RADAR TASIKMALAYA – Gunung Galunggung yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menyimpan memori kelam dari letusan dahsyatnya pada tahun 1982. Namun, waktu telah mengubah sisa-sisa bencana tersebut menjadi sebuah mahakarya alam yang menakjubkan. Kini, Kawah Galunggung menjelma menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Barat yang menawarkan perpaduan antara keindahan visual, udara sejuk pegunungan, dan wisata air panas.
Daya tarik utama dari objek wisata ini tentu saja adalah danau kawahnya yang berwarna hijau kebiruan, dikelilingi oleh dinding tebing yang eksotis. Untuk mencapai bibir kawah, para wisatawan harus menaklukkan anak tangga ikonik yang konon berjumlah 620 atau 510 anak tangga (terdapat dua jalur tangga berbeda). Rasa lelah setelah mendaki akan terbayar lunas saat embusan angin sejuk dan panorama kawah yang memesona menyapa di puncak. Hal ini diungkapkan oleh Stefan Prasetya, salah seorang wisatawan yang berkunjung dari Yogyakarta yang sempat ditemui penulis.
Berbeda dengan Tangkuban perahu atau Kawah Putih di mana pengunjung hanya melihat kawah dari atas tebing pembatas demi keamanan.
Di Galunggung wisatawan diperbolehkan turun langsung ke dasar kawah melalui jalur yang tersedia. Di bawah, terdapat danau hijau yang tenang dan area datar yang luas. Bahkan, Galunggung adalah salah satu dari sedikit kawah aktif di mana wisatawan diizinkan untuk camping (berkemah) langsung di dalam kalderanya.
Di bawah kawasan kawah, pengunjung juga dimanjakan dengan pemandian air panas alami (Cipanas Galunggung) yang dipercaya berkhasiat bagi kesehatan kulit dan sendi.
Menggali Potensi Melalui Kritik Membangun
Meski memiliki potensi alam yang luar biasa dan nilai sejarah yang kuat, pariwisata Kawah Galunggung tidak luput dari sejumlah catatan kritis. Agar destinasi ini mampu bersaing, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga mancanegara. Ada beberapa aspek pengelolaan yang perlu segera dibenahi oleh pemerintah daerah dan pihak pengelola:
Manajemen Sampah yang Masih Lemah
Keindahan alam sering kali ternoda oleh sampah plastik, botol minuman, dan bungkus makanan yang berserakan, terutama di area puncak kawah dan di sepanjang anak tangga. Minimnya tempat sampah yang terdistribusi dengan baik dan kurangnya edukasi bagi pengunjung membuat masalah kebersihan menjadi keluhan utama. Diperlukan kampanye sadar lingkungan yang tegas dan penambahan fasilitas tempat sampah di titik-titik strategis.
Pemeliharaan Fasilitas Umum dan Keamanan
Beberapa fasilitas seperti toilet umum, musala, dan gazebo tempat peristirahatan kondisinya perlu peremajaan. Selain itu, pagar pengaman di beberapa titik rawan di sekitar bibir kawah dan tangga pendakian terlihat mulai berkarat atau rusak. Keselamatan wisatawan harus menjadi prioritas utama; perbaikan infrastruktur keamanan ini sangat mendesak untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL)
Warga sekitar memiliki peran sentral dan aktif dalam ekosistem wisata Kawah Gunung Galunggung. Mereka tidak sekadar menjadi penonton, melainkan turun langsung baik secara mandiri maupun melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Peran mereka sangat beragam, mulai dari penyedia jasa transportasi (ojek khusus rute tanjakan), pemandu lokal, pengelola area parkir, penjualan cendera mata hingga penjaga kebersihan dan fasilitas umum. Warga juga bersinergi dengan instansi terkait, seperti Perhutani dan Pemerintah Daerah, untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pengunjung di sekitar area tangga dan kawah.
Dari sisi ekonomi, Keberadaan destinasi ini telah menjadi urat nadi perekonomian lokal yang mampu menggerakkan UMKM. Pariwisata menjadi alternatif kuat di luar sektor pertanian, membuka peluang kerja dan menjadi sumber pendapatan tambahan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Namun, manfaat ekonomi tersebut belum dirasakan secara merata oleh seluruh warga.
masih dipengaruhi oleh jumlah kunjungan wisatawan karena sifatnya yang fluktuatif, biasanya memuncak tajam pada akhir pekan dan musim liburan, cuaca juga sangat mempengaruhi tingkat kunjungan serta pengelolaan destinasi yang berkelanjutan.
Kehadiran warung-warung makan di area puncak memang membantu wisatawan yang kehausan atau kelaparan. Namun, penataannya yang kurang terorganisir membuat area tersebut terkadang terlihat kumuh dan justru menghalangi titik pandang (viewing spot) terbaik ke arah kawah. Relokasi atau penataan ulang kawasan pedagang dengan desain yang lebih rapi dan ramah lingkungan akan meningkatkan kenyamanan visual pengunjung.
Aksesibilitas dan Penerangan
Jalan menuju kawasan wisata dari pusat kota Tasikmalaya memang sudah cukup baik, namun di beberapa titik mendekati area gerbang, aspal mulai berlubang. Selain itu,
minimnya lampu penerangan jalan membuat akses pulang di sore menjelang malam hari terasa kurang aman bagi pengendara roda dua.
Menuju Pariwisata yang Berkelanjutan
Kawah Galunggung adalah aset berharga milik Jawa Barat. Kritik ini tentu tidak dimaksudkan untuk menyurutkan minat wisatawan, melainkan sebagai bentuk kepedulian (constructive criticism) agar tata kelola pariwisata di sana semakin profesional.
Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya, Perhutani, serta masyarakat setempat perlu duduk bersama merumuskan standar operasional pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism). Perlu juga adanya pembentukan Destination Management Organization (DMO) di kawasan wisata Kawah Galunggung yang akan menjadi langkah strategis yang sangat tepat. Sebab saat ini, tata kelola Galunggung masih menghadapi tantangan klasiknya yaitu koordinasi multipihak (Perhutani, Pemkab Tasikmalaya, dan masyarakat lokal).
Jika kebersihan dijaga, fasilitas dirawat, dan keamanan dijamin, Kawah Galunggung tidak hanya akan menjadi saksi bisu keagungan alam, tetapi juga akan menjadi penggerak ekonomi warga yang tak lekang oleh waktu.
Sudah saatnya Kawah Galunggung berbenah. Alam telah memberikan keindahannya, kini giliran kita yang merawatnya. (Melcheor Bere)
Penulis adalah mahasiswa S2 Politeknik Sahid.
Dosen pembimbing, Dr. Suci Sandi Wachyuni, S.TP, MM, CHE.



