RADAR TASIKMALAYA – Ada hal yang sangat serius tetapi belum mendapat perhatian publik secara umum. Bagaimana dampak negatif dari pemanfaatan teknologi yang bernama gawai bisa terjadi? Bagaimana anak-anak Indonesia bisa diantar menuju gerbang “Indonesia Emas 2045” dalam kondisi hari ini, otak mereka terancam. Hadirnya Peraturan Menteri (Permen) Komdigi No. 9 Tahun 2026 yang berisi peraturan teknis yang diterbitkan untuk melindungi anak di bawah usia 16 tahun dari risiko ruang digital. Aturan itu dilakukan dengan menonaktifkan akun media sosial dan platform berisiko tinggi secara bertahap mulai 28 Maret 2026. Peraturan yang masih belum dikenal luas ini merupakan turunan dari PP No. 17 Tahun 2025. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan keamanan anak dari pornografi, cyberbullying, dan adiksi.
Penggunaan smartphone adalah aktivitas instan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman. Ia juga adalah akses terdekat mendapatkan hiburan. Maka tidak salah jika gadget hari ini dianggap sebagai sahabat terdekat umat manusia. Menurut data terbaru, screen time masyarakat Indonesia pada tahun 2026 mencapai sekitar 7 jam 38 menit hingga 7,5 jam per hari di semua perangkat digital. Angka ini sangat tinggi dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan penggunaan layar tertinggi di dunia, yang memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan mental, spiritual, dan sosial.
Para pengguna smartphone berasal dari generasi yang berbeda. Berdasarkan data DemandSage, Gen Z tercatat sebagai kelompok dengan tingkat screen time tertinggi. Sebanyak 76% terlama menggunakan gadget, disusul Milennials 67%, Gen X 66%, dan yang terakhir Boomers 51%. Ini menunjukkan bahwa semakin muda generasinya semakin tinggi kecenderungan screen time, terutama dipicu oleh media sosial, hiburan digital, serta kebutuhan belajar dan kerja jarak jauh.
MANAGEMEN SCREEN TIME
Mari kita analisis penggunaan waktu pelajar berdasarkan data tersebut. Manusia memiliki waktu 24 jam dalam sehari. Ada 7- 8 jam waktu ideal untuk tidur, 5 jam untuk belajar, sedangkan untuk layar bisa menghabiskan 7-8 jam per hari di luar tugas sekolah. Jika ditambah tugas belajar online, bisa lebih dari 10 jam dalam satu hari. Maka bisa dilihat, hampir setengah, bahkan lebih waktu sadar ini habis untuk layar. Jika dalam sehari bisa menghabiskan 8 jam, maka dalam satu tahun ada 2.920 jam. Ini setara dengan lebih dari 120 hari penuh hanya untuk layar, sedangkan waktu untuk ibadah, membaca Al-Qur’an, atau aktivitas fisik sering kali jauh lebih sedikit atau bahkan sama sekali tidak dilakukan. Hampir setengah hari waktu sadar mereka dihabiskan di depan layar. Sedangkan waktu untuk belajar, beribadah, bahkan untuk berbincang dengan keluarga, kebanyakan tidak ada waktu khusus untuk itu, sehingga besar kemungkinan waktu itu tergerus di hadapan layar.
Mengapa Screen time terasa lebih menyenangkan dibandingkan dengan belajar dan beribadah? Pada dasarnya otak memang dirancang untuk mencari hal yang cepat memberi rasa senang. Saat kita membuka media sosial, atau bermain game, otak langsung melepas zat kimia bernama dopamin. Dopamin adalah hormon yang membuat kita merasa senang dan ingin mengulanginya lagi. Media sosial, video pendek, dan game ini memberi rangsangan cepat dan berulang, sehingga otak merasa terhibur tanpa harus berpikir berat. Media sosial cenderung tidak menuntut kerja konkret yang berat sedangkan belajar atau beribadah membutuhkan konsentrasi, kesabaran, dan pengendalian diri. Sehingga melibatkan bagian otak bernama prefrontal cortex yang bertugas untuk berpikir, merencanakan dan mengontrol diri. Bagian ini masih berkembang dan belum sempurna pada remaja, sehingga aktivitas yang butuh fokus panjang sering terasa lebih melelahkan. Namun, dengan latihan dan kebiasaan yang baik, otak bisa diarahkan untuk merasakan kepuasan yang lebih pada aktivitas yang lebih bermanfaat.
OTAK WAJIB DIHARGAI
Menurut Assoc. Prof. Dr. Rizki Edmi Edision, Ph.D, sorang ilmuan otak dan perilaku manusia, walaupun pada saat anggota tubuh seseorang tidak melakukan pergerakan apa pun, hanya melakukan scroll media sosial, tanpa disadari otak sedang dipaksa untuk memproses segala macam stimulasi. Jadi, penting bagi kita untuk memberi porsi perhatian terbaik bagi otak, terutama otak anak, agar bisa memiliki daya terbaiknya demi masa depan mereka yang lebih cemerlang.
Perbedaan zaman dulu dan sekarang. Pada tahun 2000 awal ketika dunia digital belum begitu massif, kebiasaan untuk mengisi waktu adalah dengan membaca novel, membaca majalah, dan paling tidak hanya dengan “bengong”. Sementara anak-anak, di zaman itu, mereka melakukan aktivitas yang memeras energi fisik mereka. Apalagi di perkampungan, mereka sepanjang hari bermain di lapangan, di sawah, di hutan, dan menghabiskan waktu untuk bermain dengan sesuatu yang menyehatkan fisik mereka.
Zaman sekarang sudah sangat berbeda. Rasanya bengong itu menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Hanya karena kita tidak ingin terlihat tidak melakukan apa pun, seperti halnya ketika bepergian menggunakan kereta atau transportasi umum lainnya, hampir semua orang di sana membuka media sosial. Informasi yang diterima sesungguhnya mengambil jatah energi otak manusia, membutuhkan waktu 5-6 detik untuk memproses informasi. Dengan jumlah energi yang begitu banyak itu, maka muncullah rasa letih. Itu sebabnya kita cepat capek tanpa sadar. Satu hal yang menarik, kita punya kesempatan untuk bengong atau merenung itu adalah sebuah luxury di era digital ini. Merenung kini sudah cukup sulit dilakukan karena secara spontan tangan kita begitu kuat memiliki kebutuhan untuk melihat layar dan berselancar di dunia maya.
MARI BIJAK BERMEDSOS
Dampak dari screen time atau scrolling media sosial terlalu lama menyebabkan kerusakan dan kemampuan fokus otak menurun. Kerusakan yang dimaksud bukan rusak secara anatomi, tapi kemampuan fungsi otak untuk mempertahankan atensi. Sedangkan skill yang kita butuhkan adalah kemampuan mempertahankan atensi. Bahkan dari segi berkomunikasi, orang-orang yang kemampuan atensinya begitu rendah, hanya bisa fokus dalam waktu begitu pendek. Salah satu skill komunikasi yang underrated adalah kemampuan mendengarkan, dan mendengarkan membutuhkan atensi yang penuh.
Scrolling media sosial, kenapa ini menjadi suatu hal yang adiktif? Karena sifat dasar manusia adalah ingin tahu. Zaman dahulu, untuk mendapatkan satu jawaban kita harus membaca satu buku atau satu bab. Membaca satu bab itu menguras energi dan memakan waktu. Sementara di era media sosial, satu bab itu kadang disampaikan hanya intinya saja dalam waktu 5-6 detik. Yang terjadi adalah kepuasan karena bisa mendapatkan informasi dengan waktu yang begitu cepat, dan pada akhirnya akan scrolling lagi.
Walaupun di media sosial informasi penting itu memakan waktu 1-2 menit, tetapi jika tidak disampaikan di 6 detik awal akan segera di-scroll. Ketika kita scrolling, tanpa disadari kita itu bukan melakukan yang namanya multitasking, tetapi kita langsung men-switching perhatian. Switching perhatian juga menguras energi. Makanya, bukan hanya sosial media yang membuat otak kita rusak, tetapi juga kebiasaan multitasking. Seolah-olah kalo multitasking itu begitu hebat, padahal tidak! Mengerjakan banyak hal secara bersamaan itu tidak ada. Yang kita lakukan tidak lebih dari kita mencoba menggantikan pekerjaan begitu cepat, tetapi ketika kita mengganti pekerjaan selama beberapa detik otak kita dipaksa lagi beradaptasi dengan hal yang baru dan menguras energi sehingga menimbulkan ketidakfokusan, karena untuk mengganti switching itu saja perlu waktu dan energi.
Penggunaan media sosial bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah. Namun cara kita menggunakannya yang menentukan dampaknya. Jika kita terus membiarkan diri terbiasa dengan konsumsi informasi yang serba cepat dan dangkal, maka kemampuan fokus dan kualitas berpikir kita menurun. Sebaliknya, dengan mengelola waktu screen time secara bijak, melatih kembali fokus, serta membiasakan diri untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih dalam seperti membaca atau berdiskusi, kita dapat menjaga bahkan meningkatkan fungsi otak. Maka dari itu, penting bagi kita untuk lebih sadar dan bijak dalam menggunakan teknologi, jangan sampai kemudahan yang ditawarkan justru membuat kita kehilangan kemampuan dasar yang sangat berharga.
Bijak dalam bermedia sosial adalah sikap dewasa dalam memahami kehidupan. Semua generasi memiliki dunianya masing-masing. Semua pihak mesti saling menguatkan dan melindungi. Tentu saja aset termahal yang dimiliki negeri ini adalah anak-anak. Semua generasi mesti memiliki rasa tanggung jawab untuk menyelamatkan mereka.
Oleh: Siti Nurul Attahiyyah
Mahasiswa Prodi pendidikan Bahasa Arab UNIK Cipasung






