Ekonomi Popularitas: Ketika Selebgram Menjadi Aktor Utama Pasar Digital

Ekonomi66 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Dalam satu dekade terakhir, lanskap ekonomi mengalami perubahan yang sangat signifikan seiring dengan pesatnya perkembangan media sosial. Jika pada masa lalu aktor ekonomi utama didominasi oleh perusahaan besar, pemilik modal, serta institusi formal yang memiliki akses terhadap sumber daya dan jaringan luas, kini ruang ekonomi tersebut semakin terbuka dan diisi oleh individu-individu dengan basis pengikut digital yang kuat.

Media sosial telah mengubah cara nilai ekonomi diciptakan, didistribusikan, dan dikonsumsi oleh masyarakat. Dalam konteks ini, selebgram atau selebritas Instagram muncul sebagai simbol paling nyata dari perubahan struktur ekonomi tersebut.Selebgram tidak lagi dipandang semata-mata sebagai figur hiburan atau pencipta konten visual yang menarik.

Mereka telah menjelma menjadi aktor ekonomi yang memiliki daya tawar tinggi di pasar digital. Dengan kemampuan memengaruhi opini, selera, dan keputusan konsumsi pengikutnya, selebgram memainkan peran strategis dalam menghubungkan produsen dengan konsumen.

Bahkan, dalam banyak kasus, satu unggahan dari selebgram ternama mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih besar dibandingkan kampanye pemasaran konvensional yang membutuhkan biaya besar.

Popularitas dalam konteks media sosial pun tidak lagi hanya bermakna ketenaran atau pengakuan sosial, tetapi telah bertransformasi menjadi modal ekonomi yang bernilai nyata. Jumlah pengikut, tingkat keterlibatan atau engagement, serta citra personal yang dibangun secara konsisten menjadi aset yang dapat dikonversi menjadi pendapatan.

Melalui kerja sama endorsement, program afiliasi, kolaborasi dengan merek, hingga peluncuran produk pribadi, selebgram mampu menciptakan sumber penghasilan yang berkelanjutan. Fenomena ini menegaskan bahwa di era digital, perhatian publik dan kepercayaan audiens telah menjadi komoditas ekonomi yang sangat berharga.

Dalam kerangka ekonomi modern, fenomena ini menunjukkan pergeseran dari ekonomi berbasis aset fisik menuju ekonomi berbasis perhatian (attention economy).

Selebgram memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh iklan konvensional, yaitu kedekatan emosional dengan audiens. Pengikut merasa memiliki hubungan personal dengan figur yang mereka ikuti, sehingga rekomendasi produk sering kali diterima sebagai saran dari “teman” daripada pesan komersial.

Kondisi ini menjadikan selebgram sebagai alat pemasaran yang sangat efektif, bahkan mampu menggerakkan permintaan pasar dalam waktu singkat. Tidak mengherankan jika banyak pelaku usaha, terutama UMKM, bergantung pada jasa selebgram untuk memperluas jangkauan pasar mereka.

Namun, di balik efektivitas tersebut, muncul dinamika ekonomi yang patut dicermati secara kritis. Keputusan konsumsi yang didorong oleh popularitas sering kali bersifat emosional dan impulsif. Konsumen membeli bukan karena kebutuhan atau kualitas produk, melainkan karena dorongan untuk meniru gaya hidup selebgram yang mereka kagumi.

Dalam jangka panjang, pola ini berpotensi mendorong perilaku konsumtif dan mengaburkan prinsip rasionalitas ekonomi yang seharusnya menjadi dasar pengambilan keputusan.

Fenomena selebgram juga memperlihatkan ketimpangan baru dalam ekonomi digital. Hanya sebagian kecil individu dengan algoritma yang “berpihak” dan citra yang menarik yang mampu menikmati keuntungan besar, sementara mayoritas pengguna media sosial tetap berada pada posisi sebagai konsumen.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ekonomi digital sering dipersepsikan sebagai ruang yang demokratis, pada praktiknya tetap terjadi konsentrasi pengaruh dan pendapatan pada kelompok tertentu.A

spek lain yang tidak kalah penting adalah persoalan etika dan regulasi. Banyak promosi yang dilakukan selebgram tidak disertai dengan transparansi yang memadai. Batas antara konten personal dan iklan menjadi semakin kabur, sehingga konsumen sulit membedakan mana opini jujur dan mana pesan komersial.

Dalam perspektif ekonomi, kondisi ini berpotensi menciptakan asimetri informasi yang merugikan konsumen.Di sisi lain, peran selebgram tidak sepenuhnya harus dipandang secara negatif. Fenomena ini juga membuka peluang ekonomi baru, khususnya bagi generasi muda. Media sosial menyediakan ruang bagi siapa saja untuk membangun merek personal tanpa harus memiliki modal besar.

Kreativitas, konsistensi, dan kemampuan membaca tren menjadi faktor produksi baru dalam ekonomi digital. Dalam konteks ini, selebgram mencerminkan bentuk kewirausahaan modern yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.Tantangannya adalah bagaimana memastikan bahwa peluang tersebut diimbangi dengan literasi ekonomi dan digital yang memadai.

Tanpa pemahaman yang baik, generasi muda berisiko terjebak pada ilusi kesuksesan instan, tanpa menyadari proses panjang dan ketidakpastian yang menyertainya. Selain itu, diperlukan kesadaran bahwa tidak semua popularitas dapat bertahan lama, sehingga pengelolaan keuangan dan perencanaan jangka panjang menjadi aspek krusial.

Peran pemerintah dan institusi pendidikan menjadi sangat penting dalam merespons fenomena ini. Regulasi yang jelas terkait iklan digital, perlindungan konsumen, serta kewajiban transparansi promosi perlu diperkuat.

Sementara itu, pendidikan ekonomi harus mulai memasukkan konteks ekonomi digital dan media sosial agar masyarakat mampu menjadi konsumen yang kritis dan produsen yang bertanggung jawab.Pada akhirnya, selebgram adalah refleksi dari perubahan struktur ekonomi di era digital.

Mereka hadir sebagai simbol ekonomi berbasis pengaruh, kepercayaan, dan perhatian publik. Tantangan ke depan bukanlah menolak keberadaan selebgram dalam sistem ekonomi, melainkan memastikan bahwa pengaruh yang mereka miliki digunakan secara etis dan produktif.

Dengan demikian, ekonomi popularitas tidak hanya menguntungkan segelintir individu, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat secara luas. (Monika Sutarsa)

Penulis merupakan Dosen Program Studi Manajemen Universitas Siliwangi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *