Mewujudkan Harapan dengan Keseriusan

Ragam Opini104 Dilihat

RADAR TASIKMALAYA – Segala bentuk harapan, ternyata tidak cukup hanya dengan keinginan. Tapi memerlukan usaha nyata untuk mewujudkannya. Sejak bersekolah di tingkat sekolah menengah pertama (SMP), saya selalu memiliki harapan untuk bisa bercita-cita tinggi dan menjadi seorang penulis. Namun, saya memiliki banyak ketakutan dan tidak pernah cukup serius untuk benar-benar mewujudkannya. Bukan karena tidak percaya pada diri, tapi karena saya sering merasa takut bahwa harapan itu terlalu besar dan tak mampu mencapainya.

Ketakutan sering kali menjadi penghambat kemajuan hidup. Tak ada salahnya dengan itu, karena kita memang manusia yang punya kelemahan. Tapi mau sampai kapan rasa takut itu menghantui. Padahal manusia diberi masing-masing kemampuan untuk bisa bermanfaat di bumi ini, karena manusia diciptakan untuk menjadi khalifah. Dalam berbagai rasa takut, ada satu kalimat yang menguatkan saya dalam mewujudkan mimpi: “Keseriusan bisa menghadirkan rida-Nya Allah. Walau usaha kita baru 10%, yang 90% sisanya akan Allah bantu”, begitulah pesan dari Dr. Faharuddin Faiz, sosok ahli tasawuf yang kata-katanya selalu sampai di hati. kalimat itu membuat saya yakin bahwa apa pun ketakutan dan kelemahan kita, pasti Allah akan cover dengan kuasa-Nya yang lebih besar. Allah akan membantu mewujudkan mimpi kita. Namun apakah kita benar-benar serius berusaha untuk mewujudkannya?

Merawat mimpi dengan langkah-langkah kecil menjadi prinsip saya dalam mewujudkannya. Sebagai langkah awal, saya mulai serius untuk membaca buku-buku dan bacaan di internet. Memberi catatan, menerjemahkan kata-kata yang tidak saya pahami, dan berusaha mengaplikasikan ilmunya. Lewat membaca, saya menemukan banyak kata, diksi, dan sudut pandang. Itulah bagian paling menyenangkan. Ketika seseorang menjadi kaya akan banyak kata untuk dituangkan dalam sebuah tulisan.

Langkah selanjutnya, saya mulai mengikuti seminar-seminar keilmuwan, baik secara online maupun offline. Pada awalnya, saya hanya menjadi peserta seminar yang pasif yang sekedar memperhatikan bagaimana orang lain menyampaikan ide. Hingga suatu hari, sebuah seminar bisa membuat saya menjadi peserta aktif. Membuka mata saya dan menyadarkan bahwa saya bisa menulis. Yaitu saat mengikuti seminar latihan kepenulisan offline yang diadakan oleh Pondok Pesantren Cipasung. Seminar itu diisi oleh para redaktur terkenal. Mereka mengajarkan bagaimana menulis opini, berita, dan cerpen sekaligus meminta peserta mempraktikkan penulisan secara langsung.

Sejak saat itu, saya mulai berani menulis setiap ide yang muncul. Saya belajar percaya diri dan mempercayakan kepada Allah agar tulisan saya dapat bermanfaat bagi orang lain. Karya tulis pertama saya, Alhamdulillah, telah diterbitkan menjadi sebuah buku sederhana berjudul ”Tuhan, jangan biarkan aku sendiri”, sebuah buku yang berasal dari segala rasa takut, hampir menyerah, dan putus asa.

Tak berhenti pada pencapaian tersebut, saya mencoba melatih diri menyampaikan ide dalam bentuk esai. Tujuannya saat itu, untuk mengikuti perlombaan esai mahasiswa tingkat nasional di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat. Dengan kemampuan seadanya, saya mencoba menekuni lomba ini, sedikit demi sedikit, meski terkadang sulit. Saya tetap memegang prinsip bahwa Allah akan membantu kita, saat kita benat-benar serius untuk mewujudkannya.

Dari tujuh subtema yang ditawarkan panitia, perhatian saya tertuju pada bidang kesehatan dan gizi. Alasannya karena saat itu sedang membaca buku karya Catherine De Lange berjudul “Brain Power”. Buku yang menjelaskan bagaimana kekuatan otak dan pengaruhnya terhadap kesehatan sistem pencernaan kita (usus). Sebagai mahasiwa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), ilmu kesehatan merupakan warna baru bagi saya. Menyadarkan bahwa tak hanya kebersihan hati yang perlu dijaga dari macam penyakit hati, tapi juga ada tubuh yang sama pentingnya untuk kita jaga agar bisa menjalani kehidupan dengan baik.

Dalam esai tersebut, saya menawarkan edukasi gizi berbasis media sosial sebagai solusi untuk mendukung kegiatan program MBG dari pemerintah. Dengan mengambil topik utama mengenai Gut-Brain Axis atau sumbu usus-otak, konsep yang belum banyak dikenal masyarakat Indonesia. Bahwa kesehatan pikiran bisa memengaruhi usus kita, begitu pun sebaliknya. Selama ini, banyak dari kita hanya mengetahui bahwa kesehatan gizi hanya berdampak pada fisik, padahal banyak penelitian menunjukkan bahwa kesehatan gizi bahkan bisa memengaruhi fungsi otak, contohnya seperti penurunan IQ dan gangguan memori kerja. Karena itu, dalam esai saya menekankan bagaimana pentingnya peduli terhadap pola makan bergizi seimbang, bukan hanya untuk fisik tapi juga untuk fungsi kognitif manusia. Pada perlombaan ini juga saya mencoba mengimplementasikannya dengan membuat akun instagram @giziinmind.id.

Alhamdulillah, esai saya mendapat penghargaan berupa medali emas. Keberhasilan itu tidak berarti apa-apa, jika tanpa rida dan bantuan Allah serta keseriusan kita dalam melangkah. Dari perjalanan ini, saya semakin menyadari bahwa untuk mewujudkan harapan diperlukan keseriusan dan usaha besar, agar rasa ingin tidak berakhir hanya sebagai angan.

Nida Sirmawati

Mahasiswa Prodi PAI UNIK Cipasung

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed