RADAR TASIKMALAYA – Fenomena Drama China dalam beberapa tahun terakhir semakin menguat di ruang domestik Indonesia. Melalui platform streaming digital, kisah romansa, keluarga, intrik kekuasaan, dan perjuangan hidup disajikan dalam puluhan bahkan ratusan episode yang saling terhubung.
Bagi banyak ibu-ibu, Drama China bukan sekadar tontonan selingan, melainkan bagian dari rutinitas harian. Tidak sedikit yang mengaku “hanya satu episode” tetapi berakhir menonton hingga larut malam. Di balik popularitas tersebut, muncul pertanyaan yang jarang dibicarakan secara serius. Sejauh mana demam Drama China memengaruhi produktivitas ibu-ibu?
Bagi sebagian besar ibu, menonton drama merupakan ruang jeda yang terasa sah. Setelah seharian menjalani peran ganda mengurus rumah tangga, mendampingi anak, mengelola emosi keluarga, bahkan bekerja atau menjalankan usaha. Hiburan menjadi kebutuhan psikologis.
Penelitian di bidang psikologi media menunjukkan bahwa tayangan naratif dapat membantu individu melakukan regulasi emosi dan pemulihan stres (Reinecke & Hofmann, 2016). Dalam batas tertentu, Drama China menyediakan pelarian sementara dari tekanan hidup yang berulang dan menuntut.
Namun, persoalan mulai muncul ketika jeda berubah menjadi kebiasaan tanpa kendali. Karakteristik Drama China yang panjang, emosional, dan penuh konflik menggantung mendorong pola binge-watching. Setiap episode seolah dirancang untuk tidak benar-benar selesai. Penonton didorong untuk terus melanjutkan, dengan janji resolusi yang selalu tertunda.
Penelitian yang dilakukan oleh Exelmans dan Van den Bulck (2017) menunjukkan bahwa kebiasaan menonton berlebihan berkorelasi dengan gangguan tidur, kelelahan kronis, dan penurunan fungsi kognitif di siang hari. Bagi ibu-ibu, dampaknya sangat konkret seperti bangun pagi dengan tubuh lelah, pekerjaan rumah tertunda, emosi lebih mudah tersulut, dan kesabaran terhadap anak menipis.
Produktivitas ibu-ibu sejatinya tidak bisa dipersempit hanya pada seberapa cepat pekerjaan diselesaikan. Produktivitas juga menyangkut kualitas pengambilan keputusan, kejernihan berpikir, ketahanan emosi, dan kemampuan hadir secara penuh dalam pengasuhan. Ketika waktu malam habis di depan layar, yang terkikis bukan hanya jam tidur tetapi juga kapasitas mental untuk menjalani hari berikutnya.
Penelitian mengenai distraksi digital menunjukkan bahwa paparan hiburan yang tidak terkelola melemahkan kemampuan fokus dan pengaturan waktu (Rosen et al., 2013). Dalam jangka panjang, ibu-ibu berisiko terjebak dalam siklus kelelahan yang berulang.
Lebih jauh, kondisi ini sering memunculkan beban psikologis tambahan berupa rasa bersalah. Banyak ibu menyadari bahwa waktu mereka terkuras untuk menonton, tetapi kesadaran itu tidak selalu diikuti kemampuan untuk berhenti.
Rasa bersalah ini justru memperparah kelelahan mental dan menurunkan motivasi. Produktivitas pun tidak hanya menurun secara fisik, tetapi juga secara emosional. Ibu merasa tidak pernah cukup selalu merasa kurang istirahat, kurang sabar, dan merasa gagal memenuhi standar ideal yang dibebankan pada dirinya sendiri.
Meski demikian, menyalahkan Drama China secara sepihak merupakan penyederhanaan masalah. Media hiburan bukan penyebab utama, melainkan pemicu yang berinteraksi dengan kondisi sosial dan psikologis penontonnya. Alter (2017) menegaskan bahwa platform digital modern dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
Algoritma bekerja tanpa lelah, mempelajari kebiasaan menonton, lalu menyodorkan rekomendasi yang semakin sulit ditolak. Dalam konteks ini, ibu-ibu bukan individu lemah, melainkan pengguna yang berhadapan dengan sistem yang memang dirancang untuk menciptakan keterikatan jangka panjang.
Persoalan menjadi semakin kompleks karena ruang jeda sehat bagi ibu-ibu sering kali sangat terbatas. Waktu pribadi kerap dianggap kemewahan, bukan kebutuhan. Ketika satu-satunya ruang “untuk diri sendiri” hadir lewat layar ponsel atau televisi, hiburan digital mudah berubah menjadi pelarian utama.
Padahal, penelitian menunjukkan bahwa pemulihan emosi yang efektif membutuhkan keseimbangan antara hiburan, istirahat fisik, dan interaksi sosial yang bermakna (Reinecke & Hofmann, 2016). Hiburan yang berlebihan justru menggerus fungsi pemulihan itu sendiri.
Di sinilah pentingnya literasi media dan kesadaran kolektif. Ibu-ibu perlu diposisikan bukan sebagai konsumen pasif, melainkan sebagai individu reflektif yang memiliki kendali atas waktu dan energinya. Pengaturan jadwal menonton, pembatasan jumlah episode, serta kesadaran akan prioritas harian merupakan langkah sederhana namun strategis.
Pendekatan ini sejalan dengan temuan Baumeister dan Vohs (2007) mengenai peran pengendalian diri dalam menjaga keseimbangan antara kesenangan dan tanggung jawab.
Namun, tanggung jawab tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada individu. Keluarga dan lingkungan sosial juga perlu terlibat. Pembagian peran yang lebih adil, pengakuan terhadap kebutuhan istirahat ibu, serta penciptaan ruang jeda non-digital menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas. Tanpa dukungan struktural, imbauan untuk “mengatur diri” sering kali terdengar normatif dan sulit diwujudkan.
Pada akhirnya, Drama China dapat menjadi sahabat sekaligus tantangan bagi produktivitas ibu-ibu. Dalam batas wajar, Drama China membantu menjaga kesehatan mental dan menyediakan ruang relaksasi.
Dalam konsumsi berlebihan, Drama China berpotensi menggerus waktu, energi, dan kejernihan berpikir. Kuncinya bukan pada menjauh dari hiburan, melainkan pada kemampuan mengelolanya secara sadar dan kritis. Ibu yang sehat secara emosional, cukup istirahat, dan berdaya dalam mengatur media justru memiliki peluang lebih besar untuk tetap produktif. Bukan hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam membangun kualitas kehidupan keluarga dan sosial yang lebih baik. (Welly Nores Kartadireja SPd MPd)
Penulis merupakan Dosen S1 Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Unsil











