RADAR TASIKMALAYA – Ramadan, hanya bulan ini yang keberadaannya mendapat perhatian penuh selama sebulan. Bukan hanya oleh umat Islam, tapi juga oleh seluruh warga negara. Persahabatan dengan bulan ini sangat kuat. Bahkan bisa jadi, anak-anak lebih hafal hari ini tanggal berapa di bulan Ramadan.
Bulan ini memang unik. Ramadan unik karena dimanjakan oleh Allah, Rasulullah, para ulama, dan para penikmat nilai-nilai spiritual lebih dibanding bulan lainnya. Pemanjaan luar biasa ini kemudian membuatnya bergelar beribu nama. Ramadan memiliki banyak gelar yang memang disandarkan pada realitasnya.
Karena teramat istimewa, maka bulan ini menjadi fokus perhatian agar benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Perhatian maksimal itu bisa kita nyata saksikan manakala berada di fasilitas-fasilitas bernuansa spiritualitas tinggi. Masjid, pesantren, dan lembaga keagamaan lebih ramai dari biasanya. Suara Al-Qur’an bergemuruh dari pagi hingga malam. Aktivitas tambahan digiatkan. Perhatian pada ibadah ritual dan sosial menjadi ciri khas bulan ini. Semua bermuara pada keyakinan bahwa nilai kebaikan di bulan ini sempurna dan berlipat ganda.
Suasana Ramadan dicipta sedemikian berbeda. Ada tekad di setiap relung umat Islam, bahwa satu bulan ini ada semacam kesempatan untuk menjadi pribadi yang berbeda dengan 11 bulan sebelumnya. Sebelumnya, ada pembiaran yang dinormalisasi pada jiwa yang tak terkendali. Ada keasyikan yang melenakan. Ada buaian dosa yang menjanjikan nikmat sesaat. Di bulan Ramadan, kendali itu muncul dan mengarahkan setiap jiwa untuk berubah, membaik, dan meningkat.
Selama sebulan ini, setiap wajah dari dimensi kehidupan kita tiba-tiba membaik. Acara di televisi, tampilan di media sosial, munculnya para artis dalam balutan islami, dan visual-visual lain yang menawarkan aroma Ramadan yang bernuansa. Semua memberi pesan bahwa setiap manusia butuh momentum penyadaran dan kesempatan untuk kembali pada porsi dan proporsi diri yang sebenarnya.
Bulan Ramadan dipenuhi kesempatan yang mahal dan hanya sebulan dalam setahun. Bahkan sebagai ”sayyid al-syuhur” (penghulu semua bulan), satu bulan itu dibandingkan sama dengan sebelas bulan lainnya. Teramat mahal kesempatan ini jika dibiarkan lewat begitu saja tanpa produktivitas berarti.
HANYA SEBULAN TIDAK LEBIH
Bulan Ramadan harus dimaksimalkan. Ia adalah bulan produktivitas. Apa pun yang kita lakukan di bulan ini harus diusahakan lebih dari bulan selainnya. Allah telah menyiapkan segala fasilitas di bulan ini untuk berlipatgandanya keuntungan lahir dan batin. Umumnya umat Islam mendapat limpahan dan keberkahan materi. Aktivitas ekonomi bergerak jauh lebih cepat. UMKM berkembang di lapangan sekaligus di ruang yang berbeda dimensi. Jualan di platform media sosial memanjakan mereka yang berjualan dengan harga di bawah Rp10.000 hingga di atas 1 miliar. Aktivitas ekonomi ini ditambah pula oleh meningkatnya karitas dan filantropi umat Islam. Khususnya orang-orang kaya dan mereka yang materinya berlebih, mereka mengeluarkan zakat dan sedekahnya lebih banyak di bulan ini. Zakat, sedekah, THR dalam ragam levelnya, menciptakan perputaran uang yang signifikan di bulan ini.
Namun produktivitas sejati ada di sisi yang lain, yaitu wilayah batin spiritual. Umat Islam mendapatkan kesempatan Ramadan sebagai momentum pembersihan seluruh dimensi kemanusiaan mereka, khususnya dimensi batin spiritual. Rasulullah, juga para sahabat telah membedakan perlakuan mereka terhadap Ramadan, dan menjadikannya sebagai momentum pemfokusan pada esensi, bukan eksistensi. Bahkan ketika memasuki 10 hari terakhirnya, aktivitas mereka tenggelam pada pusaran hegemoni wilayah batin spiritual. Aktivitas itu dilanjutkan oleh para ulama dan umat Islam sebagai tradisi Ramadan. Aktivitas yang lebih dilekatkan pada ibadah ritual. Kualitas dan kuantitas menyatu. Kuantitas ibadah ditambah. Dimensi spiritual ini benar-benar dikenyangkan, dipuaskan.
Suasana spiritualitas tertinggi Ramadan bisa disaksikan di tanah suci. Lonjakan jamaah umrah Ramadan terjadi di tahun ini. Rekor jamaah umrah terbanyak terjadi di tahun ini di 10 hari pertama Ramadan 2026. Lebih dari 904.000 orang tumpah di haramain, Mekkah dan Madinah. Biasanya, peserta umrah bertambah di 10 hari terakhirnya. Namun tidak ada yang menduga sebelumnya, Timur Tengah bergejolak. Perang Israel-Amerika melawan Iran pecah. Kemungkinan, peserta umrah akan berkurang karena tidak ada yang tahu kapan perang ini berakhir.
Peningkatan suhu spiritual di bulan Ramadan harus dijaga. Umat butuh suasana yang bisa mengalihkan perhatian mereka pada kondisi politik tanah air yang sedang tidak baik-baik saja. Umat butuh diantar pada suasana tenang, nyaman, dan hidup yang meaningfull dan menyenangkan. Mereka butuh dikenalkan pada suasana zaman dahulu di mana para ulama hidup dalam suasana Ramadan yang penuh makna.
PRODUKTIVITAS LAHIR BATIN
Imam al-Dzahabi, atau Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lâm al-Nubala mencatat bahwa para ulama besar dahulu telah memaksimalkan perhatian mereka pada kebutuhan pemuasan wilayah spiritual mereka di bulan Ramadan. Imam Syafi’i misalnya, beliau biasa menyelesaikan bacaan 60 kali dalam sebulan. Imam Bukhari mengkhatamkan membaca Al-Qur’an sekali di siang hari dan khatam tiga malam sekali dalam salat tarawihnya. Imam Maliki meninggalkan majelis hadisnya dan fokus pada kajian Al-Qur’an selama bulan Ramadan. Demikian juga para ulama lainnya yang telah benar-benar menyiapkan diri dan jiwanya sejak sebelum tiba bulan Ramadan. Mereka benar-benar membedakan bulan ini dengan konsep yang lebih terarah pada keyakinan akan pentingnya keseimbangan antara dua dimensi yang dimiliki manusia.
Namun produktivitas Ramadan harus pula dikontekstualisasi pada wilayah kekinian. Di era kebendaan seperti sekarang ini, di masa di mana pemenuhan kebutuhan secara fisik materi lebih ditonjolkan, kita butuh merefleksi dan merumuskan simpulan yang lebih pas dan mengena. Tentu saja prinsipnya adalah bagaimana memenangkan nilai-nilai rohani spiritual, bahkan ketika aktivitas kita murni duniawi. Nilai-nilai suci yang diajarkan agama seperti kejujuran, pemihakan pada kebenaran, tidak menipu, tidak menghina, tidak merugikan pihak lain, hal-hal itulah yang harus diajarkan, dipraktikkan, dan diteladankan. Produktivitas di bulan Ramadan mengisyaratkan pesan bahwa di bulan ini, aktivitas kita harus lebih berbasis dan bermuara pada nilai yang positif, bermanfaat, dan membahagiakan pihak lain.
Oleh: Asep M Tamam
Wakil Rektor 3 UNIK Cipasung Tasikmalaya






