“Bom Waktu” Sanitasi di Tengah Krisis Lingkungan

Lingkungan28 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Alam tidak sepenuhnya akan kembali seperti sediakala. Berbagai upaya pelestarian dan rehabilitasi lingkungan yang dilakukan saat ini sering kali tidak sebanding dengan laju deforestasi dan degradasi yang terus berlangsung. Kebutuhan manusia tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan alam untuk menyediakan dan memulihkan dirinya. Dalam situasi inilah relasi antara manusia dan alam berubah dari hubungan yang saling menopang menjadi pertarungan kepentingan, seolah manusia versus alam, sedangkan alam tidak pernah menentang manusia kecuali karena perbuatan dan ulah kita (manusia) itu sendiri sehingga berdampak bencana di mana-mana.

Narasi tentang besarnya potensi sumber daya alam Indonesia kerap digaungkan sebagai kekuatan utama pembangunan. Kekayaan hutan, air, tanah, dan keanekaragaman hayati disebut sebagai modal besar bagi kesejahteraan bangsa. Namun, di balik itu, pemanfaatan sumber daya alam sering dilakukan secara eksploitatif dan melampaui daya dukung lingkungan. Alam diperlakukan sebagai objek produksi semata, bukan sebagai sistem kehidupan yang memiliki batas. 

Dampak dari pemanfaatan alam yang berlebihan tidak berhenti pada kerusakan ekosistem, tetapi berbalik menghantam manusia melalui berbagai krisis kesehatan lingkungan. Salah satu dampak yang paling nyata adalah memburuknya kondisi sanitasi. Deforestasi dan alih fungsi lahan mengganggu sistem hidrologi alami, meningkatkan limpasan permukaan, serta mempercepat terjadinya banjir. Dalam kondisi tersebut, sistem sanitasi yang rapuh, septic tank tidak kedap, saluran limbah terbuka, dan pengelolaan limbah domestik yang buruk, menjadi sumber pencemaran serius.

Ketika banjir melanda, limbah domestik dan tinja menyebar ke lingkungan permukiman, mencemari air tanah dan sumber air bersih. Sungai yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan berubah menjadi saluran limbah. Praktik sanitasi yang tidak layak memperparah pencemaran air, meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan seperti diare, leptospirosis, dan infeksi kulit. Ironisnya, kelompok masyarakat yang paling terdampak adalah mereka yang sejak awal memiliki akses sanitasi terbatas.

Sanitasi, dalam konteks ini, tidak lagi sekadar persoalan teknis pembangunan jamban atau jaringan pembuangan limbah. Ia menjadi cerminan relasi manusia dengan alam. Ketika alam terus ditekan untuk memenuhi kebutuhan manusia, daya tampung lingkungan terhadap limbah juga menurun. Air yang tercemar, tanah yang rusak, dan ekosistem yang terganggu membuat sistem sanitasi kehilangan ”penyangga alaminya”. Akibatnya, limbah yang seharusnya dapat terurai secara alami justru menjadi sumber penyakit dan bencana kesehatan.

Lebih jauh, krisis sanitasi juga berkontribusi terhadap masalah kesehatan kronis seperti stunting. Lingkungan yang tidak sehat membuat anak-anak rentan terhadap infeksi berulang, sehingga penyerapan gizi terganggu. Dengan demikian, eksploitasi alam dan buruknya sanitasi membentuk lingkaran masalah yang saling memperkuat. Kerusakan lingkungan memperburuk sanitasi, dan sanitasi buruk memperparah krisis kesehatan masyarakat.

Pada akhirnya, manusia tidak pernah benar-benar menang dalam pertarungan melawan alam. Setiap eksploitasi berlebihan akan selalu dibayar dengan risiko ekologis dan kesehatan yang lebih besar. Menjaga dan memperbaiki sanitasi lingkungan harus dipahami sebagai bagian dari upaya menata ulang hubungan manusia dengan alam—lebih seimbang, berkeadilan, dan berkelanjutan. Tanpa perubahan cara pandang ini, sanitasi akan terus menjadi ”bom waktu” kesehatan lingkungan yang suatu saat meledak, dan manusialah yang menanggung akibatnya. (Setyo Ari Wibowo, S.Si., M.Ling)

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *