Parasut Sains: Menggugat Kolonialisme Pengetahuan di Balik Penelitian Global

Lingkungan60 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh kontroversi penemuan bunga langka Rafflesia hasseltii di Sumatera Barat. Universitas Oxford, melalui unggahan resminya di media sosial, merayakan temuan tersebut namun secara mencolok tidak mencantumkan nama-nama peneliti, botanis, dan pemandu lokal asal Indonesia yang berkontribusi krusial dalam ekspedisi tersebut.

Kritik keras dari akademisi hingga publik pun muncul. Mereka menilai pengabaian nama ini bukan sekadar luput, melainkan cerminan dari pola historis Parasut Sains (Parachute Science)—praktik di mana institusi besar mengambil sorotan, sementara peneliti Global South direduksi perannya sebagai asisten anonim.

Parasut sains secara sederhana merujuk pada praktik ketika peneliti atau institusi dari negara-negara maju (Global North) melakukan kunjungan singkat ke negara-negara berkembang (Global South) yang kaya akan sumber daya alam dan pengetahuan tradisional.

Mereka “turun” ke lokasi, mengumpulkan data, sampel biologis, atau spesimen, dan kemudian “naik” kembali ke institusi asal untuk menganalisis, mempublikasikan, dan mengambil manfaat ilmiah. Seluruh proses ini sering dilakukan tanpa melibatkan atau memberikan kontribusi yang setara kepada peneliti, institusi, atau masyarakat lokal.

Metafora “parasut” ini sangat tajam: turun untuk mengambil, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak peningkatan kapasitas, tanpa transfer ilmu, dan sering kali tanpa pemahaman mendalam tentang konteks sosial-ekologis setempat.

Peneliti lokal hanya berperan sebagai fasilitator lapangan, pemandu, atau enumerator, bukan sebagai mitra setara dalam desain, analisis, atau kepenulisan. Akibatnya, ide riset, kerangka teoritis, hingga data mentah sepenuhnya dikuasai oleh pihak asing, menjadikan mereka “pemilik” tunggal proyek tersebut.

Warisan Kolonial dan Ketidakadilan Akademik

Praktik parasut sains bukanlah fenomena baru; ini merupakan kelanjutan struktural dari kolonialisme ilmiah di masa lalu. Pada era kolonial, sumber daya alam dan pengetahuan dari wilayah jajahan diekstraksi demi kepentingan museum dan akademi Eropa.

Hari ini, struktur ketidaksetaraan tersebut menjelma dalam bentuk dominasi pendanaan riset, infrastruktur laboratorium yang timpang, dan bias sistem publikasi internasional yang cenderung memprioritaskan afiliasi dari Global North.

Dampak dari praktik ini sangat merusak ekosistem penelitian lokal. Bahkan, studi-studi ilmiah terbaru, seperti penelitian yang dipublikasikan oleh Li Yang dan timnya dalam jurnal bergengsi Conservation Biology pada tahun 2025, menunjukkan secara empiris bahwa praktik parasut sains secara langsung menghambat pertumbuhan dan kemandirian kapasitas penelitian di negara-negara yang menjadi lokasi studi.

Pengetahuan dan kompetensi ilmuwan lokal diremehkan, seolah-olah hanya pihak asing yang memiliki otoritas epistemik untuk menghasilkan interpretasi ilmiah yang valid. Ketika peneliti asing meraih publikasi bergengsi, grant besar, dan posisi akademik tinggi, ilmuwan lokal hanya mendapatkan ucapan terima kasih (acknowledgment) di bagian akhir artikel.

Hal ini adalah bentuk eksploitasi intelektual yang menghambat kemandirian dan keberlanjutan penelitian di negara-negara berkembang. Lebih jauh, penelitian yang minim konteks lokal seringkali menghasilkan kesimpulan yang bias atau tidak relevan dengan kebutuhan kebijakan di negara tuan rumah.

Perlawanan Lokal Melalui Taksonomi dan Penamaan Khas

Merespons dominasi narasi ilmiah ini, komunitas ilmiah di negara-negara berkembang kini mulai mengadopsi strategi perlawanan simbolis sekaligus etis. Salah satu bentuk yang paling nyata adalah melalui praktik penamaan spesies baru, khususnya di bidang taksonomi dan biologi.

Jika di masa lalu penamaan spesies sering didominasi oleh nama-nama peneliti Barat atau toponim asing, kini ilmuwan lokal semakin gencar menamai spesies baru dengan menggunakan identitas lokal yang kuat. Nama-nama tersebut bisa berupa nama makanan daerah, nama geografis yang khas, atau bahkan nama tokoh dan peneliti lokal yang berjasa, sekaligus memberikan penghormatan abadi.

Dalam bidang zoologi, salah satunya pada herpetofauna (reptil dan amfibi), contoh yang menarik adalah penemuan Tim Peneliti BRIN mengenai spesies cecak jarilengkung baru, Cyrtodactylus pecelmadiun, di Jawa Timur.

Penamaan yang terinspirasi dari kuliner khas “pecel madiun” ini, menurut Peneliti Ahli Madya BRIN Awal Riyanto, bertujuan untuk mengenalkan ragam kuliner Nusantara melalui dunia sains, sebuah tradisi yang sudah dimulai dalam deskripsi C. papeda dan C. tehetehe. Penemuan yang dipublikasikan dalam jurnal Zootaxa pada Januari 2025 ini semakin mengungkap keragaman tersembunyi (hidden diversity) spesies cicak jarilengkung Jawa yang sudah mulai dieksplorasi sejak zaman kolonial.

Contoh herpetofauna lain mencakup nama-nama yang merujuk langsung ke lokasi penemuan seperti katak-pucat Pantai Selatan (Chirixalus pantaiselatan) yang ditemukan di Pantai Selatan, Sancang, Garut.

Selain itu, peneliti juga memberikan pengakuan kepada pahlawan ilmiah mereka sendiri melalui taksonomi, seperti dalam amfibi Katak Pohon Farits Alhadi (Zhangixalus faritsalahadiii) dan Katak Lengket Misbahul Munir (Kalophrynus misbahulmunirii) menunjukkan upaya yang disengaja untuk mengakui kontribusi ilmuwan lokal dalam taksonomi khusus.

Sementara itu, dalam botani, upaya penguatan kapasitas lokal terlihat jelas dalam deskripsi spesies baru dari famili Araceae (aroid). Tim Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN, bersama mitra taksonom, berhasil mengidentifikasi Homalomena chikmawatiae yang ditemukan di Provinsi Riau, Sumatra.

Spesies ini diberi nama Homalomena chikmawatiae sebagai bentuk penghargaan kepada Prof Dr Tatik Chikmawati dari IPB University atas dedikasinya dalam pengembangan ilmu biosistematika tumbuhan di Indonesia. Spesies ini memiliki ciri khas daun berbentuk perisai (peltate) dan bagian steril (appendix) yang menonjol pada spadix.

Penemuan yang juga mereklasifikasi genus Furtadoa ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Webbia: Journal of Plant Taxonomy and Geography pada April 2025 sebuah bukti pentingnya pendekatan taksonomi integratif oleh peneliti nasional.

Praktik-praktik penamaan ini secara efektif menegaskan otoritas epistemik ilmuwan lokal dan mengikis narasi bahwa penemuan ilmiah hanya milik pihak luar.

Mewujudkan Kolaborasi yang Setara

Untuk mengatasi parasut sains, diperlukan perubahan sistemik menuju kolaborasi yang setara (meaningful partnership). Sebagaimana direkomendasikan oleh Li Yang dan timnya, strategi kuncinya adalah membangun tim riset kolaboratif dan interdisipliner sejati, memperluas peluang riset lokal, dan mendukung proyek-proyek riset jangka panjang. Kolaborasi harus terjalin sejak perumusan masalah, metodologi, analisis, hingga publikasi, dengan peran setara bagi kedua belah pihak. Prinsip keadilan dalam kepenulisan harus ditegakkan, di mana kontribusi nyata ilmuwan lokal dihargai dengan posisi co-author yang proporsional.

Lebih dari sekadar pengakuan nama, setiap proyek penelitian internasional wajib menyertakan komponen transfer ilmu dan teknologi, seperti pelatihan analisis data dan akses ke perangkat canggih, guna memperkuat kapasitas laboratorium dan keahlian lokal. Pada akhirnya, kasus Rafflesia dan upaya penamaan spesies lokal hanyalah puncak gunung es dari perjuangan yang lebih besar: perjuangan untuk mengubah relasi kuasa.

Hanya dengan mengganti model ekstraktif dengan model yang menjamin pembagian manfaat yang adil, penelitian dapat benar-benar berfungsi sebagai upaya kolektif yang beretika, inklusif, dan berkelanjutan untuk kemajuan ilmu pengetahuan dunia. (Diki Muhamad Chaidir)

Penulis merupakan Dosen Jurusan Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Siliwangi, Mahasiswa Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *