Banjir Data, Krisis Makna: Sebuah Refleksi Digital di Era Information Overload

Sosial, Teknologi44 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Di era digital seperti sekarang, kita tidak lagi hidup di tengah kelangkaan informasi. Sebaliknya, kita justru dikelilingi oleh banjir data yang datang dari segala arah–scroll, tonton, lewati. Begitulah pola konsumsi informasi hari ini.

Dalam hitungan menit, kita bisa melihat puluhan video, membaca potongan berita, dan menerima notifikasi tanpa henti. Kita membuka satu aplikasi untuk mencari jawaban, tapi tiba-tiba terjebak menonton video lain, membaca komentar, lalu tersesat di thread yang tak berujung. Kondisi ini dikenal sebagai information overload  atau terlalu banyak informasi, terlalu sedikit waktu untuk benar-benar memahaminya.

Fenomena ini bukan sekadar istilah akademik. Information overload adalah kondisi ketika jumlah informasi yang diterima seseorang melebihi kapasitas otaknya untuk memproses secara efektif. Alih-alih membuat seseorang lebih cerdas, informasi berlebihan justru menimbulkan kelelahan mental, kebingungan, dan kesalahan pengambilan keputusan. Singkatnya, terlalu banyak tahu bisa membuat kita kehilangan arah.

Dalam teori literasi informasi, pengetahuan yang ideal adalah yang mampu memperkaya dan memberi arah pada penggunanya. Namun saat ini, generasi yang paling akrab dengan swipe up, scroll, dan tap play, tumbuh di tengah arus ini. Kita belajar cepat, tapi sering kali di permukaan saja. Alhasil, durasi perhatian kita semakin pendek, sementara konten justru semakin berlimpah tiap detiknya.

Sebagai pustakawan, saya sering menjumpai pemustaka yang datang dengan kalimat klasik, “Saya sudah mencari dan  membaca banyak sumber, tapi malah bingung mana yang benar.” Mereka bukan kekurangan akses, tapi kehilangan fokus. Inilah sisi gelap kemudahan digital. kita seolah memiliki segalanya di ujung jari, namun kehilangan kemampuan untuk memilah

Information overload membawa dampak nyata, baik secara psikologis maupun sosial. Penelitian dari University of California menunjukkan, otak manusia hanya mampu memproses sejumlah informasi dalam satu waktu. Ketika kapasitas itu terlampaui, kita mengalami cognitive fatigue atau kelelahan berpikir.

Efeknya? Stress digital, kehilangan kemampuan analisis, rentan terhadap disinformasi dan menurunnya produktivitas.

Bayangkan, setiap hari kita terpapar ribuan informasi, dari hal yang sangat penting hingga hal yang remeh. Semua berebut ruang dalam pikiran. Tak heran bila hari ini banyak orang lelah bukan karena bekerja keras, tapi karena banyak tahu terlalu cepat.

Di tengah situasi ini, muncul tren pekerjaan baru yang digandrungi anak muda: clipper. Mereka memotong video panjang menjadi klip pendek yang padat, menarik, dan mudah viral. Profesi ini tumbuh subur karena selaras dengan cara kita mengonsumsi informasi hari ini: cepat, singkat, dan instan.

Sebagai pustakawan yang hidup di zaman digital, saya melihat clipper sebagai simbol zaman. Mereka bukan sekadar editor video, tetapi penyaring atensi. Dalam lautan informasi, clipper memilih detik-detik yang dianggap paling “layak ditonton”. Ironisnya, yang dipilih sering kali bukan yang paling penting, melainkan yang paling memancing reaksi.

Di satu sisi, clipper membantu kita bertahan dari information overload. Kita tidak perlu menonton satu jam podcast; cukup satu menit klip. Namun di sisi lain, kita kehilangan konteks. Pengetahuan tereduksi menjadi potongan, dan pemahaman digantikan oleh kesan sesaat.

Fenomena ini bukan hanya menjadi trend, tapi seharusnya menjadi sebuah alarm. Jika semua informasi dipotong demi viralitas, siapa yang menjaga kedalaman makna? Di sinilah literasi informasi menjadi krusial. Kita perlu belajar tidak hanya mengonsumsi klip, tetapi juga bertanya: dari mana asalnya, apa konteksnya, dan apa yang dihilangkan?

Bahaya information overload bukan hanya kehilangan fokus, tapi juga kehilangan makna. Ketika segala hal tersedia, kita mudah merasa hampa. Pengetahuan menjadi konsumsi yang cepat, bukan sebagai refleksi yang dalam.

Selama ini, banyak dari kita terjebak dalam Fear of Missing Out (FOMO)—takut tertinggal berita, tren, atau gosip terbaru. Padahal, di tengah information overload, yang lebih menyehatkan justru Joy of Missing Out (JOMO)—kebahagiaan karena memilih untuk tidak tahu semuanya.

Di tengah arus deras informasi, bahaya information overload mengintai siapa saja—dari pelajar, profesional, hingga akademisi. Maka, kemampuan memilah informasi kini menjadi kecerdasan paling penting abad ini. Tanggung jawab terbesar tetap di tangan kita sendiri: untuk berhenti sejenak, menyaring sebelum menyerap, dan memilih untuk tenang di tengah riuhnya dunia digital.

Tantangan kita hari ini bukan menolak teknologi atau tren baru, melainkan membangun kesadaran kritis dalam menggunakannya. Sebab informasi, betapapun singkat dan viralnya, tidak akan pernah cukup jika hanya berhenti pada hiburan.

Di tengah derasnya arus digital, mungkin tugas paling penting bagi kita sebagai generasi yang tumbuh bersama produk digital–adalah belajar kembali memperlambat langkah, menyusun konteks, dan merawat makna, agar pengetahuan tidak habis terpotong sebelum sempat dipahami.

Sebagai pustakawan, fenomena information overload di era digital ini bukan sekadar tantangan, tetapi juga panggilan untuk kembali menegaskan peran literasi. Setiap hari, orang dibanjiri notifikasi, video singkat, dan potongan berita yang cepat viral, sementara kapasitas kita untuk memahami konteks utuh sering tertinggal.

Fenomena clipper, di satu sisi, membantu menyaring informasi yang melimpah. Tetapi di sisi lain, ia memperlihatkan risiko informasi hanya dikonsumsi dalam fragmen tanpa makna yang mendalam.

Tugas pustakawan kini harusnya menjadi pemandu bagi masyarakat untuk menavigasi arus digital—membantu orang menyaring, memahami, dan memberi makna pada setiap informasi yang diterima, agar pengetahuan tidak sekadar tersaji, tetapi benar-benar dipahami. Karena di era yang dipenuhi informasi, kemampuan untuk tidak tahu segalanya bisa jadi bentuk kebijaksanaan tertinggi. (Dewi Fitriyanti SSI)

Penulis merupakan Pustakawan Ahli Pertama, UPA Perpustakaan Universitas Siliwangi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *