Ikhtiar Membangun Budaya Literasi di SDN 1 Cibeunteur

Pendidikan21 Dilihat

Ketika pindah tugas ke SDN 1 Cibeunteur, saya menemukan perpustakaan yang telah berubah menjadi ruang kelas. Keterbatasan ruangan membuat pilihan itu dapat dipahami. Murid membutuhkan tempat belajar, sementara sekolah tidak memiliki cukup ruang untuk menampung mereka. Namun, ada sesuatu yang ikut hilang ketika perpustakaan berubah menjadi ruang kelas. Ruang yang semestinya mempertemukan anak dengan buku tidak lagi menjalankan fungsinya. Buku-buku kehilangan ruang dalam keseharian sekolah.

Persoalan itu kemudian kami bicarakan bersama guru. Bukan untuk mempersoalkan keputusan yang telah berlangsung, melainkan mencari kemungkinan agar kebutuhan ruang kelas tetap terpenuhi tanpa membuat perpustakaan benar-benar hilang. Setelah beberapa kali berdiskusi, kami memilih jalan yang sederhana: ruangan itu disekat. Sebagian tetap digunakan sebagai ruang kelas, sebagian lainnya dikembalikan menjadi perpustakaan.

Tidak luas. Belum sempurna. Tetapi setidaknya sebuah ruang kembali tersedia bagi murid untuk bertemu dengan buku. Pekerjaan berikutnya justru lebih menarik: bagaimana membuat perpustakaan yang sudah dikembalikan itu benar-benar hidup? Rak-rak buku mulai disiapkan. Penataannya dibuat agar sampul buku dapat dilihat murid dengan mudah. Buku tidak hanya disimpan berjajar dengan punggung menghadap ke luar. Beberapa buku perlu diperlihatkan wajahnya. Sebab bagi anak, sebuah buku bisa dimulai dari sebuah gambar.

Mereka mungkin datang tanpa tujuan. Kemudian melihat sampul, mengambil buku, membuka halaman pertama, dan membaca beberapa baris. Barangkali belum selesai hari itu. Tetapi buku tersebut sudah berpindah dari rak ke tangan seorang anak. Dan mungkin, dari situlah kebiasaan membaca tumbuh.

Ikhtiar menata kembali perpustakaan itu kemudian mendapat momentum ketika SDN 1 Cibeunteur memperoleh 200 eksemplar buku cerita anak tingkat B1, B2, dan B3 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Buku-buku itu datang pada saat yang tepat. Perpustakaan yang sedang dihidupkan kembali kini memiliki lebih banyak pilihan

Bagi saya, kehadiran buku-buku tersebut bukan sekadar penambahan koleksi. Ia membuka kesempatan untuk menghadirkan kembali sesuatu yang penting dalam membangun budaya membaca di sekolah: membaca untuk kesenangan. Anak tidak selalu harus membaca karena ada tugas. Ada saat ketika mereka membaca karena penasaran. Ingin tahu bagaimana cerita berakhir. Ingin melihat gambar berikutnya. Ingin mengenal tokohnya. Atau mungkin sekadar karena buku itu terlihat menarik.

Tidak setiap buku harus berakhir dengan rangkuman atau lembar soal. Sesekali anak perlu mengalami membaca sebagai sebuah kesenangan. Karena itu, perpustakaan sekolah dasar tidak cukup hanya dipenuhi buku teks. Buku cerita anak, dongeng, cerita rakyat, puisi, komik, buku bergambar, dan berbagai buku nonteks lainnya perlu mendapat ruang. Pilihan yang beragam memberi kesempatan kepada anak untuk menemukan bacaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka.

Anak-anak memang tidak datang dengan selera membaca yang sama. Ada yang menyukai cerita petualangan, ada yang tertarik pada hewan, ada yang senang membaca tentang sains, dan ada yang lebih suka komik atau cerita rakyat. Ketika pilihan tersedia, mereka memiliki kesempatan untuk menemukan buku yang membuat mereka ingin membuka halaman berikutnya.

Gagasan membaca untuk kesenangan juga memiliki pijakan dalam penelitian. Laporan PISA yang diterbitkan OECD menunjukkan adanya hubungan antara kenikmatan membaca dan capaian membaca. Karena itu, membaca untuk kesenangan tidak semestinya dipandang sebagai kegiatan tambahan yang terpisah dari kemampuan membaca.

Namun, membaca untuk kesenangan tidak berarti kemampuan membaca boleh diabaikan. Dalam satu kelas, kemampuan murid tidak selalu sama. Ada yang masih belajar membaca kata dengan lancar. Ada yang sudah lancar tetapi perlu belajar memahami isi bacaan. Ada pula yang sudah memahami teks tetapi belum terbiasa membicarakan atau memberikan tanggapan terhadap apa yang dibacanya.

Bersama guru, kami kemudian mendiskusikan bagaimana kemampuan membaca murid dapat diperkuat. Untuk murid kelas rendah, perhatian kami terutama pada fondasi membaca: perkembangan bahasa dan kosakata, kesadaran terhadap bunyi dan huruf, kemampuan membaca kata, serta kesempatan berhadapan dengan teks secara teratur. Ketika kemampuan membaca berkembang, perhatian semakin diarahkan pada pemahaman, diskusi tentang isi bacaan, kemampuan memberikan tanggapan, dan penggunaan informasi dari teks.

Semua itu tetap kami tempatkan dalam suasana yang menyenangkan. Sebab kemampuan membaca dan kesenangan membaca tidak perlu dipertentangkan. Anak dapat belajar membaca dengan sungguh-sungguh sekaligus menemukan bahwa buku adalah sesuatu yang menyenangkan.

Arah tersebut sejalan dengan Capaian Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulum yang berlaku. Pada Fase A, murid mulai membangun kemampuan berbahasa dan memperkaya kosakata melalui kegiatan berbahasa dan bersastra. Pada Fase B, kemampuan itu berkembang pada minat terhadap teks, pemahaman gagasan dari teks informatif, diskusi, serta kelancaran membaca. Pada Fase C, murid diharapkan mampu memahami, mengolah, dan menginterpretasi informasi, menanggapi bacaan, berdiskusi, menulis berdasarkan pengalaman dan pengamatan, serta memiliki kebiasaan membaca untuk hiburan, menambah pengetahuan, dan keterampilan.

Bagi kami, semua pijakan itu bukan untuk menambah istilah baru dalam rapat guru. Yang lebih penting adalah mencari bagaimana gagasan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam kegiatan belajar yang dekat dengan murid. Kemampuan membaca tidak hanya perlu dibangun melalui pelajaran Bahasa Indonesia. Literasi justru perlu hadir sebagai pengikat pengalaman belajar murid di berbagai mata pelajaran.

Dalam IPAS, misalnya, sebuah teks tentang lingkungan dapat menjadi pintu masuk. Murid membaca, menemukan informasi, mengamati lingkungan sekolah, lalu kembali membawa temuannya ke kelas. Dalam Matematika, membaca membantu murid memahami informasi dalam soal sebelum menentukan penyelesaian. Dalam Pendidikan Pancasila, cerita atau kasus dapat menjadi bahan untuk membaca, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat. Dengan demikian, membaca tidak berdiri sendiri sebagai keterampilan bahasa. Ia menjadi bagian dari cara murid memahami berbagai pengetahuan.

Pengalaman literasi juga tidak harus berhenti di dalam kelas. Kegiatan kokurikuler dapat memberi ruang kepada murid untuk membaca dan mencari informasi sebagai bagian dari kegiatan bersama, melakukan pengamatan, mendokumentasikan temuan, kemudian menyajikannya. Kegiatan ekstrakurikuler pun dapat menjadi ruang untuk memperluas pengalaman membaca, menulis, berbicara, membuat karya, atau mengelola media publikasi sekolah.

Dengan cara seperti itu, perpustakaan, pembelajaran di kelas, lingkungan sekolah, kegiatan kokurikuler, dan ekstrakurikuler tidak berjalan sendiri-sendiri. Semuanya dapat menjadi bagian dari ekosistem literasi sekolah. Pelan-pelan, lingkungan sekolah pun dapat ikut berbicara. Kutipan dapat ditempel di dinding. Puisi dapat muncul di koridor. Kosakata baru dapat diperkenalkan. Rekomendasi buku dapat diletakkan di sekitar perpustakaan. Anak tidak hanya melihat tulisan di buku pelajaran, tetapi juga menemukan teks di ruang yang mereka lewati setiap hari.

Tetapi membaca juga perlu memiliki tujuan yang lebih jauh: memberi kesempatan kepada murid untuk menghasilkan sesuatu dari apa yang mereka baca. Karena itu, mading sekolah mulai disiapkan. Mading tersebut nantinya tidak hanya menjadi tempat menempelkan pengumuman. Ia diharapkan menjadi ruang bagi murid untuk menunjukkan karya. Puisi, cerita, gambar, komik, hasil pengamatan, tanggapan terhadap buku, dan berbagai bentuk karya lainnya dapat ditempatkan di sana.

Dengan begitu, perjalanan membaca tidak berhenti pada halaman terakhir sebuah buku. Murid membaca cerita, kemudian mencoba menulis cerita. Membaca puisi, kemudian mencoba membuat puisi. Membaca tentang lingkungan, kemudian mengamati lingkungan di sekitarnya dan menuliskan apa yang ditemukan.

Di situlah perpustakaan dan mading memiliki hubungan yang menarik. Yang satu menyediakan ruang untuk menemukan bacaan. Yang lain menyediakan ruang untuk memperlihatkan apa yang lahir dari pengalaman membaca dan belajar. Membangun semua itu tentu tidak cukup dengan satu program. Budaya tidak tumbuh dari satu kegiatan. Ia lahir dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang.

Sebagai kepala sekolah, saya sedang memulai melakukan ikhtiar menciptakan kondisi agar kebiasaan itu punya tempat untuk tumbuh: memastikan perpustakaan tetap ada, mengajak guru berdiskusi tentang pembelajaran membaca, memperkaya bacaan, membuka ruang bagi karya murid, dan memberi kesempatan kepada anak untuk mengalami membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Hari ini seorang anak mengambil sebuah buku. Besok ia mungkin belum selesai membacanya. Minggu depan ia mengambil buku lain. Beberapa waktu kemudian ia bercerita kepada temannya tentang buku yang dibacanya. Suatu hari ia menulis sesuatu dan menempelkannya di mading. Tidak ada yang spektakuler dalam satu kejadian itu. Tetapi jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan kecil dapat menjadi budaya.

Mungkin itulah sebabnya membangun budaya literasi lebih tepat disebut sebagai sebuah ikhtiar. Ia tidak harus dimulai dari perpustakaan yang luas, koleksi yang sempurna, atau program yang besar.

Kadang-kadang ia dimulai dari sebuah ruangan yang disekat agar perpustakaan kembali hadir. Dari rak yang membuat sampul buku terlihat. Dari 200 buku cerita yang menunggu pembacanya. Dari seorang anak yang datang ke perpustakaan bukan karena diperintah, tetapi karena ingin melihat buku apa yang ada di sana. Dari sebuah kutipan di dinding. Dari sebuah puisi yang ditempel di mading. Atau dari sebuah karya sederhana seorang murid yang untuk pertama kalinya merasa bahwa apa yang ia tulis layak dibaca orang lain.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bukan berapa banyak buku yang dimiliki sekolah atau berapa banyak kegiatan membaca yang telah dilakukan. Pertanyaan yang lebih sederhana adalah: adakah anak yang datang ke perpustakaan karena ingin membaca?

Sebab kita tidak hanya ingin anak bisa membaca. Kita ingin mereka ingin membaca. Namun, pekerjaan ini belum selesai. Bahkan, baru dimulai. Seperti larik Chairil Anwar dalam Krawang-Bekasi: “Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa.”***

Penulis: Dr. Opik, M.Pd.
Kepala SDN 1 Cibeunteur, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *