Ramadan, Kasih Sayang Allah bagi Hamba-Nya

Ragam Opini14 Dilihat

oleh: Dr. H. Acep Zoni Saeful Mubarok, M.Ag.

MANUSIA diciptakan oleh Allah untuk beribadah dan menjaga serta memakmurkan bumi ini dengan sebaik-baiknya.  Semua yang terhampar di bumi ini diperuntukan untuk kesejahteraan manusia (Q.S. 2: 29). Namun, di tengah-tengah amanah mulia yang diemban, manusia memiliki kelemahan yang kadang membuatnya mudah berkeluh kesah dan berputus asa (Q.S. 70: 19-21). Bahkan lebih dari itu manusia seringkali berpaling dan ingkar atas nikmat yang dikaruniakan kepada mereka.

Agar manusia menjalani hidup dengan baik dan sejahtera, Allah memberikan jalan yang terbaik. Dengan jalan itu, manusia akan meraih kebahagiaan, keselamatan, kesuksesan (Q.S. 2: 5), kemudahan dalam berbagai hal serta kecukupan finansial (Q.S. 65: 2-3), bahkan saat menghadapi persoalan akan diberi jalan keluar (problem solving) yang jitu (Q.S. 65: 4). Ini merupakan harap semua manusia di dunia. Jalan yang mengantarkan ke sana adalah takwa. Dengan takwa apa yang didamba dan diharap manusia lebih mudah diraih tidak hanya di dunia tetapi juga hingga akhirat.

Allah dan rasul-Nya senantiasa menyeru ketakwaan dalam berbagai kesempatan di manapun berada, terutama ketika manusia berkumpul seperti saat jumat maupun perayaan-perayaan lainnya. Seruan ini menegaskan betapa pentingnya ketakwaan tersebut. Tujuan akhirnya jelas, Allah menginginkan manusia agar hidup di dunia dan akhirat dengan kesuksesan dan kebahaagian. Manusia dengan segala kelemahannya akan menjadi kuat bahkan lebih mulia dari makhluk lain ketika takwa menjadi bekal utama dalam diri dan jiwa seorang mukmin.

Seruan takwa tidak pernah terhenti, terus didengungkan sebagai kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.  Selama ini manusia selalu menjadi pecundang karena sebab kelalaian akan dirinya sendiri yang berakibat pada penyimpangan pikiran serta kelemahan rohani. Pada akhirnya, penyimpangan-penyimpangan ini akan menciptakan kehancuran sebuah bangsa dan peradaban. Maka Ramadan merupakan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya untuk memerangi kelalaian dan mengubah kepribadian dan kesadaran orang yang beriman secara revolusioner sehingga naik menempati level super excellent yang disebut dengan taqwa.

Boleh jadi selama ini sebagian orang merasa berat menggapai takwa. Godaan hawa nafsu dan rayuan setan terus mengiringi langkahnya tanpa henti. Belum lagi beragam amal yang harus dijalankan kadang membuat manusia cepat lelah dan bosan. Di sinilah kasih sayang Allah menyapa hamba-Nya. Ramadan dihadirkan dengan beraneka kemudahan dan kemuliaan agar takwa lebih mudah diraih. Dengan kata lain, dari alasan-alasan klasik yang kerap dianggap menghalangi manusia menuju kebaikan, Allah membuka jalan yang efektif. Ramadan menjadi salah satu jalan paling mudah untuk menggapai takwa.

Godaan hawa nafsu akan sangat mudah dilunakan dengan ibadah puasa. Sementara itu godaan setan yang selama ini kerap memberatkan manusa dalam beribadah di bulan ini dibelenggu agar tidak leluasa menggoda hamba-hamba-Nya dalam meraih takwa. Selain itu kemalasan dan kebosan yang kadang datang, diobati dengan motivasi yang besar berupa dilipatgandakannya pahala kebaikan saat amaliah dilakukan. Belum lagi Allah menyediakan lailatul qadar, malam kemuliaan bagi mereka yang besungguh-sungguh berlomba-lomba dalam kebaikan. Keutamaannya tidak tanggung-tanggung, nilainya setara dengan ibadah seribu bulan.

Ketika puasa Ramadan ini dijalankan dengan baik maka takwa akan tersemat dalam diri manusia beriman. Sungguh prestasi yang amat luhur dan mulia di sisi Allah (Q.S. 49: 13), yang apabila dilakukan secara reguler tidak semua manusia mampu menggapainya. Namun karena kasih sayangnya kemuliaan takwa sangat mudah diraih di bulan yang khusus ini. Dengan raihan prestasi ini tentu kebaikannya akan kembali lagi kepada pemiliknya.

Selepas Ramadan, sebelas bulan ke depan manusia pasti dihadapkan dengan kesulitan hidup, finansial, problem diri, keluarga, pekerjaan dan urusan masyarakat. Bagi orang yang bertakwa masalah bukan untuk ditakuti tapi harus dihadapi. Ia yakin bahwa dibalik ujian dari Allah selalu ada kemudahan, rezeki yang tidak disangka-sangka dan jalan keluar dari berbagai persoalan. Maka hidup ini akan terasa lebih ringan dan bermakna. Bukan hanya untuk sebelas bulan ke depan, tetapi sepanjang hayat, hingga Allah menganugerahkan surga-Nya dan mempertemukan hamba dengan Sang Pencipta. Wallahu a’lam bish-shawab

*Penulis merupakan Dosen Prodi Eksyar FAI dan Ketua SPI Universitas Siliwangi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *