UNIK Cipasung Menuju Kampus Slow Academia

Pendidikan21 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Konflik sosial belakangan tentang bagaimana peran kampus di masyarakat menjadi sebuah pembicaraan di banyak tempat. Ini tidak tentang bagaimana kampus sukses menenmpatkan ilmu pengetahuan di lingkungannya. Ini kembali ke titik awal. Kampus mulai lupa tujuan mulia adanya kampus, untuk membangun ruang peradaban dan ruang empati ke masyarakat. Hari ini tidaklah sedikit kampus sibuk dengan kerjaan yang itu-itu saja mengurus administrasi, akreditasi, hingga kegiatan yang kurang berdampak untuk masyarakat, kampus terjebak pada kegiatan itu.

Kenyataan inilah yang harus diterima masyarakat di mana kampus sibuk dengan lingkungannya. Banyak timbul tanya di masyarakat, bagaimana peran kampus dalam penyebaran ilmu pengetahuan di masyarakat, dan apakah peran itu masih ada, mengingat hari ini kampus sudah kaku terhadap masyarakat.

Amanat masyarakat kepada kampus ialah bagaimana pengabdian, penelitian, dan pengajaran di perguruan tinggi berjalan dengan baik. Hari ini ada dua poin. Pertama, sudah minim dilakukan pengabdian dan penelitian oleh kampus di masyarakat. Kalau pun ada hanya sebagai seremonial tanpa kegiatan yang sifatnya keberlanjutan. Kampus sudah cukup lelah dengan berbagai aturan yang harus dilaksanakan.

Dampak dari kegiatan semua harus cepat dan tepat. Kampus mulai kehilangan kepekaan dalam melihat, berpikir kritis, dan bagaimana merespon berbagai masalah kronis di masyarakat di era modern saat ini. Hal ini sudah terlalu jauh sehingga lama-kelamaan semakin memudar. Contoh kecil saja, kampus hanya diam saat melihat masalah sampah. Kampus hanya diam melihat tingginya kasus KDRT. Kampus hanya jadi penonton ketika banyak isu pengelolaan lingkungan yang jadi bencana. Kampus hanya diam ketika anak-anak Indonesia dieksploitasi. Hingga persoalan serius tentang bangsa dan negara yang kian jauh dari adab publik, kampus sering kali hadir sebagai penonton yang tertib, bukan sebagai penyambung suara nurani.

Hari ini keberadaan kampus cenderung bergerak ke dalam, yaitu bekerja untuk memberikan pengakuan ke diri sendiri. Alih-alih bekerja untuk membangun suatu peradaban berkualitasi di era manusia yang serba ditunjang dengan teknologi, seperti memberikan advokasi ke masyarakat. Akhirnya kesadaran empati lingkungan jadi memudar dan yang muncul ialah bagaimana hal-hal yang bersifat administratif menjadi tujuan utama.

Dampaknya, akademisi saat ini mudah kelelahan. Adanya semacam kematian bersama bagi dunia perguruan tinggi. Berbagai persoalan sama sekali tak menarik, apalagi bermakna penting untuk dijadikan empati, hingga menjadi rencana kinerja keilmuan. Karena permasalahan yang ada di masyarakat memang membutuhkan empati, keinginan dalam membaca, kedalaman dalam melakukan lamunan untuk masyarakat, ini semua dibutuhkan untuk memiliki rasa untuk menentang hal-hal yang itu-itu saja dan menuntut semua hal menjadi serba instan.

REALITAS KAMPUS DI TASIKMALAYA

Sebelum kita melihat realitas kampus di Tasikmalaya, ada baiknya kita melihat bagaimana kampus di luar Tasikmalaya dan bagaimana kampus luar negeri bekerja untuk masyarakat. Misalnya kampus yang ada di India, Malaysia, Singapura, Hingga Amerika Serikat. Setiap kampus selalu melibatkan masyarakat dalam hal memberdayakan masyarakat lewat riset yang berdampak, serta mengadvokasi masyarakat secara langsung.

Ini juga sejalan dengan kampus ternama di Indonesia. Sebut saja Universitas Gadjah Mada yang merupakan kampus berbasis riset masyarakat langsung. Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Universitas Gadjah Mada yang berfokus tidak hanya di Pulau Jawa, tapi di seluruh Indonesia dengan mengirimkan mahasiswanya ke seluruh pelosok Indonesia, untuk memberikan advokasi pada rakyat Indonesia.

Di Tasikmalaya, lingkungan akademik seperti itu masih terasa kurang dan masih sibuk mengurusi persoalan internal kampus, serta masih sibuk dalam tata kelola kampus. Sejauh pengamatan penulis, tidak sedikit kampus di Tasikmalaya belum bekerja sama dengan pemerintah dalam menyelesaikan masalah di masyarakat. Ada satu kampus, di Kabupaten Tasikmalaya yang hari ini mulai membangun kesadaran bagaimana berpartisipasi dalam rangka mengwujudkan visi pemerintah yaitu kampus Universitas Islam KH. Ruhiyat Cipasung atau UNIK Cipasung.

UNIK KAMPUS SLOW ACADEMIA

Kampus UNIK Cipasung merupakan kampus berbasis Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) yang hari ini membangun kesadaran tentang bagaimana kampus aktif menyejahterakan masyarakat dan menjawab masalah-masalah yang ada di masyarakat. Langkah kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dan praktik lapangan dibuktikan dengan program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) tahun 2026 yang membawa misi sesuai dengan misi Kabupaten Tasikmalaya, “KKNT UNIK Bersinergi Menuju Kabupaten Tasikmalaya Religius/Islami, Adil, Makmur”.

Dengan ini kampus UNIK memulai langkah menjadi contoh kampus yang membangun kesadaran bahwa perguruan tinggi merupakan pusat transfer keilmuan untuk peradaban manusia yang lebih luas, tidak sebatas di lingkungan kampus.

Konsep “Kampus Slow Academia” ada di UNIK Cipasung menemukan relevansi dan urgensinya. Gagasan ini sama sekali bukan menolak ajakan kinerja yang cepat dan akuntabilitas. Tetapi lebih merupakan sebuah undangan kesadaran bahwa perguruan tinggi membangun hubungan emosinal yang baik ke masyarakat. Slow Academia hendak meneguhkan ulang bahwa kepekaan intelektual dan moral bisa tumbuh subur tanpa ritme yang terlalu buru-buru.

Di sini UNIK meneguhkan lagi kepekaan intelektual dan moral, dalam rangka membangun Kabupaten Tasikmalaya menuju masyarakat sejahtera, Makmur, dan memiliki nilai-nilai religiusitas yang baik.

UNIK Cipasung sebagai kampus slow academia merupakan contoh bahwa perguruan tinggi seharusnya mulai membuka diri untuk masyarakat, bukan sekadar membangun budaya kerja yang serba cepat. Langkah tepat diambil kampus UNIK Cipasung, yaitu tetap menjaga nurani moral kampus untuk masyarakat Kabupaten Tasikmalaya.

Rico Ibrahim

Dosen Fakultas Dakwah UNIK Cipasung

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *