Belajar Kepemimpinan Pendidikan Islam dari Drs KH A Bunyamin Ruhiat

Pendidikan31 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Di era ketika dunia pendidikan menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks, kebutuhan akan sosok pemimpin yang mampu menjadi teladan sekaligus penggerak perubahan menjadi semakin penting. Kemajuan teknologi, derasnya arus informasi, serta perubahan pola pikir generasi muda telah membawa dampak yang besar terhadap proses pendidikan.

Fenomena tersebut menyadarkan kita bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya bertugas mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian manusia. Pendidikan yang berhasil bukan sekadar melahirkan individu yang unggul secara akademik, melainkan juga mampu menghasilkan generasi yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Dalam konteks inilah kepemimpinan pendidikan memegang peranan yang sangat strategis.

Dalam tradisi pesantren, peran tersebut bahkan memiliki makna yang lebih luas. Seorang kiai bukan hanya pemimpin organisasi pendidikan, melainkan juga guru, pembimbing spiritual, dan figur teladan yang menjadi rujukan bagi santri maupun masyarakat.

Salah satu figur yang menarik untuk dipelajari dalam konteks kepemimpinan pendidikan Islam adalah Drs. KH. A. Bunyamin Ruhiat, M.Si. Sebagai salah seorang tokoh yang mengemban amanah kepemimpinan di Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya, beliau dikenal memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, serta komitmen yang kuat dalam mengembangkan pendidikan Islam.

Yang menarik dari kepemimpinan KH. A. Bunyamin Ruhiat bukan hanya kemampuannya dalam mengelola lembaga pendidikan, tetapi juga kemampuannya menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan.

Dari sudut pandang pendidikan, kepemimpinan KH. A. Bunyamin Ruhiat memberikan pelajaran yang sangat berharga. Kepemimpinan beliau juga memperlihatkan pentingnya keteladanan sebagai inti dari pendidikan Islam. Dalam banyak teori pendidikan modern, guru dan pemimpin dipandang sebagai fasilitator pembelajaran. Namun dalam tradisi Islam, keteladanan memiliki posisi yang sangat penting karena peserta didik belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Mempelajari kepemimpinan pendidikan Islam dari sosok KH. A. Bunyamin Ruhiat pada akhirnya bukan hanya tentang memahami perjalanan seorang tokoh, melainkan juga tentang menemukan pelajaran yang relevan bagi dunia pendidikan saat ini. Karena itu, sosok Drs. KH. A. Bunyamin Ruhiat, M.Si layak dijadikan sumber pembelajaran mengenai bagaimana kepemimpinan pendidikan Islam dapat diwujudkan secara nyata. Melalui visi, keteladanan, dan komitmennya terhadap pendidikan, beliau menunjukkan bahwa pemimpin bukan hanya orang yang berada di depan untuk memberi arahan, tetapi juga orang yang mampu menjadi contoh, menginspirasi perubahan, dan menjaga nilai-nilai luhur agar tetap hidup di tengah masyarakat yang terus berkembang.

Keteladanan menjadi salah satu karakter utama yang melekat pada kepemimpinan Drs. KH. A. Bunyamin Ruhiat, M.Si. Bagi beliau, pendidikan tidak cukup diwujudkan melalui penyampaian materi atau pemberian nasihat semata, tetapi harus diawali dengan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pemimpin pendidikan dituntut menjadi figur yang mampu memperlihatkan kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Oleh karena itu, setiap sikap yang ditunjukkan kepada santri dipandang sebagai bagian dari proses pendidikan yang akan membentuk karakter mereka.

Dalam kesehariannya, beliau dikenal sebagai sosok yang disiplin, sederhana, dan penuh kepedulian terhadap santri. Kedisiplinan tersebut tampak dari kebiasaannya hadir tepat waktu dalam kegiatan pengajian, memantau kehadiran santri, serta memastikan seluruh aktivitas pendidikan berjalan sebagaimana mestinya. Di sisi lain, kesederhanaan beliau tercermin melalui kebiasaan berinteraksi tanpa sekat dengan santri, pengurus, maupun masyarakat. Sikap tersebut menjadikan beliau bukan hanya dihormati sebagai seorang kiai, tetapi juga dicintai sebagai pendidik yang dekat dengan seluruh warga pesantren.

Salah satu kekuatan kepemimpinan KH. A. Bunyamin Ruhiat terletak pada kemampuannya membangun budaya pendidikan yang konsisten. Pengajian, dzikir, istighatsah, riyadhah, dan berbagai aktivitas keagamaan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi menjadi media pembinaan karakter. Melalui pembiasaan tersebut, santri belajar memahami bahwa keberhasilan menuntut ilmu harus diiringi dengan kedekatan kepada Allah Swt., akhlak yang baik, serta tanggung jawab terhadap sesama.

DARI PESANTREN UNTUK UMAT

Di samping kiprahnya sebagai pimpinan Pondok Pesantren Cipasung, KH. A. Bunyamin Ruhiat juga mengabdikan diri dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Keaktifannya di lingkungan NU menunjukkan bahwa pengabdiannya tidak terbatas pada pengembangan pesantren, tetapi juga mencakup pembinaan umat melalui organisasi keagamaan.

Pada masa khidmah 2017–2022, beliau dipercaya sebagai Rais SyuriyahPCNU Kabupaten Tasikmalaya. Amanah tersebut kembali diberikan pada periode berikutnya melalui Konferensi Cabang tahun 2022 yang memilih beliau secara aklamasi sebagai Rais Syuriyah. Pada waktu yang hampir bersamaan, beliau juga terpilih sebagai Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hasil Muktamar ke-34 di Lampung. Kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan beliau tidak hanya memberikan pengaruh di lingkungan lokal, tetapi juga diakui pada tingkat nasional.

Nilai kepemimpinan seperti inilah yang menjadi pelajaran penting bagi dunia pendidikan saat ini. Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, lembaga pendidikan memerlukan pemimpin yang tidak hanya memiliki kemampuan manajerial, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam bersikap, mengambil keputusan, dan membangun budaya organisasi yang sehat.

MEWARISI  KEPEMIMPINAN DRS. KH A. BUNYAMIN RUHIAT, M.SI

Kepemimpinan Drs. KH. A. Bunyamin Ruhiat, M.Si. tidak berhenti pada masa ketika beliau mengemban amanah sebagai pimpinan pesantren maupun dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Kepemimpinan beliau memberikan gambaran bahwa ketegasan dan kasih sayang bukanlah dua sikap yang harus dipertentangkan. Seorang pemimpin dapat bersikap tegas dalam menjaga aturan, tetapi tetap memberikan perhatian kepada orang yang dibimbingnya. Ketegasan diperlukan agar nilai kedisiplinan dan tanggung jawab tidak kehilangan makna, sedangkan kasih sayang diperlukan agar proses pembinaan tidak berubah menjadi tekanan. Keseimbangan tersebut menjadi salah satu karakter penting dalam kepemimpinan pendidikan Islam, sebab tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan kepatuhan, tetapi menumbuhkan kesadaran.

Dalam konteks pendidikan Islam masa kini, prinsip tersebut menjadi semakin relevan. Perubahan karakter peserta didik, perkembangan teknologi, serta derasnya arus informasi membuat pendidik menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Santri dan peserta didik memiliki akses yang luas terhadap berbagai sumber informasi, termasuk informasi yang tidak selalu sejalan dengan nilai pendidikan Islam. Di sinilah keteladanan memperoleh kembali kedudukannya.

Hal lain yang penting diwariskan adalah cara memandang jabatan sebagai amanah. Kiprah beliau dalam Nahdlatul Ulama memperlihatkan bahwa kedudukan dalam organisasi bukanlah tujuan akhir dari kepemimpinan. Ketika terdapat ketentuan organisasi yang harus dipatuhi, beliau memilih untuk mendahulukan aturan dan kepentingan organisasi. Sikap tersebut memberikan pelajaran bahwa integritas seorang pemimpin justru terlihat ketika ia mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Dalam pendidikan Islam, prinsip ini sangat penting karena lembaga pendidikan membutuhkan pemimpin yang dapat dipercaya, bukan hanya pemimpin yang memiliki kewenangan.

Pada akhirnya, mempelajari kepemimpinan KH. A. Bunyamin Ruhiat berarti mempelajari bagaimana nilai-nilai Islam dapat dihidupkan melalui tindakan nyata. Keimanan, kedisiplinan, tanggung jawab, kesederhanaan, kepedulian, dan penghormatan terhadap ilmu tidak berhenti sebagai konsep, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bagian dari budaya pendidikan yang dapat diwariskan kepada santri dan masyarakat. Inilah yang membuat kepemimpinan beliau tetap memiliki relevansi untuk dibicarakan, meskipun seorang pemimpin telah menyelesaikan masa pengabdiannya.

Bagi generasi pendidik saat ini, pengalaman tersebut memberikan pesan bahwa pendidikan Islam membutuhkan pemimpin yang mampu menggabungkan ketegasan dengan kasih sayang, visi dengan keteladanan, serta kewenangan dengan tanggung jawab. Kemajuan lembaga pendidikan memang membutuhkan manajemen yang baik, tetapi manajemen tanpa keteladanan akan kehilangan kekuatan moralnya. Sebaliknya, keteladanan yang disertai visi dan komitmen dapat menjadi energi yang menggerakkan lembaga untuk terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

Dengan demikian, warisan terbesar dari kepemimpinan KH. A. Bunyamin Ruhiat bukan semata-mata tentang jabatan yang pernah beliau emban atau program yang pernah beliau jalankan, melainkan nilai-nilai yang hidup melalui perilaku dan pengabdiannya. Nilai tersebut menjadi bagian dari pembelajaran penting bagi dunia pendidikan Islam bahwa seorang pemimpin pada hakikatnya bukan hanya orang yang berada di depan untuk memberikan arahan, tetapi juga orang yang bersedia berjalan bersama, memberikan contoh, dan memastikan nilai-nilai kebaikan tetap hidup di tengah perubahan zaman. (Dari berbagai sumber)

Oleh: Irma Rahayu

Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam UNIK Cipasung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *