Menyaring Badai Informasi dengan Kacamata Stoikisme

Sosial52 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Pernah nggak, baru buka gawai pagi-pagi, tiba-tiba emosi sudah meledak gara-gara baca berita heboh di grup WhatsApp, X (Twitter), TikTok atau Instagram? Pas ditelusuri jam berikutnya, ternyata beritanya cuma hoaks atau clickbait sengaja yang dibuat demi ngejar views. Kesel banget, kan?

Setahun yang lalu, media sosial sempat dihebohkan oleh adanya informasi seorang pelatih paus orca bernama Jessica Radcliffe tewas diterkam atau dimangsa paus yang dilatihnya pada saat pertunjukan. Konten medsos mengalir tanpa henti seperti air bah. Sangat meyakinkan.

Di tanah air, publik juga sempat dihebohkan oleh video narasi Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI, yang berpidato pada sebuah acara di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menyatakan guru sebagai beban negara. Cuplikan video yang cukup menyulut kecaman dan kemarahan publik, terutama para guru. Sekali lagi itu konten yang sangat meyakinkan.

Lalu seiringnya waktu baru terkuat, itu HOAKS, manipulasi video berbasis kecerdasan buatan (deepfake). Tapi informasi sudah telanjur menyebar, publik sudah telanjur beropini aneka ragam.

Satu sisi kita menyadari tren hoaks di media sosial begitu gencarnya, tapi sisi lain emosi kadang lebih cepat mendahului logika dan akal sehat. Di Indonesia, penyebaran hoaks dikendalikan lewat temuan ribuan konten bohong, dominasi media sosial, serta topik utama seputar politik dan kesehatan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat identifikasi 1.923 konten hoaks sepanjang tahun 2024. 

Di era derasnya informasi publik saat ini, kita tidak lagi kekurangan informasi. Kita justru tenggelam di dalamnya. Masalahnya, nggak semua kabar itu bergizi. Banyak yang cuma “sampah digital” yang disebar buat bikin panik. Klaim kesehatan tanpa dasar, hingga narasi provokatif yang dirancang khusus untuk memancing emosi dalam riuhnya lalu lintas data ini, hoaks tumbuh subur bagai parasit yang menggerogoti akal sehat publik. Sederhananya, dalam informasi ada bahaya laten yang merusak tatanan sosial: hoaks atau berita bohong.

Tren hoaks di media sosial saat ini didominasi oleh pencatutan kebijakan pemerintah, penipuan tautan bantuan palsu, dan manipulasi video berbasis kecerdasan buatan (deepfake). Berbagai isu bohong tersebut sering disebarkan melalui platform seperti Facebook, TikTok, dan Instagram. Hoaks dan disinformasi menyebar seperti badai yang memicu kepanikan, kemarahan, dan polarisasi. 

Mengapa cepat menyebar? Pertama, sebagai pemicu emosi. Berita palsu sengaja dibuat dengan judul provokatif untuk memancing kemarahan, ketakutan, atau rasa fanatisme pembaca

Kedua, algoritma platform. Media sosial dirancang untuk mengejar interaksi, sehingga konten yang kontroversial dan viral lebih cepat disebarluaskan oleh sistem

Ketiga, konfirmasi bias. Pengguna cenderung cepat percaya dan membagikan informasi yang sejalan dengan keyakinan pribadi mereka tanpa memeriksa kebenarannya

Keempat, kemudahan akses. Hanya dengan satu kali klik atau tombol share, informasi palsu dapat berpindah ke banyak orang dalam waktu singkat. 

Nah, gimana caranya biar pikiran kita tetap adem dan nggak gampang “tergocek” hoaks? 

Ada sebuah Filsafat Yunani kuno: Stoikisme, yang bisa kita jadikan “jangkar mental” agar kita tetap rasional dan tidak mudah terombang-ambing oleh berita palsu. 

Pertama, pahami dikotomi kendali. Memisahkan arus berita dari reaksi diri. Prinsip paling mendasar dalam stoikisme adalah dikotomi kendali (dichotomy of control). Filsuf stoik seperti Epictetus mengajarkan bahwa hal-hal di dunia terbagi menjadi dua. Yakni, apa yang berada di luar kendali kita—seperti munculnya berita palsu, algoritma media sosial, opini orang lain menyebarkan fitnah, serta peristiwa dunia—kita tidak bisa memaksa internet berhenti memproduksi berita bohong. 

Kemudian, apa yang berada di bawah kendali kita adalah opini kita, reaksi kita, dan keputusan kita untuk memercayai atau menyebarkan informasi tersebut.

Kepanikan publik akibat hoaks seringkali terjadi karena kita berusaha mengendalikan apa yang di luar kuasa kita—merasa cemas berlebihan atas rumor yang belum pasti. Kita tidak bisa menghentikan orang lain membuat hoaks, tetapi kita sepenuhnya bertanggung jawab atas tanggapan dan ketenangan pikiran kita sendiri.

Kalau kamu stres gara-gara hoaks makin merajalela, ingat kalau kamu nggak bisa ngontrol apa yang disebar orang lain. Tapi, kamu punya kendali penuh 100 persen atas jempol kamu sendiri untuk nggak asal share atau ngamuk-ngamuk di kolom komentar.

Kedua, jangan langsung “nge-gas” (pause your assent). “Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah anda”. Generasi millennial mungkin paham dengan jargon iklan sebuah parfum tersebut. Tapi ini bukan tentang parfum. 

Tapi ingatlah: “Kesan pertama bisa menipu. Jangan biarkan emosimu mengambil alih sebelum akal sehat sempat memeriksa fakta.” (Epictetus)

Sebuah informasi yang masuk ke indra kita disebut sebagai phantasia (kesan awal). Ketika melihat judul berita yang bombastis atau pesan berantai yang menakutkan, reaksi emosional pertama kita—seperti kaget, marah atau takut—adalah hal yang wajar. 

Namun jangan langsung “nge-gas” secara tergesa-gesa. Sebelum sebuah informasi diterima sebagai kebenaran, kita wajib untuk menjeda dan mengujinya dengan akal sehat (logos). Tahan dulu! Beri jeda beberapa detik sebelum bereaksi.

Dalam konteks informasi publik, menahan persetujuan berarti: tidak langsung membagikan pesan hanya karena judulnya sesuai dengan prasangka kita serta menguji sumber, fakta, dan logititas klaim tersebut sebelum membiarkannya memengaruhi emosi kita.

Ketiga, jaga “benteng pikiran” (inner citadel). Marcus Aurelius, seorang Kaisar Romawi sekaligus filsuf Stoik, selalu mengingatkan pentingnya menjaga kedamaian pikiran alias inner citadel.

Konsumsi informasi publik yang liar itu mirip kaya makanan. Kalau tiap hari nampung hoaks dan drama online, “pencernaan mental” bakal sakit. Di era digital artinya kamu harus selektif memilih feed. Dengan kata lain, perlu melatih ketidakpedulian yang bijak. Bukan berarti menjadi manusia yang tidak peduli atau mati rasa, melainkan bebas dari gangguan emosi yang tidak rasional. 

Menjadi Stoik itu bukan berarti jadi orang apatis yang cuek sama isu sosial. Justru sebaliknya! Seorang Stoik akan sibuk mencari kebenaran secara rasional ketimbang ikut-ikutan histeria massa.

Jadi, pas ketemu informasi publik yang mencurigakan, jadilah Chill Philosopher: Pertama, saring sebelum sharing. Cek fakta di situs resmi atau portal berita tepercaya.

Kedua, matikan notifikasi. Kalau grup berita sudah kelewat beracun, mute atau keluar. Ketiga, fokus pada aksi nyata. Daripada debat kusir sama akun anonim di medsos, lebih baik alokasikan energi lu buat hal positif.

Hoaks merajalela bukan hanya karena ada pihak yang berniat jahat membuatnya, melainkan juga karena ada masyarakat yang terburu-buru mengonsumsi dan menyebarkannya tanpa jeda berpikir.

Dengan mengadopsi cara pandang Stoik, kita diajak untuk mengambil kembali kendali atas pikiran kita sendiri. Sebelum membagikan sebuah kabar, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini berada dalam kendaliku? Apakah ini sudah teruji kebenarannya? Apakah membagikannya akan membawa kebaikan atau justru kekacauan?

Bijak berinternet itu bukan cuma soal paham teknologi, tapi juga paham psikologi dan emosi sendiri. Pada akhirnya benteng terkuat melawan propaganda dan kebohongan publik bukanlah algoritma tercanggih, melainkan kejernihan akal dan ketenangan jiwa setiap individu di balik layar gawai. (Yudi Wahyudi)

Penulis adalah Kepala Bidang Keamanan Informasi, Persandian dan Statistik Diskominfo Kota Tasikmalaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *