnya tetapi juga kesadaran tentang amanah besar yang seharusnya menyertai peran itu. Dan kita semua, pada akhirnya, sedang diuji bukan pada apa yang kita miliki, tetapi pada bagaimana kita menjaga diri sebelum itu diberikan.
APA YANG DIPELAJARI ANAK?
Dalam kajian perkembangan moral, anak belajar bukan dari apa yang kita katakan, tetapi dari apa yang kita ulang. Mereka tidak merekam niat. Mereka merekam pola. Ketika orang tua lebih bersemangat membicarakan orang lain daripada memahami dirinya, anak belajar bahwa dirinya bukan prioritas. Ketika percakapan tentang orang lain terasa lebih hidup daripada percakapan di rumah, anak belajar bahwa hubungan bisa digantikan oleh kesibukan. Dan tanpa perlu penjelasan, ia mulai memahami satu hal yang paling sunyi: bahwa untuk didengar, ia harus menunggu atau bahkan tidak berharap.
Rumah seharusnya menjadi tempat paling utuh bagi anak tempat ia didengar tanpa distraksi, dipahami tanpa tergesa. Namun hari ini, rumah sering kali hanya menjadi ruang singgah di antara berbagai kesibukan. Anak berbicara kita menjawab sambil melihat layar. Anak bercerita kita mempercepat. Anak menunggu dan akhirnya terbiasa. Kita tidak pernah benar-benar mengatakan bahwa dirinya tidak penting. Tetapi kebiasaan kita menyampaikannya dengan sangat jelas. Dan anak, seperti biasa, tidak belajar dari apa yang kita maksud. Mereka belajar dari apa yang kita lakukan.
Anak-anak tidak menyimpan hidup dalam bentuk peristiwa besar. Mereka menyimpannya dalam potongan-potongan kecil: cara kita merespons, cara kita menunda, dan cara kita memilih hadir atau tidak. Semua itu tampak sepele. Sampai suatu hari, ia muncul kembali dalam diri mereka. Bukan sebagai ingatan, tetapi sebagai cara. Cara mereka berbicara. Cara mereka menjaga jarak. Cara mereka tidak lagi bercerita. Dan saat itu terjadi, kita mungkin tidak akan menemukannya di luar sana. Ia tidak datang dari dunia yang ramai. Ia tumbuh dari sesuatu yang jauh lebih dekat dari hal-hal yang kita lakukan setiap hari, tanpa pernah benar-benar kita anggap penting. Sebagaimana diingatkan dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain…” (QS. Al-Hujurat: 12).
Barangkali ayat ini tidak hanya berbicara tentang dosa sosial, tetapi juga tentang sesuatu yang lebih dekat tentang bagaimana lisan yang tidak dijaga dapat menggeser prioritas yang seharusnya kita rawat. Kita sering berharap anak menjadi generasi yang lebih baik dari kita. Namun diam-diam, setiap hari, kita sedang menuliskan masa depan itu bukan melalui harapan, melainkan melalui kebiasaan.
Oleh: Devita Savitri, M.Pd
Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD)
Universitas Islam KH. Ruhiat Cipasung






