Mengolahragakan Masyarakat di Era Media Sosial dengan “Medali” dan “Story”

Kesehatan, Olahraga58 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah banyak aspek kehidupan masyarakat, termasuk cara memandang dan menjalani aktivitas olahraga. Olahraga yang dahulu identik dengan kewajiban menjaga kebugaran, kini bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup, identitas diri, dan sarana ekspresi sosial. Fenomena ini tercermin jelas dalam tren olahraga masyarakat Indonesia yang menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan Garmin Connect Data Report 2025, masyarakat Indonesia memperlihatkan tren signifikan menuju gaya hidup yang lebih aktif dan sehat. Laporan tersebut mencatat bahwa aktivitas olahraga paling populer sepanjang tahun 2025 didominasi oleh lari, jalan kaki, bersepeda, strength training, dan indoor cardio. Dari berbagai jenis aktivitas tersebut, olahraga lari menempati posisi paling dominan dengan jumlah pengguna terbanyak, mencapai lebih dari 10,6 juta pengguna.

Angka ini menunjukkan bahwa lari telah menjadi pilihan utama masyarakat, baik karena kemudahannya, fleksibilitas waktu, maupun minimnya kebutuhan sarana dan prasarana.

Namun demikian, meningkatnya partisipasi masyarakat dalam olahraga—khususnya lari—tidak semata-mata didorong oleh kesadaran akan pentingnya kesehatan fisik. Di era media sosial, muncul motivasi tambahan yang tidak kalah kuat, yakni keinginan untuk mendapatkan pengakuan sosial dalam bentuk visual dan narasi digital. Medali finisher, sertifikat, serta dokumentasi aktivitas olahraga kini memiliki nilai simbolik yang tinggi. Medali tidak lagi hanya berfungsi sebagai penanda pencapaian fisik, tetapi juga merepresentasikan usaha, disiplin, dan konsistensi yang layak dibagikan kepada publik.

Di sinilah peran media sosial menjadi semakin signifikan. Fitur “story” pada platform seperti WhatsApp dan Instagram memungkinkan individu membagikan pengalaman berolahraga secara instan kepada lingkaran sosialnya. Foto medali, tangkapan layar jarak tempuh, catatan waktu pencapaian, hingga suasana garis finis menjadi konten yang kerap menghiasi story harian. Aktivitas ini menciptakan efek domino: satu unggahan dapat memotivasi orang lain untuk ikut berolahraga, mendaftar event, atau setidaknya memulai aktivitas fisik ringan.

Lebih jauh, fenomena mengolahragakan masyarakat melalui pendekatan visual dan simbolik seperti medali dan story menunjukkan adanya perubahan cara berkomunikasi dalam kampanye kesehatan.

Jika sebelumnya pesan hidup sehat disampaikan secara normatif melalui imbauan dan edukasi formal, kini pesan tersebut hadir dalam bentuk pengalaman personal yang dibagikan secara sukarela.

Ketika seseorang mengunggah story lari pagi atau memamerkan medali finisher, pesan yang tersampaikan bukan sekadar ajakan, melainkan bukti nyata bahwa olahraga dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa batasan usia maupun profesi.

Motivasi untuk memperoleh medali yang kemudian dibagikan melalui story digital ini mendapat dukungan kuat dari penyelenggara kegiatan olahraga. Berdasarkan data dari goodstats.id, sepanjang tahun 2025 tercatat lebih dari 600 event lari diselenggarakan di berbagai daerah di Indonesia.

Jumlah ini mencerminkan tingginya antusiasme masyarakat sekaligus besarnya peluang bagi event organizer dalam mengelola kegiatan olahraga massal. Event-event tersebut tidak hanya terpusat di kota-kota besar, tetapi juga mulai menjangkau daerah, sehingga akses masyarakat terhadap kegiatan olahraga menjadi semakin merata.

Fenomena ini patut dipandang sebagai tren positif dalam upaya mengolahragakan masyarakat. Event lari dan kegiatan olahraga massal lainnya secara tidak langsung membangun ekosistem gaya hidup aktif, mulai dari perencanaan latihan, kedisiplinan waktu, interaksi sosial antarpeserta, hingga kebanggaan personal saat mencapai garis finis. Medali berperan sebagai simbol konkret dari proses tersebut, sementara story di media sosial menjadi medium penyebaran semangat yang menjangkau khalayak luas.

Dari sudut pandang psikologis, kombinasi antara medali dan story memberikan efek penguatan perilaku yang signifikan. Medali menghadirkan rasa pencapaian (sense of achievement) yang nyata, sedangkan respons sosial di media sosial memberikan validasi dan apresiasi.

Tidak sedikit pelari pemula yang awalnya mengikuti event hanya untuk “ikut tren” atau sekadar ingin mendapatkan medali, namun dalam prosesnya berkembang menjadi individu yang lebih disiplin dan konsisten berolahraga. Dari sinilah kemudian terbentuk komunitas-komunitas olahraga yang solid, baik secara luring maupun daring.

Selain berdampak pada kesehatan masyarakat, penyelenggaraan event olahraga massal juga memberikan kontribusi ekonomi yang tidak kecil. Event lari melibatkan berbagai sektor pendukung, mulai dari industri apparel olahraga, perlengkapan lari, teknologi kebugaran, pariwisata, hingga usaha mikro di sekitar lokasi kegiatan.

Dengan ratusan event dalam satu tahun, olahraga tidak hanya berfungsi sebagai sarana kesehatan preventif, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal.

Ke depan, potensi pengembangan tren ini masih sangat besar. Upaya mengolahragakan masyarakat sebaiknya tidak hanya bertumpu pada event organizer. Perusahaan swasta dan sektor pemerintahan memiliki peran strategis untuk ikut berkontribusi melalui penyelenggaraan event olahraga yang inklusif dan berkelanjutan.

Kegiatan seperti fun run, jalan sehat, lomba bersepeda, atau olahraga komunitas yang disertai apresiasi berupa medali atau penghargaan simbolik dapat menjadi stimulus efektif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat.

Keterlibatan perusahaan dapat dikaitkan dengan program tanggung jawab sosial (CSR), sementara sektor pemerintahan dapat mengintegrasikannya dengan program kesehatan masyarakat dan pembangunan sumber daya manusia. Ketika kegiatan olahraga tersebut dibagikan melalui story oleh para peserta, dampak komunikasinya menjadi jauh lebih luas dan organik.

Pada akhirnya, tantangan ke depan bukan lagi bagaimana mengajak masyarakat untuk mulai berolahraga, melainkan bagaimana menjaga konsistensi dan keberlanjutan partisipasi tersebut. Medali dan story telah terbukti menjadi pemicu awal yang efektif.

Dengan dukungan ekosistem yang kuat—mulai dari penyelenggara, sponsor, pemerintah, hingga komunitas—olahraga dapat tumbuh sebagai budaya, bukan sekadar tren sesaat. Mengolahragakan masyarakat di era media sosial pun bukan hanya sebuah slogan, melainkan strategi nyata dalam membangun kualitas hidup bangsa secara berkelanjutan. (Muhamad Hanif Ramadhan MPd)

Penulis merupakan Dosen Program Studi Pendidikan Jasmani Universitas Siliwangi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *