RADAR TASIKMALAYA – Di bawah rindangnya pepohonan dan langit yang cerah, halaman SDN 2 Sukamaju kerap hidup oleh irama drum dan denting alat musik. Puluhan siswa duduk rapi membentuk lingkaran, mengenakan seragam batik khas sekolah bernuansa merah dengan corak kental Kota Tasikmalaya yang berpadu dengan kerudung putih bersih. Mereka adalah peserta ekstrakurikuler marching band, sebuah kegiatan yang sekilas tampak sederhana, namun sesungguhnya sarat makna Pendidikan.
Bagi kami di SDN 2 Sukamaju, marching band bukan sekadar kegiatan seni atau pengisi waktu sepulang sekolah. Ia adalah ruang belajar kehidupan. salah satu medium nyata untuk menghadirkan pendidikan yang utuh. Menyentuh ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik secara bersamaan.
Setiap pekan, anak-anak dilatih mengenal ritme, kekompakan, dan disiplin waktu. Dari memukul snare drum, memainkan bass, hingga membaca not-not sederhana, semua dilakukan dengan semangat dan keceriaan khas anak-anak.
Namun di balik itu, mereka sebenarnya sedang belajar hal-hal yang jauh lebih penting. Yang mana setiap ketukan drum ada nilai-nilai mendalam yang sedang ditanamkan secara mendasar. Satu kesalahan kecil dapat memengaruhi keseluruhan irama. Anak-anak pun belajar untuk saling mendengar, menyesuaikan diri dan menahan ego. Inilah pendidikan karakter yang tumbuh secara alami akan arti tanggung jawab, kerja sama, dan kepekaan sosial, bukan melalui ceramah panjang, melainkan melalui pengalaman nyata.
Pendekatan pembinaan dilakukan secara ramah dan edukatif. Guru dan pelatih tidak hanya mengoreksi, tetapi mendampingi. Anak-anak diberi ruang untuk bertanya, mencoba, bahkan salah, lalu memperbaikinya bersama. Suasana latihan pun terasa cair: serius dalam tujuan, namun tetap menyenangkan dalam proses. Di sinilah anak-anak belajar bahwa proses sama pentingnya dengan hasil. Dalam konteks kepemimpinan sekolah, inilah praktik servant leadership,pemimpin dan pendidik hadir untuk melayani proses belajar anak, bukan sekadar menuntut hasil. Suasana latihan pun terasa cair: serius dalam tujuan, menyenangkan dalam proses.
Apa yang kami rasakan di lapangan sejalan dengan pandangan para pakar pendidikan. John Dewey, filsuf pendidikan asal Amerika Serikat, menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah learning by doing, belajar melalui pengalaman langsung. Marching band memberi ruang bagi anak untuk belajar dengan tubuh, rasa, dan interaksi sosialnya. Anak tidak hanya berpikir, tetapi mengalami. Di sinilah sekolah menjalankan fungsinya sebagai ruang belajar kehidupan.
Howard Gardner, melalui teori Multiple Intelligences, juga mengingatkan bahwa kecerdasan tidak tunggal. Marching band memberi ruang bagi kecerdasan musikal, kinestetik, interpersonal, dan intrapersonal untuk tumbuh bersama. Tidak sedikit siswa yang mungkin tidak menonjol secara akademik justru menemukan kepercayaan dirinya ketika memegang alat musik. Anak yang awalnya pendiam, perlahan berani tampil. Musik menjadi jembatan ekspresi diri.
Dari perspektif pendidikan karakter, apa yang terjadi dalam marching band juga sejalan dengan gagasan Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan, menurut beliau, adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Dalam marching band, anak-anak dituntun, bukan dipaksa; diarahkan, bukan ditekan. Dalam konteks ini, kepemimpinan kepala sekolah bukanlah soal mengatur secara kaku, melainkan menuntun ekosistem sekolah agar memberi ruang tumbuh yang sehat bagi anak. Marching band hanyalah satu contoh kecil, namun ia menunjukkan bagaimana kebijakan sekolah dapat diterjemahkan menjadi praktik nyata yang bermakna.
Repertoar lagu yang dimainkan pun kami pilih dengan kesadaran pedagogis. Lagu nasional seperti Apuse dan Maju Tak Gentar, lagu daerah dan kearifan lokal seperti Mojang Priangan, lagu pramuka Di Sini Senang, di Sana Senang, lagu populer seperti Goyang Dumang, hingga lagu-lagu Islami seperti Sholawat Badar versi Mari Bershalawat aransemen Wali Band. Keragaman ini menjadi sarana menanamkan nilai kebhinekaan, cinta budaya dan toleransi sejak usia dini.
Sebagai kepala sekolah, meyakini bahwa pendidikan tidak boleh hanya mengejar capaian akademik. Anak-anak perlu tumbuh seimbang, cerdas secara intelektual, kuat secara karakter, dan matang secara sosial. Marching band menjadi salah satu ikhtiar kami untuk menghadirkan pendidikan yang utuh dan memanusiakan.
Bagi siswa SDN 2 Sukamaju, marching band bukan sekadar ekstrakurikuler. Ia adalah cerita tentang tumbuh bersama, tentang belajar menunggu, mendengar, dan menyesuaikan diri. Irama yang mengajarkan bahwa harmoni hanya lahir ketika setiap individu mau belajar menyesuaikan diri dan memainkan perannya dengan sepenuh hati.
Di tengah tuntutan pendidikan yang kerap terjebak pada angka dan capaian akademik, pengalaman ini mengingatkan kita bahwa sekolah adalah tempat membentuk manusia seutuhnya. Kepemimpinan kepala sekolah diuji bukan hanya dari kelengkapan administrasi, tetapi dari sejauh mana kebijakan dan budaya sekolah mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna.
Pada akhirnya, denting nada yang dipukul oleh tangan-tangan kecil itu adalah simbol harapan. Bahwa pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia, pelan, konsisten dan penuh irama. Di halaman sekolah sederhana inilah, pendidikan menemukan iramanya,pelan, konsisten, dan penuh harapan. Semoga. (Budiman MPd)
Penulis merupakan Kepala SDN 2 Sukamaju












