Membongkar Berhala Rumus: Di Balik Rapor Merah TKA 2026

Pendidikan42 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Pendidikan dasar dan menengah kita kembali dihadapkan pada kenyataan pahit yang menampar wajah pembuat kebijakan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja merilis data evaluasi nasional yang memotret kemampuan akademik siswa di jenjang krusial. Hasilnya sangat mencemaskan. 

Data yang dipaparkan Rahmawati, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, menunjukkan bahwa nilai rerata Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SD sederajat hanya menyentuh angka 43,41, sementara di tingkat SMP sederajat posisinya justru kian merosot ke angka 40,35. Di antara seluruh aspek kemampuan akademik yang diujikan dalam TKA tersebut, matematika menonjol sebagai mata pelajaran dengan torehan nilai paling rendah secara nasional.

Rapor merah nilai TKA ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan sebuah alarm keras yang mengonfirmasi adanya patahan besar dalam sistem pengajaran matematika sejak dini. Angka 40-an ini menjadi bukti empiris bahwa kelas-kelas matematika kita masih terjebak pada metode mekanistis yang kaku: menghafal rumus instan, mengejar jawaban akhir, dan berorientasi pada kecepatan tanpa kedalaman. Ketika siswa naik jenjang dari SD ke SMP, nilai rerata TKA mereka justru melorot. Hal ini menandakan bahwa pengetahuan yang dibangun di tingkat dasar sangat rapuh dan siswa mengalami disorientasi kognitif yang akut saat menghadapi materi matematika yang kian kompleks.

Akar dari rendahnya capaian matematika dalam TKA nasional ini dapat diidentifikasi secara jernih melalui dua lensa psikologi belajar: teori perkembangan kognitif Jean Piaget dan prinsip psikologi Gestalt.

Jika kita merujuk pada teori Jean Piaget, anak usia SD berada pada fase operasional konkret, di mana mereka membangun pengetahuan melalui interaksi aktif dengan objek fisik. Mereka membutuhkan jembatan visual dan manipulasi material sebelum mampu melangkah ke ranah abstraksi simbolis. Sayangnya, rendahnya rerata TKA SD yang hanya 43,41 mengindikasikan adanya lompatan kognitif yang dipaksakan di ruang kelas. Guru-guru kita acap kali tidak memiliki kemewahan waktu atau kreativitas untuk membumikan konsep, sehingga anak-anak langsung dijejali simbol mati dan formula siap pakai.

Memaksa anak menghafal rumus luas bangun datar atau operasi pecahan tanpa pernah membiarkan mereka bereksplorasi dengan alat peraga, seperti kertas lipat atau blok kayu adalah bentuk kekerasan kognitif yang melanggar kodrat perkembangan anak. Akibatnya, ketika anak naik ke tingkat SMP (di mana Piaget menyebutnya sebagai masa transisi menuju operasional formal), struktur berpikir mereka runtuh. Tanpa fondasi konkret yang kuat dari SD, materi matematika SMP yang lebih abstrak membuat siswa frustrasi dan menarik nilai rerata TKA mereka turun ke angka 40,35.

Kelemahan adaptasi tersebut kian diperparah oleh pengabaian terhadap prinsip psikologi Gestalt dalam desain kurikulum dan pembelajaran. Gestalt menekankan bahwa proses belajar yang efektif terjadi ketika siswa mampu menangkap keutuhan struktur dan jalinan hubungan antar-konsep (insight). Matematika bukanlah serpihan rumus yang terisolasi di tiap bab, melainkan sebuah bahasa semesta yang penuh dengan jalinan pola yang berkelindan.

Namun, demi mengejar target administrasi ketuntasan materi, pengajaran matematika di tingkat SD dan SMP disajikan secara terfragmentasi. Siswa melihat aljabar, geometri, dan statistika sebagai kotak-kotak terpisah yang tidak saling menyapa. Pembelajaran kejar tayang membuat siswa kehilangan kemampuan membaca pola makro. Padahal, esensi belajar matematika menurut Gestalt adalah mengalami momen insight atau emosi ketika berhasil menangkap pemahaman menyeluruh. Sensasi kepuasan intelektual inilah yang sebetulnya bisa mengikis math anxiety. Sayangnya, kilatan insight mustahil muncul di ruang kelas yang atmosfernya dipenuhi ketegangan menghafal demi mengejar standar ujian akademik.

Data anjloknya rerata TKA 2026, dengan matematika sebagai titik terlemahnya, adalah tamparan nyata bahwa hulu pendidikan kita sedang mengalami krisis penalaran. Kita tidak bisa menuntut generasi masa depan memiliki daya nalar kritis tingkat tinggi jika di tingkat dasar kita masih merawat tradisi hafalan yang kaku. Menyelaraskan kembali ruang kelas dengan kodrat perkembangan anak membutuhkan keberanian para pendidik untuk menurunkan kecepatan mengajar demi menaikkan kedalaman pemahaman konseptual.

Pada akhirnya, matematika bukan tentang seberapa cepat anak menemukan jawaban akhir di lembar ujian, melainkan tentang bagaimana manusia mengasah logika berpikir yang sistematis. Sudah saatnya kita membongkar tradisi menyembah berhala rumus di tingkat SD dan SMP. Jika kita terus membiarkan pengajaran matematika kehilangan jiwanya hingga berimbas pada runtuhnya nilai TKA nasional, maka sekolah hanya akan berakhir sebagai tempat yang menyisakan trauma kognitif bagi anak-anak kita. (Nathifa Z Nasution)

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *