TASIKMALAYA, RADAR TASIKMALAYA – Tasikmalaya merupakan salah satu daerah yang berada di Jawa Barat yang dikenal dengan julukan “Kota Santri”. Kenapa? Karena hampir di setiap sudut desa berdiri pondok pesantren, baik pesantren tradisional/salafiah maupun pesantren modern/khalafiah. Jumlah santrinya juga beragam, mulai dari puluhan bahkan sampai ribuan orang. Para santri datang dari berbagai wilayah di Indonesia tentunya, tidak hanya warga lokal Tasikmalaya saja.
Kata santri merupakan satu kata sederhana, namun penuh makna. Santri adalah orang yang dipilih Allah untuk menjadi penghuni sebuah lembaga pendidika Islam yang memiliki sistem kehidupannya yang unik, yaitu pesantren. Para santri tinggal di pesantren untuk menimba ilmu agama, menambah wawasan dan pengetahuan dari kitab-kitab peninggalan para pewaris nabi, serta mengabdi agar memperoleh keberkahan dari kiai. Santri tumbuh dan dibesarkan di pesantren. Terdapat beberapa aturan yang harus dilakukan agar ia disiplin dan fokus dalam mempelajari ilmu agamanya. Diharapkan, nantinya ia bisa mengamalkannya di masyarakat.
Beberapa karakteristik yang sangat melekat bagi santri, di antaranya senantiasa hidup sederhana, mandiri, solidaritas yang tinggi, juga tawadhu. Tak salah apabila mayoritas masyarakat memandang bahwa santri itu adalah seseorang yang memiliki kualitas moral yang lebih baik karena pendidikan di pesantren dilakukan secara komprehensif dan holistik.
Dalam pendidikan pesantren, peran santri sangat penting untuk menyukseskan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Dalam kehidupan masyarakat, eksistensi santri selalu diharapkan menjadi penggerak dalam memperkaya keilmuan serta menyerukan kedamaian. Untuk saat ini para santri bukan hanya mendapatkan pembelajaran agama melalui kitab kuning saja, tetapi juga keilmuan umum. Adanya beberapa lembaga pendidikan mulai dari madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, hingga universitas. Sehingga, ketika santri sudah memiliki ilmu yang cukup dan kemudian suatu saat nanti ia mengamalkan apa yang diperolehnya selama belajar di pesantren dengan penuh ketaatan, maka saat itulah negeri mebutuhkan generasi-genarasi santri untuk mengayomi dan menjaga keutuhan NKRI.
Jika kita membaca sejarah kemerdekaan Indonesia, akan ditemukan bahwa di antara pelopor kemerdekaan RI adalah orang-orang pesantren. Bagi warga Tasikmalaya, kita sangat bangga, pahlawan nasional yang lahir dari Priangan itu lahir dan bagian dari pesantren, yakni K.H. Zainal Mushtafa. Eksisteninya tidak hanya tentang kehidupan yang berorientasi pada akhirat. Melainkan ia memikirkan nasib bangsa yang masih terbelenggu dan tersiksa oleh kaum penjajah. Bagi mereka, membela dan menjaga keutuhan bangsa merupakan hal yang diajarkan dalam ajaran Islam. Bahkan, yang demikian itu adalah bagian dari keutuhan iman seorang muslim.
Salah satu bukti kiprah santri dan kiai dalam mewujudkan kemerdekaan NKRI yaitu resolusi jihad. Santri dan kiai berada di garda terdepan dalam memperjuangkan dan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Mereka dengan sukarela mengorbankan harta, tenaga, dan bahkan nyawa. Mereka menghalau dan mengusir tentara penjajah yang hendak menduduki tanah air ini. Resolusi jihad ini sangat penting dalam sejarah bangsa, karena tidak akan terjadi peristiwa 10 November 1945 tanpa resolusi jihad yang menjadi ruh perjuangan dan penggeraknya.
RUANG JUANG SANTRI SAAT INI
Semakin ke depan, Indonesia akan menghadapi semakin banyak tantangan. Namun untuk saat ini hal pertama yang harus dilawan justeru terdapat dalam diri sendiri yakni rasa malas. Rasa ini yang kerap bersarang di hati sehingga santri enggan untuk belajar dan mengaji. Rasulullah bersabda bahwa jihad yang paling besar itu adalah perang melawan diri sendiri.
Kini, kita tidak perlu lagi berperang melawan penjajah, karena saat ini Indonesia telah merdeka. Santri hanya tinggal fokus meningkatkan pengetahuan dan memperbaiki akhlak kepribadiannya. Caranya yaitu dengan mencurahkan sepenuh hati, pikiran, dan tenanganya untuk belajar, mengaji dan menaati apa yang telah ditetapkan oleh kiai. Senjata yang diperlukan bukan lagi senapan atau bambu runcing, melainkan pena untuk mencatat ilmu yang diperolehnya. Hal ini bisa menjadi alat penyambung untuk membagikan pengetahuannya. Tiada hal lain lagi yang patut diperjuangkan selain hal-hal tersebut untuk bekal masa depan.
Perkembangan zaman semakin pesat, santri harus bisa beradaptasi dan juga melakukan perubahan. Tuntutan zaman membuat santri untuk bisa memiliki intelektualitas yang luas dan bisa menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Di era sekarang santri akan dihadapkan dengan tantangan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Perubahan akan terjadi diberbagai aspek kehidupan, begitu juga dengan dunia pendidikan.
Untuk itu, pesantren harus mampu mendidik para santri agar menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman ini. Dalam menekuni dunia dakwah dan pengembangan Islam lainnya pemahaman teknologi dan pemanfaatannya sangat diperlukan. Bukan hanya bagi mereka yang akan menekuni profesi selain dari bidang keagamaan tersebut. Dengan adanya teknologi dapat membantu memudahkan proses belajar mengajar di pesantren.
Dalam upaya menyiapkan lahirnya santri generasi emas, diperlukan pendidikan pesantren yang unggul, berbasis karakter dan berwawasan global. Guna melahirkan generasi-generasi penerus bangsa yang unggul, berakhlakul karimah dan berdaya saing global. Sumber daya manusia santri yang jumlahnya mencapai berjuta-juta orang ini tentunya merupakan salah satu investasi yang mesti diperhitungkan di masa yang akan datang.
SANTRI EMAS UNTUK INDONESIA EMAS
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan santri untuk Indonesia emas. Di antaranya meningkatkan kualitas lembaga. Pesantren dituntut untuk bisa setara kualitasnya dengan pendidikan umum lainnya atau bahkan bisa melebihi di atasnya. Dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren harus benar-benar diperhatikan, baik oleh stakeholder pesantren dan juga pemerintahan. Untuk memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan pesantren memiliki kualitas dan mutu yang bisa menjamin lahirnya santri-santri untuk Indonesia emas 2045.
Pesantren juga harus memperkuat karakter santri. Peran pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan tidak hanya mendidik santri dalam bidang keilmuan saja, melainkan yang paling penting yaitu pendidikan karakter. Pesantren mengajarkan nilai-nilai ketakwaan, kejujuran, kesederhanaan, kemandirian, kerja sama, solidaritas, dan keikhlasan.
Pesantren juga harus meningkatkan peran untuk menciptakan santri yang unggul. Santri harus siap berkompetisi dan bersaing dalam merebut bonus demografi dan pesatnya perekonomian dunia. Hal ini harus didukung dengan karya-karya inovasi dan melek teknologi informasi. Sehingga santri mampu sejajar bahkan jauh melebihi di atas rata-rata mengungguli kecerdasan bangsa-bangsa lainnya.
Dalam upaya mencapai lahirnya santri untuk Indonesia emas, maka diperlukan pendekatan atau strategi dalam penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Di antaranya: peningkatan mutu pendidikan, peningkatan kualitas pendidik, peningkatan kualitas staf manajemen dan organisasi, peningkatan literasi digital dan teknologi informasi serta peningkatan kemandirian ekonomi.
Untuk mewujudkan Indonesia emas, peran santri sangatlah penting. Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil belajar santri di pesantrennya. Apakah pesantren telah melahirkan genrasi bangsa yang unggul atau tidak. Santri haruslah memberi warna dengan memberikan kemanfaatan dan kemaslahatan bagi masyarakat di sekitarnya. Santri yang berkualitas haruslah memiliki semangat belajar yang tinggi, berakhlakul karimah, memiliki jiwa nasionalis, memiliki sikap toleran terhadap perbedaan yang beragam, serta selalu berpikir kreatif dan inovatif. Dengan begitu, satri Indonesia akan menjadi bagian penting menuju Indonesia emas 2045.
Siti Hopipah
Alumnus Prodi Pendidikan Agama Islam UNIK Cipasung







