RADAR TASIKMALAYA – Keprihatinan masyarakat dunia terhadap lingkungan hidup dimulai sejak tahun 1972, saat konferensi Stockholm kemudian dilanjutkan dengan dirumuskannya Strategi Pembangunan Terlanjutkan oleh Komisi Dunia Bagi Lingkungan dan Pembangunan.
Selanjutnya ada Pertemuan Bumi (Earth Summit) di Rio, Brasil pada tahun 1992 dengan menghasilkan berbagai rekombinasi melalui “Agenda 21”. Pembangunan Terlanjutkan telah disempurnakan menjadi Pembangunan Berwawasan Lingkungan dan Terlanjutkan disingkat PBL&T (Environmentally Sound and Sustainable Development).
Konsep Pembangunan Berwawasan Lingkungan adalah bagaimana setiap negara dapat terus membangun untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dengan cepat seimbang dengan pertumbuhan penduduk yang bertambah cepat, dengan salah satu cara adalah melalui industrialisasi tanpa mengeksploitasi sumber daya alam secara irrasional.
Manusia hidup sangat tergantung terhadap lingkungannya, mulai dari tempat tinggal, sumber pangan, sumber air, beraktivitas sehari-hari, sehingga berpikir bagaimana untuk melestarikan lingkungan yang sehat untuk sekarang dan generasi yang akan datang.
Masalah lingkungan merupakan masalah yang sangat nyata dihadapi oleh manusia di seluruh dunia, karena prilaku manusia sendiri yang tidak bijak atau berprilaku tidak selaras dengan lingkungannya. Ulah manusia yang serakah memberikan andil terbersar kepada ketidakseimbangan ekosistem, sehingga kembali kepada manusia lagi dihadapkan banyak permasalahan dan dituntut bagaimana memecahkan masalah lingkungan hidup guna kelangsungan hidup yang dinamis.
Akar permasalahan lingkungan berawal dari populasi manusia yang terus meningkat setiap harinya, sehingga menimbulkan berbagai masalah lingkungan. Kenaikan populasi manusia mengakibatkan meningkatknya konsumsi sumber daya alam, seperti air bersih, lahan, bahan bakar, serta berdampak banyaknya sampah, limbah industri, dan polusi udara. Alih fungsi lahan untuk pemukiman, pertanian, dan industri menyebabkan hilangnya habitat alami, penurunan keanekaragaman hayati, pemanasan global, dan peningkatan risiko bencana alam.
Sumber daya alam adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya hayati dan non hayati yang secara keseluruhan membentuk kesatuan ekosistem. Sumber daya alam adalah semua yang berasal dari Bumi, biosfer, dan atmosfer. Sumber daya alam memiliki peranan penting bagi manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup.
Sebenarnya untuk mengatasi permasalahan lingkungan hidup tidak sulit, yaitu bagaimana manusia sadar akan pentingnya arti kehidupan berkelanjutan dalam keseimbangan alam serta peka terhadap lingkungan dan permasalahannya. Melihat fenomena di atas kita harus berusaha yang terbaik untuk menjaga kelestarian dan menyelamatkan bumi dengan berperilaku ramah lingkungan.
Ramah lingkungan (eco-friendly) sering disebut juga go-green atau sustainable living adalah gaya hidup dan praktik yang bertujuan mengurangi dampak negatif terhadap alam, dengan cara meminimalkan penggunaan sumber daya alam, mengurangi sampah, menghemat energi, serta mencegah polusi untuk menjaga keberlanjutan ekosistem dan bumi.
Untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup, dilakukan dengan dimulai dari hal-hal yang kecil dan dimulai dari diri sendiri pada kehidupan sehari-hari, seperti:
Tingkatkan kualitas hidup dengan cara mengendalikan pertumbuhan penduduk, yaitu mengikuti program keluarga berencana, pendidikan seumur hidup, kurangi pola hidup konsumeristis. Kerusakan alam salah satu faktor penyebanya adalah jumlah penduduk yang terus bertambah, yang mengakibatkan kebutuhan manusia meningkat pula.
Jika hal ini diabaikan tentu akan menggangu ekosistem. Gangguan ekosistem terjadi ketika berbagai faktor, baik alami maupun disebabkan manusia, mengganggu keseimbangan dan fungsi ekosistem. Faktor alam seperti bencana alam (badai, banjir, kebakaran, gempa, letusan gunung berapi) dan perubahan iklim, serta faktor manusia seperti deforestasi, pencemaran, dan penggunaan pestisida berlebihan, dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam populasi, sumber daya dan lingkungan fisik.
Perlakukan tanah secara bijak, terutama pemerintah dalam membuat segala peraturan dan pengawasan yang ketat dalam pembangunan infrastruktur, seperti gedung perkantoran perumahan, hotel, pabrik, mall pada lahan yang sudah ditentukan peruntukannya. Untuk Masyarakat buanglah sampah pada tempat yang sudah disediakan dan jangan membuang sampah anorganik dengan cara dikubur atau dibakar.
Sampah anorganik umumnya tidak mudah terurai secara alami dan memerlukan waktu yang sangat lama, bahkan hingga ratusan tahun untuk terdekomposisi. Sampah anorganik terbuat dari bahan sintetik, seperti plastik, kaca, logam, dan berbagai produk industri lainnya. Maka dari itu sampah anorganik harus didaur ulang menjadi produk baru.
Budayakan prinsip 3 R: Pertama, Reduce (mengurangi), yaitu mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan sejak awal. Ini dilakukan dengan mengurangi konsumsi, memilih produk dengan kemasan minimal, dan menghindari pembelian barang yang tidak diperlukan, kurangi penggunaan benda sekali pakai seperti, tisu,sumpit, dan plstik.
Penggunaan sumpit dan tisu yang berlebihan akan mengakibatkan permintaan akan batang pohon semakin bertambah. Dengan menghemat tisu dan sumpit berati menyelamatkan hutan. Gunakan tas belanja dari kain untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Membawa botol air sendiri untuk aktivitas olah raga, ke sekolah, bekerja akan lebih efisien dan mengurangi sampah botol plastik sekali pakai.
Kedua, Reuse, yaitu menggunakan kembali barang-barang yang sudah tidak terpakai untuk fungsi yang sama atau fungsi lain. Ini dapat dilakukan dengan cara mengolah ulang, membuat kerajinan tangan, atau memanfaatkan barang-barang bekas untuk keperluan lain. Manfa’atkanlah barang-barang bekas seoptimal mungkin, seperti galon bekas untuk pot tanaman, kaleng bekas untuk kotak penyimpanan, pakaian bekas yang sudah tidak terpakai dijadikan kain lap, dan manfaatkan air limbah menjadi air bersih.
Ketiga, Recycle (daur ulang), yaitu mengolah kembali bahan-bahan atau limbah yang sudah tidak terpakai menjadi produk baru yang bermanfaat. Proses ini bertujuan mengurangi penggunaan bahan baku baru dan mengurangi sampah di tempat pembuangan akhir. Recycle merupakan bagian penting dari konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), di mana tahap pertama adalah mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, tahap kedua adalah menggunakan kembali barang yang masih layak, dan tahap ketiga adalah mendaur ulang limbah yang tidak bisa digunakan kembali.
Dalam kehidupan sehari-hari sampah organik yang berasal dari sisa makanan dan sayuran diolah menjadi kompos untuk pupuk tanaman. Sampah plastik diolah, dan kemudian dibuat menjadi produk baru, seperti serat untuk pakaian atau furnitur. Kertas bekas dikumpulkan, diolah menjadi pulp, dan kemudian dibuat menjadi kertas baru. Logam bekas diolah dijadikan bahan baku baru untuk memproduksi produk logam.
Hemat Energi, yaitu air, listrik, dan BBM.
Hemat energi adalah tindakan mengurangi konsumsi energi secara bijak dan efisien dengan mengubah kebiasaan atau menggunakan peralatan hemat energi agar tidak ada energi yang terbuang sia-sia, yang bertujuan menghemat biaya, menjaga ketersediaan energi, dan mengurangi dampak lingkungan.
Hemat air. Evaporasi atau penguapan biasanya akan terjadi di laut, karena seperti yang dikutip dari Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat melalui web resmi LPPM IPB, bahwa sebanyak 72 persen permukaan Bumi ditutup oleh air, 97 persen air itu asin dan berupa air yang ada di laut.
Walaupun air di tempat kita sangat berlimpah, tetapi kita bijak memperlakukan hemat air, selamatkanlah air jangan ada setetes airpun terbuang dengan percuma dan membuat resapan. Air yang ada di Bumi ini mempunyai siklusnya sendiri yang biasa disebut dengan daur air. Daur air ini adalah siklus yang terus menerus terjadi pada air dan singkatnya daur air tersebut akan dimulai dari evaporasi, kondensasi, dan presipitasi.
Dengan kata lain gunakan air dengan bijak dan efisien, serta menghindari pemborosan. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti mematikan keran saat tidak digunakan, menggunakan air secukupnya saat mandi, dan memanfaatkan air bekas untuk menyiram tanaman,
Hemat Energi Listrik. Listrik adalah salah satu energi yang selalu digunakan setiap hari. Pada saat ini listrik merupakan kebutuhan pokok, karena semua aktivitas kehidupan manusia banyak menggunakan tenaga listrik. Mulai dari penerangan, mengerjakan pekerjaan kantor dan rumah tangga, belajar, internet, hiburan, transfortasi dan yang lainnya. Tanpa listrik sepertinya tidak bisa beraktivitas, sehingga kegiatan tertunda.
Dalam kehidupan sehari-hari gunakanlah listrik sesuai dengan yang diperlukan, jangan sampai berlebihan. “Dengan kata hematlah energi listik!”. Ini dengan melakukan dengan mematikan alat yang tidak dipakai, menggunakan teknologi hemat energi (seperti LED), dan mengatur penggunaan alat elektronik agar lebih efisien. Akan lebih baik bila menggunakan energi alam, seperti sinar matahari, angin dlainnya.
Hemat Bahan Bakan Minyak (BBM). Penggunaan bahan bakar minyak yang efisien membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi udara. Dengan mengoptimalkan penggunaan bahan bakar, baik perusahaan maupun individu berperan aktif dalam menjaga kualitas udara, mengurangi jejak karbon, serta memperlambat dampak perubahan iklim global.
Bahan bakar minyak merupakan sumber energi vital yang digunakan dalam berbagai sektor, seperti transportasi, industri, dan pembangkit listrik. Namun, konsumsi yang berlebihan dapat meningkatkan biaya operasional dan berdampak negatif pada lingkungan. Oleh karena itu, mengetahui cara menghemat energi yang berupa bahan bakar minyak menjadi sangat penting.
Untuk hemat BBM, berjalan kaki sambil berolah raga, naik sepeda, dan gunakan transportasi umum seperti angkutan pedesean, angkutan kota, bus kota, kereta dan beralih pada kendaraan listrik. Pertimbangkan menggunakan kendaraan pribadi sepeda motor dan mobil untuk jarak jauh.
Dari uraian di atas mari berlaku gaya hidup ramah lingkungan dengan hidup bersih dan sehat serta Bersama-sama menyelamatkan bumi. Untuk itu perlu kiranya di bidang pendidikan diberlakukan lagi mata pelajaran dan mata kuliah: “Pendidikan Lingkungan Hidup”. (Gadriaman SE MPd)
Penulis merupakan Dosen Prodi Pendidikan Jasmani Universitas Siliwangi (Unsil)






