Sajadah Terakhir untuk Ayah

Ragam Opini383 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Sinar matahari pukul enam pagi merembet masuk melalui celahkecil jendela kamar.

Bangun, Nak!” suara Ibu menggelegar dari balik pintu. Beliaumasuk membawa sebuah gayung merah berisi sedikit air.

Terkejut dengan kehadiran ibunya, Raka bergegas menyatukankesadarannya dan terbangun dari mimpi nyenyak.

“Jam berapa ini, Nak?” tanya Ibu tegas.

Mendengar pertanyaan itu, Raka refleks menoleh ke jam dinding. “Waduh, jam lima!”

Tanpa membuang waktu, ia bergegas lari menuju kamar mandi. Pintu terkuak lebar dan ia segera membersihkan diri, mengambilair wudhu dan sholat.

Anak tunggal itu bernama Raka Nathan Wijaya. Berambutpendek, berkacamata, dan berhidung mancung, namun pipi sertadahinya dipenuhi jerawat yang cukup lebat.

Selesai mandi, Raka melangkah menuju ruang makan. Hidungnya menangkap aroma harum masakan favoritnya yang disiapkan oleh sang ibu. Ia pun bertakhta di kursi merahnya. Namun, hari ini sebenarnya adalah hari yang sangat dihindarioleh Raka. Sebentar lagi, ia harus menempuh perjalanan menujupesantrensebuah tempat yang sangat enggan ia jalani.

“Hah?! Pesantren?!” gertak Raka.

Amarahnya memuncak seketika. Selera makannya hilang takberbekas, dan suasana ruangan mendadak menjadi tegang.

Brakk!

Raka menghentakkan tangannya ke meja makan. Kedua orang tuanya hanya terdiam, memilih untuk bersabar menghadapiputranya.

Udah, yuk,” ucap Ibunya dengan nada lembut dan penuhkesabaran.

Mereka pun meninggalkan ruang makan. Raka membawa koperdi tangan kirinya, tas berisi buku serta peralatan mandi di punggungnya, dan sebuah kantong plastik berisi makanan di tangan kanan. Dengan langkah kaki yang berat, ia membawaseluruh barang bawaan itu menuju mobil putih mereka. Rodaberputar dan mesin menderu, mengantarkan mereka menujupesantren yang telah disepakati kedua orang tuanya.

Setibanya di sana, sebuah gerbang hijau kokoh berdirimenjulang. Di bagian atasnya tertulis nama Pesantren An-Nur, yang berartiCahaya“. Di balik keengganannya, Rakamenyelipkan sedikit doa dan harapan kecil di dalam hati, Semoga di sini tidak banyak aksi perundungan.

Sebuah mobil terparkir di area parkir yang luas. Dua orang santri yang sedang duduk di kursi kayu samping parkiranmemperhatikannya.

Anaknya siapa, tuh?seru salah satu dari mereka, seolah-olahberniat mengajak Raka bersahabat.

Raka membuka pintu mobil lalu keluar. Ia berjalan ke bagianbelakang, membentangkan bagasi, dan mengeluarkan koperserta tasnya. Bersama kedua orang tuanya, Raka melangkahmenuju asrama putra. Begitu pintu asrama terbuka, rasa tidaknyaman langsung menyelimuti perasaannya. Harapan kecil yang sempat ia gantungkan mendadak sirna.

Raka membuka lemari kayu dan menata barang-barangnya. Dari sudut mata, ia mendapati salah seorang santri menertawakanpenampilannya yang terkesan luguseperti anak canggungyang rentan menjadi sasaran perundungan.

Hari-hari pun berlalu. Perlahan, tembok asrama mulai retakdikunyah waktu. Dugaan Raka terbukti; ia menjadi korban perundungan di tempat itu.

Yahaha, udah jerawatan, pakai kacamata lagi!” ejek mereka.

Kalimat itu menancap dalam di dada Raka, meruntuhkanmentalnya bagai bangunan yang roboh. Di tengah kepedihan itu, seorang santri bernama Rafi mendekatinya saat makan siang di meja makan yang panjang. Rafi duduk dan mengajak Rakaberbincang hangat mengenai apa yang sedang dialaminya.

Raka, apakah mereka membully kamu?” tanya Rafi penuhsimpati.

Percakapan mereka berlangsung lama dan mengalir hangat. Rafi lantas menyarankan agar Raka memberanikan diri melaporkankejadian tersebut kepada pengasuh pesantren.

Raka mengangguk mantap. Guru dan pengurus pesantrenmerespons laporan tersebut dengan tegas. “Baik, kami akanmenindaklanjuti hal ini secara serius!” tegas sang guru.

Sejak saat itu, pesantren berbenah hingga berkomitmen menjadikawasan Zero Bullying. Raka merasa lega dan bersyukur, meskiia tahu mengubah budaya di suatu tempat bukanlah perkaramudah.

Satu semester pun usai. Raka melangkah memasuki tahun 2026 dengan semangat dan rencana-rencana baru. Namun, takdirberkata lain.

Pada 18 April 2026, sebuah peristiwa besar memukul jiwanya. Tepat di waktu subuh, Raka mendapati ayahnya telah berpulangke rahmatullah dalam keadaan yang begitu indah.

“AYAHH!!” teriak Raka Histeris.

Raka melihat tubuh ayahnya sudah terbaring tak bernyawa di atas sajadahbeliau wafat seusai menunaikan salat tahajud.

Dari luar rumah, Ibunya berteriak panik, “TOLONGG!”

Seorang tetangga bergegas menghampiri. “Ada apa, Bu?”

Tolong suami saya, sepertinya suami saya sudah tidak sadarkandiri. Saya juga tidak tahu apakah suami saya sudah meninggaldunia atau belum, saya akan bawa dulu ke rumah sakitterdekat!” tangis sang ibu memecah heningnya subuh.

Warga sekitar berdatangan, lalu bersama-sama menggotongjasad sang ayah menuju mobil untuk dilarikan ke fasilitaskesehatan. Ibunya menyetir mobil sendirian. Raka diselimutirasa duka yang belum pernah ia bayangkan sebelumnyasebuah kesakitan paling dalam sepanjang hidupnya.

Saat tiba di sebuah klinik milik Muhammadiyah, dilakukan cekjantung oleh dokter dan ternyata denyut jantungnya sudah tidakada. Sang ibu mengurus jenazah suaminya mulai darimemandikan mengkafani, menyolatkan dan ikut menguburkandengan penuh cucuran air mata. Suami yang sangat dicintainya, meninggalkan hidupnya, selamanya. Mesjid di klinik tersebutpenuh dengan orang yang takziyah. Namun, itulah proses kematian yang indah, diinginkan oleh Ayahnya Raka. Persis sama dengan lagu yang pernah diciptakannyaSajadah Bisu”.

Saat prosesi pemakaman hendak dilakukan, runtuh sudahpertahanan Raka ketika melihat tubuh ayahnya terbungkus kainkeranda hijau berhiaskan tulisan Innalillahi wainna ilaihiroji’un.

Raka ikut menaiki mobil ambulans. Suara sirine yang meraung-raung terasa sangat memekakkan telinga dan mengiris hatinya. Sembari memandangi kain hijau itu, Raka berbisik lirihmenahan derasnya air mata, “Mengapa Ayah meninggalkanRaka cepat sekali…?”

Di belakang ambulans, iring-iringan warga mengantarkanalmarhum menuju tempat peristirahatan terakhir. Pintuambulans dibuka, Raka melangkah turun di area pemakaman. Iamenyaksikan seluruh proses penguburan sang ayah dari dekat. Rasa kehilangan itu begitu nyatabagaikan menyaksikanadegan film paling menyedihkan dalam hidupnya.

Seorang guru pesantren yang hadir menghampiri Raka yang sedang mengusap air mata. Beliau merangkul bahu Raka dan berkata lembut, “Janganlah kamu meratap terus-menerus, Nak. Ayahmu tidak akan suka melihatmu tenggelam dalamkesedihan.”

Setelah melewati hari terburuk dalam hidupnya itu, Rakakembali melanjutkan hari-harinya. Ia tumbuh menjadi pribadiyang lebih dewasa, sambil diam-diam selalu merindukansesosok pelindung yang kini tak bisa lagi ia temui di dunia.

 

Oleh
Al Farabi Rafiq Ilmi
Siswa Peacesantren Welas Asih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *