Melatih Berpikir Kritis untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Nasional

Pendidikan32 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Pola pikir atau sering disebut juga dengan mindest, adalah sekumpulan asumsi atau gagasan yang dipegang oleh satu orang atau sekelompok orang. Pola pikir juga disebut sebagai suatu pandangan seseorang terhadap hal yang dihadapinya. Pola pikir juga merupakan cara menilai seseorang, cara memeberikan gagasan dan pemikiran seseorang. Dalam konteks pola pikir, terdapat berbagai macam pola pikir. Manusia memiliki pola pikir yang berbeda satu sama lainya. Wajar jika sering terjadi perdebatan. Diskusi-diskusi menunjukkan bahwa pola pikir setiap manusia itu berbeda. Mereka memiliki asumsi dan argumentasi masing-masing.

Fakta bahwa pola pikir kritis mampu meningkatkan kualitas seseorang, bahkan kualitas dunia pendidikannya. Penguatan budaya pikir menjadi urgen untuk membangun sumber daya manusia yang unggul. Sayangnya, tidak semua orang mampu mencoba dan belajar berpikir kritis, padahal pola pikir kritis itu akan berdampak pada kualitas kehidupan sekarang dan akan datang. Pendidikan nasional harus mampu menghantarkan manusia yang bisa bersaing secara global.

Para pakar pendidikan unjuk bicara. Muhibbin Syah (dalam Abidah, 2016: 1) merumuskan pendidikan sebagai suatu proses yang dilalui orang dengan metode-metode tertentu untuk memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku sesuai kebutuhannya. Pendidikan bertujuan mengarahkan manusia ke arah hidup yang lebih baik. Sementara Sarjono (2017: 343) berpendapat, pendidikan bertujuan untuk menyiapkan peserta didik agar mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Di sekolah, para peserta didik dibantu untuk membiasakan berpikir kritis dan dilatih mengembangkan potensi, sehingga ke depan, mereka bisa memenuhi sendiri kebutuhannya dan mengatasi semua permasalahan hidupnya. Peserta didik harus melewati proses pendidikan yang tidak hanya memahami pelajaran di sekolah, tetapi juga harus memahami aktivitas sosial di sekitarnya. Mereka harus mampu menghubungkan nilai-nilai yang dipelajarinya di bangku sekolah dengan kemampuan hidup bermasyarakat. Selain hard skills dan soft skills, mereka juga harus memahami dan membiasakan life skills. Tak kalah dari semua itu, mereka dilatih untuk berpikir kritis, di kelas maupun di luar kelas.

Upaya meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan cara meningkatkan kualitas SDM sehingga terwujud kualitas yang berdaya saing. Meningkatkan kualitas SDM difokuskan, di antaranya bagaimana mereka memiliki pola pikir kritis. Terutama di era global dan digital sekarang ini, tak hanya kemampuan kognitif yang diperkuat, tapi mereka harus memahami nilai dan pesan di balik setiap peristiwa kehidupan. Dengan itu mereka tahu apa yang seharusnya dipikirkan dan solusi apa yang bisa mereka simpulkan. Mereka harus mampu bersaing di era yang membutuhkan solusi, bukan malah menjadi produsen masalah.

Berpikir kritis merupakan sebuah kemampuan dalam menganalisis ide yang spesifik atau pengetahuan yang relevan pada dunia yang menuntut evaluasi sekaligus bukti. Untuk mengidentifikasi dan memahami permasalahan, lalu mencari solusinya, dibutuhkan pola pikir yang terfokus dan terlatih. Pendidikan diarahkan utuk menjadi bagian yang inheren dengan kehidupan nyata. Jika kita mengonsumsi berbagai informasi yang masuk, tanpa filter dan kemampuan membedakan mana yang benar dan salah, mana yang fakta dan mana yang hoaks, kita menjadi korban dari derasnya informasi ini. Teknologi yang terus berkembang harus diadaptasi, di antaranya dengan memperkuat pola pikir agar setiap informasi bisa menambah pengetahuan.

Sebagai generasi muda, kita harus bisa memilah dan memilih informasi. Overload informasi saat ini harus menjadi bahan pemikiran para stakeholder dunia pendidikan. Generasi muda bukan hanya perlu diselamatkan, tapi juga harus dilatih menjadi serdadu dalam mendampingi masyarakat agar mereka bisa menjadikan setiap informasi sebagai pengetahuan yang bisa menaikkan taraf keilmuan dan indeks keilmuan. Maka di sinilah pola pikir kritis harus diterapkan. Generasi muda yang cerdas akan mampu menjadi faktor terpenting dalam memagari Indonesia dari serangan informasi salah dan informasi negatif yang bisa merusak budaya, dunia pendidikan, dan masa depan negara.

Ada beberapa cara bagaimana melatih dan menerapkan pola pikir kritis. Di antaranya mendorong peserta didik untuk bisa menjelaskan sesuatu. Hal ini bertujuan untuk memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan penalaran mereka untuk memberikan penjelasan serta alasan untuk membuat kesimpulan tentang suatu hal. Cara lainnya adalah melatih mereka agar mampu memberi komentar dan mengajukan pertanyaan sebagai respons pada sebuah peristiwa. Hal seperti ini bisa memperkuat kepekaan mereka pada kehidupan dan peristiwa yang terjadi. Mereka juga harus didorong agar dapat membangun hipotesis. Hal lainnya adalah mendorong mereka untuk dapat melakukan evaluasi. Dorongan ini dilakukan dan bertujuan agar peserta didik dapat mengemukakan pendapat mereka sendiri tentang berbagai objek, peristiwa, ataupun pengalaman. Mereka harus dilatih dan dilibatkan dalam mengevaluasi sebuah peristiwa.

Ketika pola pikir kritis sudah diterapkan oleh generasi muda, hal ini akan mewujudkan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Generasi yang berkualitas harus memiliki pola pikir yang kritis. Ke depan kita akan menyaksikan generasi muda kita yang pandai dalam memilah dan memilih informasi, mempertanyakan kebenaran dari hal-hal yang terjadi, generasi yang mampu menyampaikan solusi dari setiap kejadian dan permasalahan yang mengemuka. Dengan demikian, kualitas pendidikan akan meningkat dan berdampak.

Lidya Lestari

Alumnus Prodi Pendidikan Agama Islam UNIK Cipasung

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *