RADAR TASIKMALAYA – Pernah menerima pesan atau telepon yang mengaku dari bank, lalu diminta mengklik sebuah tautan? Atau tiba-tiba ada telepon yang mengatasnamakan kurir dan meminta kode OTP? Atau lagi scroll media sosial, tiba-tiba ada pesan: “Selamat! Kamu menang iPhone gratis. Klik link ini sekarang!”
Kalau pernah, berarti Anda sudah bersentuhan langsung dengan ancaman keamanan informasi. Kalau asal jawab, bisa jadi kamu telah kehilangan data pribadi kamu. Kalau asal klik, bisa jadi kamu malah diarahkan ke situs palsu yang mencuri username dan password.
Masalahnya, masih banyak orang yang menganggap keamanan informasi hanya urusan programmer, perusahaan besar, atau instansi pemerintah. Padahal, kenyataannya siapa pun bisa jadi korban. Bahkan, akun media sosial, WhatsApp, mobile banking, atau e-wallet kita bisa jadi target kalau nggak dijaga dengan baik
Emang sepenting itu, ya? Jawabannya: banget!
Bayangin aja kalau akun email kamu dibajak. Hacker bisa reset password akun lain yang terhubung ke email tersebut. Akibatnya, akun media sosial, e-commerce, bahkan rekening digital bisa ikut diambil alih. Yang lebih serem lagi, data pribadi seperti NIK, alamat rumah, nomor telepon, atau foto KTP bisa disalahgunakan buat penipuan atau pinjaman online ilegal. Intinya, data pribadi sekarang sama berharganya dengan uang. Kalau sampai bocor, dampaknya bisa panjang.
Di era digital, data pribadi bukan sekadar identitas. Nomor telepon, alamat email, Nomor Induk Kependudukan (NIK), foto KTP, hingga riwayat transaksi keuangan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ketika data tersebut jatuh ke tangan yang salah, dampaknya bisa berupa pembobolan rekening, pencurian identitas, penipuan daring, hingga penyalahgunaan data untuk pinjaman online ilegal.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengingatkan bahwa ancaman siber di Indonesia terus mengalami peningkatan. Dalam berbagai laporan pemantauan keamanan siber nasional, BSSN menunjukkan bahwa aktivitas anomali siber masih berada pada level yang tinggi dan didominasi oleh malware, phishing, ransomware, hingga upaya pencurian kredensial pengguna.
Situasi tersebut semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang mengacu pada pemantauan BSSN, selama Januari–Juli 2025 terdeteksi sekitar 3,64 miliar anomali trafik siber di Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa ruang digital Indonesia terus menjadi sasaran berbagai aktivitas berbahaya, mulai dari penyebaran malware hingga percobaan pencurian data.
Ironisnya, pelaku kejahatan siber sering kali tidak menggunakan teknologi yang rumit. Mereka justru memanfaatkan kelengahan manusia. Sebuah pesan WhatsApp berisi tautan palsu, email yang menyerupai institusi resmi, atau telepon yang mengaku dari layanan pelanggan sering kali sudah cukup untuk memperdaya korban.
Fenomena ini dikenal sebagai social engineering, yaitu teknik manipulasi psikologis agar seseorang secara sukarela memberikan informasi penting, seperti password, PIN, maupun kode OTP. Dalam banyak kasus, korban sebenarnya tidak “diretas”, melainkan tertipu untuk menyerahkan aksesnya sendiri.
Kebiasaan masyarakat juga masih memperbesar risiko tersebut. Penggunaan password yang sama untuk berbagai akun, mengunggah dokumen pribadi ke media sosial, hingga memanfaatkan Wi-Fi publik tanpa perlindungan menjadi celah yang mudah dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Secara umum, faktor penyebab terbesar terjadinya kejahatan siber bukanlah kelemahan teknologi, melainkan faktor manusia (human factor). Temuan ini konsisten dalam berbagai laporan keamanan siber global maupun nasional.
Menurut Verizon Data Breach Investigations Report (DBIR) 2024, sekitar 68 persen insiden kebocoran data melibatkan unsur manusia, seperti:
- Mengklik tautan phishing.
- Menggunakan password yang lemah atau sama di banyak akun.
- Memberikan kode OTP kepada pelaku.
- Salah mengirim atau membagikan data sensitif.
- Menjadi korban rekayasa sosial (social engineering).
Verizon 2024 Data Breach Investigations Report (DBIR) menganalisis lebih dari 30.000 insiden keamanan dan 10.626 kasus kebocoran data di 94 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa 68% kebocoran data melibatkan faktor manusia, misalnya salah klik tautan phishing atau keliru membagikan informasi penting. Selain itu, 31% kebocoran dalam 10 tahun terakhir melibatkan penggunaan kredensial (username dan password) yang dicuri.
Laporan yang sama juga menemukan bahwa phishing masih menjadi salah satu metode favorit pelaku kejahatan siber, karena banyak pengguna yang masih mudah tertipu email, SMS, atau pesan palsu yang tampak meyakinkan
Artinya, sebagian besar serangan berhasil bukan karena sistem yang canggih dibobol, tetapi karena pengguna tanpa sadar memberikan akses kepada pelaku.
Menurut BSSN, social engineering (rekayasa sosial) menjadi salah satu modus yang paling banyak digunakan pelaku kejahatan siber. Pelaku memanfaatkan psikologi korban, misalnya dengan:
- mengaku sebagai petugas bank,
- mengatasnamakan marketplace,
- berpura-pura menjadi kurir,
- menawarkan hadiah,
- mengirim tautan palsu.
Targetnya adalah memperoleh:
- password,
- PIN,
- kode OTP,
- data identitas,
- informasi rekening.
Selain itu kejahatan siber masih terjadi karena rendahnya literasi keamanan siber. Masih banyak masyarakat yang:
- menggunakan password sederhana;
- menggunakan password yang sama di berbagai akun;
- tidak mengaktifkan autentikasi dua faktor (MFA/2FA);
- menginstal aplikasi dari sumber tidak resmi;
- menggunakan Wi-Fi publik tanpa perlindungan;
- membagikan data pribadi di media sosial.
Digitalisasi berkembang sangat pesat. Namun, kemampuan masyarakat dalam memahami risiko keamanan informasi belum meningkat secepat perkembangan teknologi tersebut. Kondisi ini membuat peluang keberhasilan serangan semakin besar Akibatnya, pelaku kejahatan selalu menemukan korban baru.
Padahal, menjaga keamanan informasi tidak selalu membutuhkan kemampuan teknis yang tinggi. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap orang.
Pertama, gunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk setiap akun penting. Password ideal terdiri atas kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol dengan panjang minimal 12 karakter. Kedua, aktifkan Multi-Factor Authentication (MFA) atau autentikasi dua faktor. Fitur ini memberikan lapisan keamanan tambahan sehingga akun tetap terlindungi meskipun password berhasil diketahui orang lain. Ketiga, jangan pernah memberikan kode OTP kepada siapa pun. Perlu diingat, bank, marketplace, maupun instansi pemerintah tidak akan pernah meminta kode OTP melalui telepon atau pesan singkat. Keempat, biasakan memperbarui sistem operasi dan aplikasi secara berkala. Pembaruan bukan hanya menghadirkan fitur baru, tetapi juga menutup celah keamanan yang dapat dimanfaatkan penjahat siber. Kelima, selalu periksa alamat situs web sebelum memasukkan data pribadi. Pastikan alamat menggunakan protokol https dan berasal dari domain resmi lembaga yang bersangkutan.
BSSN juga menekankan pentingnya membangun budaya sadar keamanan siber (cyber security awareness). Perlindungan ruang digital tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga perilaku pengguna yang bijak dan waspada dalam menggunakan internet.
Pada akhirnya, keamanan informasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Di tengah semakin masifnya digitalisasi layanan publik, transaksi keuangan, hingga aktivitas sosial, menjaga data pribadi sama pentingnya dengan menjaga dompet atau kunci rumah.
Karena di dunia digital, kehilangan data sering kali jauh lebih mahal daripada kehilangan benda. Sekali informasi pribadi bocor, dampaknya bisa berlangsung bertahun-tahun. Oleh sebab itu, membangun kebiasaan menjaga keamanan informasi harus dimulai dari hal-hal sederhana, dimulai dari diri sendiri, dan dimulai hari ini. (Yudi Wahyudi)
Penulis adalah Kepala Bidang Keamanan Informasi, Persandian dan Statistik Diskominfo Kota Tasikmalaya.











