HPV DNA dan Gizi: Harapan Baru Cegah Kanker Serviks

Kesehatan12 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Kanker serviks tetap menjadi salah satu ancaman kesehatan serius bagi perempuan di Indonesia. Data pada tahun 2023 menunjukkan bahwa di Indonesia terjadi kasus kanker serviks sebesar 36.633 dengan angka kematian mencapai sekitar 21.000 per tahun.

Meski angka ini mengkhawatirkan, kemajuan ilmu pengetahuan memberikan harapan baru melalui dua pendekatan inovatif: pemeriksaan Human Papillomavirus Deoxyribonucleic Acid (HPV DNA) untuk deteksi dini dan optimalisasi asupan gizi untuk pencegahan.

Kombinasi kedua strategi ini terbukti mampu mengurangi risiko kanker serviks hingga 30 persen dan meningkatkan harapan hidup hingga 90 persen pada pasien stadium awal. Kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV), khususnya tipe HPV 16 dan 18 yang menyumbang sebanyak 70 persen pada kasus kanker serviks di dunia. Pemeriksaan HPV DNA merupakan terobosan baru dalam strategi pencegahan kanker serviks.

Tes HPV DNA adalah prosedur untuk mendeteksi infeksi virus HPV tipe risiko tinggi dengan mengambil sampel sel dari leher rahim (serviks) kemudian diperiksa di laboratorium untuk mendeteksi materi genetik virus.

Keunggulan utama tes HPV DNA terletak pada sensitvitasnya yang mencapai 73-96 persen dan nilai prediktif negatif 90-99 persen, melebihi kemampuan Pap smear yang hanya memiliki sensitivitas 30-64 persen. Salah satu keuntungan terbesar HPV DNA yaitu kemampuannya dalam mendeteksi virus sebelum munculnya perubahan seluler abnormal.

Dokter dapat mengidentifikasi risiko kanker pada tahap paling awal sehingga penanganan jauh lebih mudah dan efektif. Jika hasil pemeriksaan negatif, pasien dapat di periksa kembali dengan waktu 3-5 tahun sekali, sehingga mengurangi beban biaya medis dan ketidaknyamanan dibandingkan dengan Pap smear yang memerlukan pemeriksaan lebih sering.

Rekomendasi terbaru menyarankan bahwa semua wanita berusia 21 tahun ke atas sebaiknya melakukan skrining HPV DNA, terlepas dari status vaksinasi HPV dan riwayat aktivitas seksual. Pemeriksaan ini dapat dilakukan setiap 3-5 tahun dan terbukti efektif menurunkan insidensi kanker serviks hingga 30 persen serta meningkatkan harapan hidup penderita yang terdeteksi pada stadium awal hingga 90 persen. Tes HPV DNA sebagai deteksi dini merupakan strategi pencegahan primer paling efektif.

Selain deteksi dini, peran gizi tidak boleh diabaikan dalam pencegahan kanker serviks. Penelitian menunjukkan bahwa sistem imun yang kuat mampu melawan infeksi HPV dan mencegah perkembangan virus menjadi kanker.

Asupan gizi yang optimal dapat memperkuat sistem imun, meningkatkan kemampuan tubuh melawan infeksi, dan melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Berbagai kandungan zat gizi memiliki sifat spesifik sebagai antioksidan dan anti-inflamasi yang penting untuk pencegahan kanker serviks.

Sayuran hijau gelap seperti bayam, kale dan brokoli mengandung lutein, zeaxanthin, serta vitamin C dan E yang melindungi sel tubuh dari kerusakan. Buah-buahan berwarna cerah seperti jeruk, stroberi, dan mangga kaya akan vitamin C yang mendukung fungsi sistem imun. Folat atau vitamin B9 memiliki peran krusial dalam regenerasi dan perbaikan DNA. Kekurangan folat dapat meningkatkan risiko infeksi HPV.

Sumber alami folat meliputi kacang-kacangan, asparagus, alpukat, dan jeruk. Karotenoid dalam wortel, labu, dan ubi jalar, serta likopen dalam tomat, terbukti membantu menghambat pertumbuhan sel abnormal.

Vitamin D juga penting tidak hanya untuk kesehatan tulang tetapi juga untuk fungsi sistem imun. Ikan berlemak seperti salmon, tuna, dan mackerel kaya akan vitamin D. Flavonoid dari teh hijau, apel, anggur merah, dan cokelat hitam memiliki sifat anti-inflamasi yang membantu mengurangi peradangan kronis. Asam lemak omega-3 dari ikan berlemak dan chia seed juga memainkan peran penting dalam menekan peradangan.

Serat makanan membantu menjaga kesehatan pencernaan dan mendukung detoksifikasi tubuh. Konsumsi 30 gram serat per hari dari biji-bijian utuh, oatmeal, quinoa, dan kacang merah dianjurkan untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan dan tubuh secara keseluruhan.

Pencegahan kanker serviks melalui gizi, diperlukan pendekatan pola makan seimbang yang konsisten. Porsi makanan harus mencakup protein, serat, vitamin, dan mineral yang cukup. Perlu dihindari makanan olahan tinggi lemak trans, asupan gula berlebih, dan daging merah dalam jumlah besar karena dapat meningkatkan risiko kanker.

Penting juga untuk menjaga berat badan ideal dengan menghindari makan berlebihan, terutama makanan tinggi kalori. Mengurangi konsumsi alkohol dan menghindari kebiasaan merokok juga sangat penting karena keduanya dapat meningkatkan risiko kanker serviks hingga signifikan.

Pencegahan kanker serviks bukan hanya tanggung jawab institusi kesehatan, tetapi juga komitmen personal untuk menjalani hidup sehat. Pemeriksaan rutin dengan tes HPV DNA mulai usia 21 tahun, dan pola makan bergizi menciptakan pertahanan terhadap kanker serviks.

Harapan baru ini dapat menjadi kenyataan apabila masyarakat luas, terutama perempuan Indonesia, meningkatkan kesadaran tentang pentingnya vaksinasi, deteksi dini, dan gaya hidup sehat. Pemerintah, institusi kesehatan, dan seluruh lapisan masyarakat harus bersinergi untuk memberikan edukasi yang komprehensif dan akses yang mudah ke program pencegahan kanker serviks. Langkah-langkah ini, kita dapat mengurangi angka kejadian kanker serviks dan memberikan kehidupan yang sehat serta berkualitas bagi generasi perempuan Indonesia mendatang. (Yusrima Syamsina Wardani)

Penulis merupakan Dosen Prodi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Unsil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *