SMPT Bugelan Tasikmalaya Berhasil Merawat Literasi Melalui Karya Sastra

Pendidikan40 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Di beberapa lembaga pendidikan proyek literasi kerap berhenti sebagai tugas final di waktu tertentu: dikumpulan, kemudian dinilai, lalu selesai. Namun pengalaman berbeda tumbuh di SMPT Bugelan, Tasikmalaya.

Sebuah buku antologi cerpen berjudul Cakrawala Wiyata Bugelan terbit pada tahun 2024 justru menjadi salah satu awal baik dari perubahan yang lebih panjang, bukan hanya bagi siswa penulisnya, tetapi bagi iklim literasi sekolah.

Buku tersebut lahir dari inisiatif guru Bahasa Indonesia kala itu, Nadia Bella Mulkillah SPd melalui Sanggar Literasi sekolah. Ditulis oleh siswa kelas IX yaitu Aneu, dkk. Antologi cerpen ini menjadi ruang pertama bagi para siswa untuk mengekspresikan pengalaman, imajinasi, dan kegelisahan mereka dalam bentuk karya sastra. Bagi siswa SMP, menerbitkan buku bukan perkara sederhana.
Hal tersebut menuntut keberanian, ketekunan, serta kepercayaan bahwa tulisan mereka layak dibaca publik.

Kegiatan pojok baca dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pun menjadi kontribusi yang sangat besar pada kemajuan yang baik terhadap kemampuan literasi sekolah, dampak ini terlihat nyata dalam data.

Pada rapor pendidikan terbaru, capaian kemampuan literasi siswa SMPT Bugelan menunjukkan warna hijau dengan peningkatan sebesar 11,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Secara komparatif, sekolah ini berada pada peringkat atas 1-20% di tingkat kabupaten/kota Tasikmalaya, bahkan juga pada peringkat atas 1-20% secara nasional. Angka-angka ini tidak muncul tiba-tiba, tapi hasil dari proses panjang yang dimulai dari ruang kelas, pendampingan semua guru, dan keberanian memberi ruang pada karya siswa.

Pengalaman SMPT Bugelan menunjukkan bahwa literasi tidak tumbuh dari slogan saja, tetapi dari praktik konkret. Ketika siswa diberi kesempatan membaca dan menulis dengan tujuan yang nyata, bukan sekadar untuk nilai tetapi mereka belajar melihat bahasa sebagai alat berpikir dan menyampaikan makna.

Menulis cerpen melatih mereka menyusun logika, empati, serta kepekaan terhadap lingkungan sosial. Membaca karya teman sebaya pun menumbuhkan rasa memiliki dan apresiasi. Bahkan setelah para penulis lulus, Vivian salah satunya bisa melanjutkan kegiatan menulis buku di SMA-nya. Ini menunjukan kerja nyata dari ajaibnya tulisan dan karya sastra.

Di tengah kekhawatiran akan rendahnya minat baca generasi muda, model seperti ini menjadi relevan untuk dicermati. Literasi tidak harus selalu dimulai dari buku besar atau program berskala nasional. Ia bisa berangkat dari kegiatan rutin membaca, mulai menulis, dan antologi sederhana, dari kisah-kisah kecil yang ditulis oleh siswa sendiri. Justru di sanalah letak kekuatannya: siswa tidak hanya menjadi konsumen teks, tetapi produsen makna.

Peran guru dalam proses ini juga patut untuk dicatat. Guru tidak berdiri sebagai penguji semata, melainkan sebagai pendamping kreatif dan teman yang seru bagi siswa. Inisiatif yang lahir dari kesadaran pedagogis semacam ini membuktikan bahwa guru memiliki posisi strategis dalam membentuk ekosistem literasi sekolah.

SMPT Bugelan Tasikmalaya, menurut saya sudah berhasil Merawat Literasi Melalui Karya Sastra, kegiatan Pojok Baca, dan GLS nya.

“Buku Cakrawala Bugelan adalah jendela yang membuka wawasan dan memperluas cakrawala pengetahuan kita. Mari kita jadikan buku sebagai teman sejati dalam menuntut ilmu,” ujar Asep Irfan Helmi STGr, Kepala sekolah SMPT Bugelan Tasikmalaya. (Nadia Bella Mulkillah)

Penulis merupakan mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Lulus sarjana pada tahun 2024 di Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Ia menulis buku antologi puisi di antaranya Ziarah Rupa- Rupa Luka dan Cinta, Metamorfosis Rasa, Ibu, Puan di Waktu Itu, Putik Bersemi, dan Senandung Melodi Surga. Beberapa tulisan ilmiahnya terpublikasi pada jurnal terindeks Sinta dan media cetak/ daring.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *