Sabtu pagi, 28 Februari 2026, suasana di Cagar Alam (CA) Leuweung Sancang terasa lebih hening dari biasanya. Udara pesisir selatan Kabupaten Garut yang lembap menyambut langkah kami dengan desau angin yang ritmis. Hari itu bukan sekadar hari Sabtu biasa bagi penulis sebagai akademisi dari Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Siliwangi (Unsil). Di tengah suasana khidmat bulan suci Ramadan, sebuah misi saintifik dan konservasi tetap berjalan. Bagi kami, menjalankan ibadah puasa bukanlah penghalang, melainkan penguat spiritual untuk menjaga amanah sebagai khalifah di bumi melalui perhelatan global Asian Waterbird Census (AWC) 2026.
Mengapa pengamatan burung air ini tetap menjadi prioritas di tengah bulan puasa? Jawabannya terletak pada tanggung jawab profesi dan intelektual. Burung air adalah bio-indikator paling jujur bagi kesehatan lahan basah. Sebagai dosen, tanggung jawab kami menjangkau garis depan konservasi, di mana teori-teori ekologi diuji oleh realitas alam liar. Melakukan pengamatan di tengah kondisi puasa memberikan perspektif baru: sebuah bentuk “tapa brata” modern, di mana kesabaran menahan lapar dan dahaga selaras dengan kesabaran menanti munculnya kepakan sayap di balik lensa.
Perjalanan spiritual dan saintifik ini dimulai sejak fajar menyingsing. Usai menunaikan salat Subuh pada pukul 05.00 WIB, kami segera bertolak menembus udara pagi menuju ujung selatan Garut. Tepat pukul 08.00 WIB, tim tiba di kantor Resort Sancang untuk koordinasi akhir sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki membelah rimbunnya hutan dan menapaki pesisir pantai.
Sekitar pukul 08.30 WIB, langkah kaki kami akhirnya menyentuh bibir pantai, hingga sekitar dua jam ke lokasi pengamatan. Saat itu, matahari mulai meninggi dan air laut perlahan surut, menyingkap hamparan zona intertidal (pasang surut) berlumpur yang bersanding dengan jernihnya muara sungai. Di sinilah tim kecil yang terdiri dari penulis, rekan praktisi konservasi, dan petugas lapangan Resort Sancang mulai bergerak. Lanskap yang dramatis ini seketika menawarkan ketenangan luar biasa, membasuh rasa lelah bagi jiwa yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Kondisi habitat ini adalah magnet bagi berbagai jenis burung. Bagi burung perancah (shorebirds), zona intertidal yang berlumpur adalah “meja makan” raksasa. Sementara bagi kami yang sedang berpuasa, melihat burung-burung tersebut sibuk mencari makan memberikan perenungan tersendiri tentang rezeki yang telah diatur oleh Sang Pencipta. Pemilihan waktu pengamatan saat air surut adalah kunci metodologi; di saat itulah burung-burung berkumpul di area terbuka, memudahkan kami untuk melakukan identifikasi tanpa harus melakukan aktivitas fisik yang terlalu menguras energi di siang hari yang terik.
Keunikan kegiatan AWC 2026 kali ini terletak pada komposisi tim yang sangat teknis namun penuh kekeluargaan. Penulis hadir membawa kerangka berpikir ilmiah, sementara praktisi konservasi membawa perspektif kebijakan nasional. Namun, tim ini tidak akan lengkap tanpa kehadiran petugas dari Resort Sancang yang setiap hari bernapas bersama hutan ini.
Di tengah kondisi puasa, sinergi ini terasa lebih bermakna. Tidak ada keluhan, yang ada hanyalah saling dukung. Petugas lapangan dengan ketajaman matanya membantu menunjukkan titik-titik persembunyian burung yang sering terlewatkan. Diskusi teknis terjadi dengan suara yang lebih tenang namun lebih dalam. Ada pertukaran pengetahuan yang kaya antara literatur ilmiah yang penulis bawa dengan kearifan lokal (local knowledge) petugas resort. Inilah bentuk nyata dari integrasi tridarma perguruan tinggi yaitu penelitian dan pengabdian yang dilakukan dengan penuh ketulusan di bulan suci.
Proses pengamatan dilakukan dengan metode yang senyap dan sistematis. Berpuasa secara alami membuat gerakan kami menjadi lebih lambat dan tenang, yang ternyata justru sangat menguntungkan dalam pengamatan burung. Burung-burung menjadi tidak terlalu terganggu oleh kehadiran manusia yang bergerak dengan ritme yang lebih halus.
Berbekal teropong binokular dan kamera lensa telephoto, kami “mendekat” tanpa menyentuh. Setiap burung yang tertangkap lensa dicatat dengan saksama: jenisnya, jumlah individunya, serta perilaku mereka. Apakah mereka sedang mencari makan (feeding), beristirahat (roosting), atau sekadar singgah sebentar? Dokumentasi foto menjadi bukti otentik yang sangat berharga untuk memvalidasi jenis-jenis yang sulit dibedakan, seperti beberapa jenis Trinil yang memiliki morfologi serupa. Kegiatan ini menuntut ketelitian tinggi, sebuah latihan fokus yang luar biasa di tengah kondisi tubuh yang sedang berpuasa.
Hasil pengamatan hingga pukul 14.00 WIB membuahkan temuan yang memuaskan. Tercatat sebanyak 15 spesies burung air memanfaatkan pesisir Sancang pada hari itu. Bintang utamanya adalah kelompok burung migran, para penjelajah lintas benua. Spesies seperti Gajahan Benggala, Cerek Kelabu, dan Biru-laut Ekor-blorok terlihat aktif di hamparan lumpur.
Salah satu penemuan yang paling berkesan adalah Trinil Leher-merah (Calidris ruficollis). Burung mungil ini telah menempuh perjalanan ribuan kilometer dari belahan bumi utara. Melihat kegigihan burung sekecil itu bermigrasi, rasa lelah akibat berpuasa seketika sirna. Sancang juga menunjukkan perannya bagi spesies penetap (resident) seperti Kuntul Karang yang anggun dan Cekakak Sungai yang nyaring.
Kejutan luar biasa muncul saat dua ekor Elang Laut Perut-putih melintas gagah, disusul oleh Alap-alap Walet (Falco amurensis), sang raptor migran legendaris. Kehadiran predator puncak ini adalah indikator bahwa rantai makanan di Sancang masih berfungsi sempurna. Ini adalah kabar baik bagi konservasi kita di Jawa Barat.
Data yang dikumpulkan dari sinergi ini akan masuk ke dalam basis data nasional dan global melalui Wetlands Internasional dan Global Biodiversity Information Facility. Bagi dunia akademik, khususnya Universitas Siliwangi, keterlibatan ini memperkuat posisi institusi dalam kancah internasional. Informasi mengenai populasi burung air di Sancang dapat menjadi dasar bagi kebijakan perlindungan habitat yang lebih efektif.
Bagi penulis sebagai dosen, pengalaman ini adalah “kuliah lapangan” yang akan memperkaya materi di ruang kelas nanti. Teori mengenai ekosistem kini memiliki konteks nyata. Melakukan pengamatan di bulan Ramadan memberikan pelajaran berharga bagi mahasiswa nantinya: bahwa dedikasi terhadap ilmu pengetahuan dan pelestarian alam tidak mengenal kata istirahat, bahkan di tengah ibadah puasa sekalipun. Data ini adalah bentuk amal jariyah intelektual yang akan terus bermanfaat bagi generasi mendatang.
Kegiatan AWC 2026 di Pesisir Sancang kali ini terasa seperti sebuah “tadarus alam”. Membaca ayat-ayat Tuhan yang tersirat dalam perilaku burung air dan keseimbangan ekosistem mangrove. Ketika akademisi, praktisi, dan petugas lapangan bergerak dalam harmoni, ada harapan besar bagi masa depan lingkungan kita.
Burung-burung air itu akan terus kembali setiap musimnya, melintasi benua dan samudera. Mereka tidak peduli dengan batas negara atau status sosial kita, mereka hanya butuh ruang yang aman untuk hidup. Melindungi lahan basah di Leuweung Sancang dan juga lokasi potensial lainnya adalah komitmen kita untuk menjaga amanah penciptaan.
Dari pesisir Sancang yang damai di bulan Ramadan ini, kita diingatkan bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab profesi sekaligus bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta. Mari kita jaga ruang bagi sayap-sayap yang bernaung dan melintas, karena dalam setiap kepakan sayap mereka, ada jaminan bagi masa depan bumi yang kita huni bersama.
Universitas Siliwangi: Berbakti di Bulan Suci, Bersinergi untuk Konservasi.
Biodata Singkat:
Diki Muhamad Chaidir
Dosen Jurusan Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Siliwangi











