Dari Detak Festival Musik, Mengalir Denyut Pariwisata Kota

Pariwisata71 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Beberapa hari terakhir, ruang informasi kita seolah dipenuhi oleh kemeriahan sebuah festival. Potongan video panggung, kerumunan penonton, penampilan musisi, aktivitas komunitas, hingga berbagai cerita dari dalam dan sekitar Pestapora 2026 berseliweran di media sosial dan pemberitaan. Festival yang berlangsung di Jakarta pada 25–27 September 2026 tersebut menghadirkan ratusan penampil dalam berbagai ruang pertunjukan, menjadikan musik bukan sekadar tontonan, tetapi sebuah pengalaman yang memenuhi ruang fisik sekaligus ruang digital. Di balik kemeriahan itu, ada fenomena yang menarik untuk dilihat lebih jauh: ketika ribuan orang bergerak menuju sebuah festival, yang bergerak sesungguhnya bukan hanya manusia, tetapi juga pemasukan, konsumsi, kreativitas, komunitas, dan identitas budaya. Dari sinilah pertanyaan tentang festival musik dan pariwisata perkotaan menjadi menarik: ketika sebuah festival menghadirkan keramaian ke dalam kota, sejauh mana keramaian tersebut menciptakan sirkulasi ekonomi dan sekaligus memberi ruang bagi kebudayaan kota untuk hidup?

Di sebuah kota, festival musik biasanya dimulai dari panggung. Namun dampaknya tidak pernah berhenti di panggung. Ketika ribuan orang datang untuk menonton musisi favoritnya, pada saat yang sama terjadi pergerakan transportasi, hotel, restoran, kedai kopi, pedagang makanan, pelaku ekonomi kreatif, pekerja seni, hingga usaha kecil di sekitar lokasi acara. Dana yang dibelanjakan penonton kemudian berputar melalui berbagai sektor ekonomi kota. Karena itu, festival musik sesungguhnya dapat dibaca lebih luas sebagai bagian dari pariwisata perkotaan. Dalam perspektif ini, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat sebuah pertunjukan. Mereka datang, tinggal, makan, berbelanja, berinteraksi, menikmati ruang kota, dan pada saat tertentu mengenali kebudayaan lokal. Fenomena tersebut menarik untuk dilihat di Kota Tasikmalaya.

Salah satu contoh yang cukup menonjol adalah Ruang Bermusik. Festival ini telah berlangsung secara berkelanjutan sejak 2022 dan kembali hadir pada 2023, 2024, hingga 2025. Pemberitaan mengenai acara tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat perubahan pada daftar penampil, antusiasme penonton tetap tinggi dan ribuan orang hadir dalam festival. Rangkaian tersebut memperlihatkan satu hal penting: festival musik telah menjadi aktivitas berulang dalam ruang perkotaan Tasikmalaya. Di sinilah festival musik mulai memiliki relevansi dengan pariwisata.

Orang yang datang dari luar kota membutuhkan transportasi. Sebagian membutuhkan akomodasi. Mereka mencari makan, membeli minuman, menggunakan jasa transportasi lokal, berbelanja, dan mungkin mengunjungi tempat lain sebelum atau setelah festival. Dengan demikian, arus pengunjung festival berpotensi berubah menjadi arus ekonomi perkotaan.

Sudah tepatkah jika melihat keberhasilan festival berhenti pada pertanyaan berapa banyak penonton yang hadir? Jumlah penonton memang penting, tetapi bagi pariwisata perkotaan terdapat pertanyaan yang lebih jauh. Misalnya, berapa banyak yang berasal dari luar kota? Berapa lama mereka tinggal? Di mana mereka menginap? Berapa nilai yang mereka belanjakan? Apakah mereka makan di usaha lokal? Apakah mereka mengunjungi destinasi lain? Apakah mereka membeli produk ekonomi kreatif? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita dari event management menuju tourism impact assessment.

Penelitian mengenai dampak event pariwisata menunjukkan bahwa pengukuran keberlanjutan tidak seharusnya dibatasi pada dampak ekonomi. Dampak sosial-budaya dan lingkungan juga perlu diperhitungkan. Andersson dan Lundberg, misalnya, mengembangkan pendekatan penilaian dampak ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan pada sebuah festival musik. Artinya, festival yang ramai belum tentu secara otomatis menjadi festival yang berkelanjutan. Yang lebih penting adalah apa yang berputar di dalam kota setelah festival berlangsung.

Di sinilah kebudayaan menjadi penting. Jika festival hanya mendatangkan musisi nasional, menjual tiket, kemudian penonton pulang, maka kota pada dasarnya hanya berfungsi sebagai lokasi penyelenggaraan.

Tetapi apabila festival menghadirkan musisi lokal, kesenian tradisional, kuliner khas, kerajinan, komunitas, cerita sejarah, dan identitas lokal, maka festival mulai berfungsi sebagai ruang kebudayaan. Ruang Bermusik memberikan indikasi ke arah tersebut. Pada penyelenggaraan 2022, misalnya, terdapat penampilan Karinding Sadulur dan Gamelan Awi. Pada penyelenggaraan berikutnya, unsur industri kreatif, pegiat seni, kuliner, dan kearifan lokal juga menjadi bagian dari festival. Model seperti ini penting karena kebudayaan bukan sekadar ornamen yang ditempelkan pada sebuah festival. Kebudayaan dapat menjadi sumber pengalaman wisata. Wisatawan tidak hanya bertanya, “Siapa yang tampil?”, tetapi juga dapat menemukan jawaban atas pertanyaan: “Apa yang membuat festival ini hanya bisa saya alami di kota ini?” Pertanyaan terakhir merupakan pertanyaan penting dalam pengembangan pariwisata perkotaan.

Fenomena tersebut terlihat lebih besar dalam Pestapora 2026, yang berlangsung 25–27 September 2026 di Gambir Expo dan Hall D2 JIEXPO Jakarta. Pestapora 2026 menghadirkan 330 penampil dalam 19 area pertunjukan selama tiga hari. Konsep One Stop Celebration membuat festival tidak sekadar menjadi rangkaian konser, tetapi sebuah ruang yang menggabungkan musik, komunitas, kreativitas, dan berbagai aktivitas pengunjung.  Menariknya, ekosistem ekonomi juga menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Dukungan terhadap UMKM, produk lokal, tenant makanan dan minuman, serta transaksi digital menunjukkan bagaimana festival dapat menjadi ruang pertemuan antara industri musik dan ekonomi lokal. Dalam skala tertentu, festival bahkan dapat dipahami sebagai “kota sementara”.

Di dalam “kota sementara” tersebut terdapat panggung sebagai ruang publik, tenant sebagai ruang ekonomi, komunitas sebagai ruang sosial, seniman sebagai produsen budaya, dan pengunjung sebagai konsumen sekaligus partisipan. Konsep ini memperlihatkan bahwa festival dapat menjadi urban creative space.

Jika festival hendak ditempatkan dalam kerangka pariwisata perkotaan berkelanjutan, maka ukuran keberhasilannya perlu diperluas. Melalui pola: ramai → ekonomi lokal bergerak → budaya lokal hadir → masyarakat memperoleh manfaat → lingkungan dikelola → identitas kota semakin kuat.

Kajian mengenai festival dan pembangunan kota berkelanjutan menunjukkan bahwa festival dapat menjadi ruang integrasi antara warisan budaya berwujud dan tidak berwujud dengan kehidupan kota. Festival dapat menghubungkan sejarah, pengalaman, makna, dan proses pembangunan kota.  Sementara itu, penelitian mengenai keberlanjutan festival budaya menempatkan lingkungan, sumber daya, kebutuhan wisatawan, serta dimensi ruang dan waktu sebagai bagian dari evaluasi keberlanjutan festival. Dengan demikian, keberlanjutan festival bukan hanya persoalan berapa banyak sampah yang dihasilkan atau berapa banyak energi yang digunakan.

Bagi Kota Tasikmalaya, pertanyaan ini menjadi relevan. Tasikmalaya memiliki modal budaya yang dapat diintegrasikan ke dalam festival music melalui seni pertunjukan, musik tradisional, kerajinan, bordir, payung geulis, kuliner, komunitas kreatif, hingga cerita mengenai sejarah dan identitas masyarakat kota. Budaya lokal tidak perlu dipertentangkan dengan festival musik yang menampilkan musik popular maupun gaya popular art. Justru keduanya dapat dipertemukan. Bayangkan sebuah festival yang menghadirkan musisi nasional pada malam hari, tetapi sejak siang pengunjung dapat menikmati pertunjukan seni lokal, mencoba kuliner Tasikmalaya, melihat demonstrasi kerajinan, mengikuti lokakarya budaya, membeli produk UMKM, dan berinteraksi dengan komunitas setempat. Dalam skenario seperti itu, festival bukan hanya mendatangkan penonton, tetapi mendatangkan wisatawan ke dalam ekosistem kebudayaan kota.

Maka hubungan festival dengan kota sangat memiliki ruang bersama pada cerita, kuliner, komunitas, seni, kerajinan, karakter ruang, dan pengalaman budaya lokal. festival musik menjadi bagian dari identitas kota. Di sinilah konsep Sustainable Urban Creative Tourism menemukan relevansinya. Festival menjadi ruang pertemuan antara: musik + kreativitas + pengalaman + budaya lokal + ekonomi lokal + ruang kota.

Pada akhirnya, nilai festival bagi pariwisata perkotaan tidak berhenti pada pendapatan. Terdapat economic circulation, ketika pengeluaran pengunjung bergerak dari penyelenggara menuju hotel, transportasi, restoran, UMKM dan sektor lainnya. Ada pula cultural circulation, ketika nilai budaya berpindah dari komunitas kepada pengunjung, kemudian direproduksi melalui pengalaman, cerita, karya kreatif, dan konsumsi produk lokal. Keduanya harus berjalan bersama.

Sebab pariwisata perkotaan yang berkelanjutan bukan sekadar tentang membuat orang datang ke kota. Lebih jauh dari itu, ia berbicara mengenai bagaimana orang datang, apa yang mereka alami, siapa yang memperoleh manfaat, kebudayaan apa yang mereka kenali, dan nilai apa yang mereka bawa pulang. Ruang ekonomi, ruang sosial, ruang kreativitas, dan ruang kebudayaan.

Bagi Kota Tasikmalaya, keberlanjutan festival dapat menjadi peluang untuk membangun hubungan yang lebih erat antara musik, ekonomi kreatif, UMKM, komunitas, dan identitas budaya lokal. Dengan demikian, cita-cita yang lebih besar bukan sekadar membuat festival musik di Tasikmalaya, melainkan membuat festival yang ketika orang datang untuk musik, mereka pulang dengan pengalaman tentang Tasikmalaya. Dan ketika nilai ekonomi bergerak melalui festival, nilai kebudayaan pun ikut bergerak dan tetap hidup di dalam kota. (Muhammad Indra Gunawan)

Penulis adalah Dosen Bisnis Pariwisata, Fakultas Vokasi, Universitas Mayasari Bakti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar