Plastik merupakan bahan yang tidak asing didengar di telinga kita, karena plastik sudah banyak digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Banyaknya penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari disebabkan oleh harganya yang terjangkau, memiliki manfaat serbaguna, steril yang dapat digunakan dalam berbagai aplikasi, antara lain pada bidang konstruksi, peralatan rumah tangga, instrumen medis, dan kemasan makanan.
Selama 70 tahun terakhir, telah terjadi peningkatan tajam dari produksi plastik di dunia. Pada tahun 1950, hanya 2 juta ton plastik diproduksi. Namun, jumlah tersebut telah meningkat menjadi 460 juta ton pada tahun 2019. Laporan OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) telah memproyeksikan konsumsi plastik global akan meningkat menjadi 1.231 juta ton pada tahun 2060 tanpa adanya kebijakan baru yang lebih berani. Diperkirakan 57 juta ton plastik dihasilkan setiap tahunnya di dunia.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional tahun 2025, diketahui total timbulan sampah di Indonesia mencapai 25.842.813,63 ton/tahun (diakses tanggal 18 Maret 2026). Dari total timbulan sampah tersebut, hanya 35,56% sampah yang terkelola. Berdasarkan komposisinya, sampah plastik berada di urutan ke-2 sebagai jenis sampah yang paling banyak dihasilkan di Indonesia (20,47%), sedangkan di urutan pertama adalah sampah sisa makanan 40,82%.
Kondisi demikian, menunjukkan bahwa sampah plastik menjadi salah satu masalah kesehatan lingkungan yang tidak dapat dianggap sepele. Penggunaan plastik yang semakin meningkat tentu semakin meningkat pula sampah plastik yang dihasilkan. Sampah plastik akan menjadi polutan lingkungan ketika tidak dikelola dengan baik, tidak didaur ulang, dan kemudian dibakar di lingkungan atau disimpan di tempat pembuangan sampah tertutup. Secara khusus, berkisar 1-2 juta ton plastik masuk ke lautan kita setiap tahun, memengaruhi ekosistem dan satwa liar. Akibatnya, diperlukan peningkatan pengelolaan sampah plastik di seluruh dunia, termasuk di negara kita, yang masih tergolong negara berkembang.
Dahulu, plastik dianggap sebagai keajaiban teknologi karena bahannya yang ringan, kuat, dan murah. Namun hari ini, keajaiban itu telah berubah menjadi monster mikroskopis yang menyusup ke setiap sudut planet kita. Mikroplastik merupakan partikel plastik dengan ukuran sangat kecil, yaitu kurang dari 5 milimeter. Partikel-partikel ini berasal dari dua sumber utama yaitu mikroplastik primer (seperti microbeads dalam kosmetik) dan mikroplastik sekunder (berasal dari plastik besar yang telah rusak, seperti kemasan makanan, botol minum, atau serat sintetis dari pakaian). Partikel ini berasal dari sampah plastik yang terurai oleh sinar matahari, gelombang laut, dan gesekan sehari-hari, serta diproduksi secara langsung dalam bentuk microbeads pada produk perawatan pribadi seperti scrub wajah atau pasta gigi. Tanpa kita sadari, mikroplastik dapat masuk ke rantai makanan karena di alam, mikroplastik dapat menyebabkan pencemaran pada air laut, sungai, udara, dan bahkan tanah pertanian. Mikroplastik, bukan lagi sekadar isu lingkungan yang jauh di tengah samudera, ia telah masuk ke dalam rantai makanan, udara yang kita hirup, bahkan mengalir dalam darah manusia.
Masalah utama dari mikroplastik adalah sifatnya yang “abadi” dan mampu bertahan lama di lingkungan. Sampah plastik tentu sangat berbeda dengan sampah organik. Sampah organik bersifat membusuk, sedangkan plastik hanya terfragmentasi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Lebih parahnya lagi, ukuran mikroplastik yang sangat kecil, menyebabkan mikroplastik sulit disaring oleh sistem pengolahan limbah konvensional.
Mikroplastik akan berakhir di laut, kemudian dapat ditelan oleh plankton, selanjutnya dimakan ikan. Proses tersebut menyebabkan mikroplastik dapat masuk ke rantai makanan kita. Jika terus menerus terpapar oleh mikroplastik, maka ia akan menjadi ancaman tak terlihat yang mengancam kesehatan kita. Bahaya mikroplastik bagi kesehatan manusia semakin terbukti mengkhawatirkan. Menurut studi dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) dan jurnal Environmental Science & Technology, partikel ini ditemukan dalam darah, paru-paru, hati, dan bahkan plasenta ibu hamil. Peradangan kronis yang dapat menyebabkan penyakit jantung, gangguan hormon yang disebabkan oleh bahan kimia seperti BPA (Bisphenol A) dan phthalates yang menempel padanya, dan peningkatan risiko terkena kanker usus besar karena akumulasi di saluran pencernaan adalah beberapa dampak yang dapat dihasilkannya akibat paparan mikroplastik. Anak-anak dan orang tua lebih rentan terhadap toksin ini karena sistem kekebalan tubuh mereka lebih lemah.
Secara medis, bahaya mikroplastik bersifat ganda, pertama mikroplastik memiliki sifat toksisitas fisik karena partikel tajam mikroskopis dapat memicu peradangan pada jaringan tubuh. Kedua, mikroplastik berfungsi sebagai “magnet” yang dapat menarik zat kimia sebagai polutan lingkungan berbahaya seperti pestisida dan logam berat, kemudian saat zat tersebut masuk ke tubuh manusia, akan dilepaskan ke dalam tubuh manusia oleh mikroplastik.
Mikroplastik menjadi pengingat pahit bahwa apapun yang kita buang ke alam akan selalu menemukan jalan kembali ke diri kita. Saat ini, tanpa sadar, kita sedang menghadapi ancaman global yang tidak mengenal batas negara. Menunda tindakan, berarti memberikan konsekuensi kepada generasi mendatang, mewarisi tubuh yang terpolusi dan bumi yang sekarat. Sekarang, waktunya bagi pemerintah dan industri untuk memprioritaskan keselamatan ekosistem dan kesehatan manusia daripada bersembunyi di balik kata “praktis”.
Lantas apa peran kita? Tidak perlu langsung menjadi pahlawan lingkungan dalam semalam, namun kita dapat melakukan perubahan dimulai dari hal-hal kecil yang konsisten. Bayangkan jika jutaan orang di dunia melakukan hal yang sama, maka dampaknya akan luar biasa. Berikut hal-hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi mikroplastik di lingkungan :
- Kurangi penggunaan “Botol Sekali Pakai”. Sebagai alternatif kita dapat membawa tumblr untuk memangkas ribuan partikel plastik tiap tahunnya.
- Hindari produk yang mengandung polyethylene atau polypropylene, kita dapat mengetahuinya dengan mengecek label skincare.
- Kita dapat memilih menggunakan baju bahan katun, linen atau serat alami, karena itu jauh lebih ramah lingkungan dibanding sintetis.
- Mencuci baju penuh dan suhu rendah. Serat sintetis (seperti polyester atau nylon) paling banyak rontok saat dicuci dalam kondisi mesin cuci setengah kosong atau pakai air panas. Usahakan kita mencuci saat baju sudah penuh dengan suhu normal saja.
- Biasakan membawa tas belanja kain. Terdengar klise, tapi efektif. Dapat dibayangkan berapa banyak fragmen mikroplastik yang dapat dicegah hanya karena kita menolak satu kantong kresek di kasir.
- Pelan-pelan mengurangi penggunaan sedotan plastik.
Dunia memerlukan transformasi sistemik. Kita memerlukan regulasi yang memaksa industri untuk mengadopsi prinsip ekonomi sirkular secara total. Produsen harus bertanggung jawab atas siklus hidup produk mereka (Extended Producer Responsibility).Kebijakan harus mendorong pengembangan bahan biodegradable yang benar-benar dapat terurai secara alami. Dengan langkah-langkah yang dilakukan baik oleh kita sebagai konsumen, maupun produsen diharapkan berdampak signifikan terhadap pengurangan mikroplastik di lingkungan.*
Biodata Penulis
Nama: Nissa Noor Annashr, SKM, MKM
TTL: Kuningan, 6 April 1989
Pekerjaan: Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Siliwangi
No. hp: 087782188699












