RADAR TASIKMALAYA – Ketika kita berpikir tentang kekayaan dan status sosial, mungkin yang terlintas adalah rumah mewah, mobil mahal, atau tas bermerk. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ada pergeseran nilai yang mengejutkan di tengah masyarakat urban Indonesia: sehat bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi telah menjadi simbol keberdayaan, status bahkan eksistensi diri.
Fenomena ini muncul seiring dengan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap gaya hidup sehat secara menyeluruh. Aktivitas seperti padel, Gym, yoga, meditasi, olahraga pagi, detox digital, hingga retret mental dan spiritual kini tidak lagi dianggap eksklusif atau aneh. Ia telah menjadi arus utama, bahkan cerminan gaya hidup ideal.
Unggahan smoothie warna-warni, sesi lari di car free day, check-in di studio yoga, atau testimoni healing trip ke Ubud menjamur di linimasa media sosial. Di balik semua itu ada satu pesan tersirat yang kuat: “Saya sehat, saya punya waktu untuk diri sendiri, dan saya punya kendali atas hidup saya.”
Inilah mengapa banyak orang kini menyebut, “Wellness is the new social currency” mata uang sosial baru. Orang tak lagi sekadar dihormati karena apa yang dimiliki, tetapi karena bagaimana mereka terlihat mampu mengatur hidup, menjaga tubuh, pikiran, dan emosi tetap stabil di tengah dunia yang serba cepat dan melelahkan.
Di era ini, mampu menjalani hidup yang sehat dan seimbang menjadi lambang kecakapan hidup modern simbol bahwa seseorang punya kendali, kedisiplinan, dan privilege waktu. Wellness bukan sekadar pilihan, tapi cara baru menunjukkan kelas sosial. Bahkan, bagi sebagian orang, terlihat sehat dan bahagia menjadi lebih penting daripada benar-benar merasa demikian.
Gaya hidup ini tumbuh subur di kalangan kelas menengah dan menengah atas, kelompok yang memiliki daya beli dan akses informasi digital. Wellness menjadi sinyal baru dalam interaksi sosial. Mereka yang mampu bangun pagi untuk berolahraga, mengikuti kelas mindfulness, atau melakukan puasa media sosial bukan hanya dianggap “sehat” tapi juga disiplin, stabil, dan sukses.
Tak heran jika industri menangkap peluang ini dengan cepat. Wellness bukan hanya gaya hidup, tapi telah menjelma menjadi pasar yang menggiurkan. Produk makanan sehat berbasis tumbuhan, minuman cold-pressed, aplikasi meditasi, layanan psikolog online, hingga retret kesehatan berbayar kini hadir dalam berbagai bentuk dan harga. Nilai pasar produk kesehatan dan kebugaran melonjak pascapandemi. Bahkan perawatan kesehatan mental, yang dahulu dianggap tabu, kini menjadi bagian dari lifestyle kekinian.
Namun, di sinilah letak paradoksnya. Ketika Wellness dijual sebagai produk premium, ia berisiko menjadi simbol eksklusivitas. Tidak semua orang mampu membeli makanan sehat, apalagi mengikuti retret atau terapi yang harganya berjuta-juta. Mereka yang bekerja 10–12 jam sehari, seperti pekerja sektor informal atau buruh pabrik, justru tidak punya cukup waktu, energi, dan sumber daya untuk bisa hidup “sehat” dalam arti kekinian itu.
Di sinilah Wellness bisa menjadi pedang bermata dua. Ia bisa menjadi alat pemberdayaan, tapi juga bisa memperlebar jurang sosial. Mereka yang bisa tampil sehat dan bahagia secara public khususnya di media sosial semakin dikagumi dan dianggap “berhasil”. Sementara mereka yang berjuang dalam diam, terseok di tengah beban hidup, seringkali tak terlihat dalam narasi besar ini.
Media sosial jelas menjadi pendorong utama narasi ini. Platform seperti Instagram dan TikTok membentuk estetika Wellness: visual serba tenang, tubuh ideal, suasana alami, dan aktivitas yang tampak effortless. Wellness menjadi sesuatu yang harus ditampilkan. Padahal, perjalanan menuju sehat baik fisik maupun mental tidak selalu instagramable. Kadang ia menyakitkan, penuh kegagalan, dan tak cocok untuk dikemas dalam satu menit video inspiratif.
Pertanyaannya kemudian: apakah Wellness harus selalu tampil indah untuk dianggap valid? Apakah seseorang yang tidak terlihat sehat berarti gagal? Dan, yang paling penting: apakah Wellness hanya bisa dimiliki oleh mereka yang mampu?
Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk membangun narasi Wellness yang lebih inklusif dan membumi. Jauh sebelum tren ini masuk lewat budaya global, masyarakat kita telah mengenal berbagai praktik hidup sehat dan seimbang: dari jamu, pijat tradisional, meditasi spiritual, hingga gotong royong dalam komunitas. Sayangnya, banyak dari kearifan lokal ini tersingkir oleh gaya hidup Wellness ala Barat yang lebih “menjual” secara visual dan komersial.
Jika kita ingin Wellness menjadi kekuatan sosial yang benar-benar memberdayakan, maka kita harus mengembalikannya ke akar yang lebih kontekstual dan adil. Negara dan komunitas bisa mengambil peran aktif: menyediakan ruang publik hijau yang aman, membangun pusat-pusat aktivitas fisik murah atau gratis, memperkuat layanan kesehatan mental berbasis Puskesmas, serta melakukan edukasi gizi dengan pendekatan budaya lokal.
Wellness tidak boleh berhenti sebagai tren gaya hidup. Ia harus menjadi gerakan sosial. Gerakan yang tidak hanya memanjakan mereka yang mampu, tapi menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Gerakan yang merayakan tubuh dan jiwa dalam segala kondisinya, bukan hanya yang tampak sempurna di layar ponsel.
Sehat adalah hak, bukan privilese. Wellness tidak boleh menjadi kemewahan yang hanya bisa dinikmati mereka yang berpunya. Jika kita mengakui bahwa wellness adalah mata uang sosial baru, maka kita juga punya tanggung jawab kolektif untuk memastikan bahwa setiap orang, dari lapisan manapun, punya kesempatan yang setara untuk memilikinya.
Sebab dunia yang benar-benar sehat bukanlah dunia di mana segelintir orang tampil bugar di media sosial, melainkan dunia di mana semua orang termasuk mereka yang paling sunyi dan paling letih punya akses pada ruang, waktu, dan dukungan untuk memulihkan dirinya. Wellness adalah hak hidup yang bermartabat. Dan hak itu harus diperjuangkan bersama, bukan dibeli. (Dr Edy Suroso SE MSi CSBA CVDP).
Penulis merupakan Dosen S1, S2, S3 Manajemen dan Pengamat transformasi sosial kelas menengah





